
Diandra dan Uno saling menatap sangat dekat. Detakan jantung mereka pun saling berkejaran. Uno tidak hentinya menatap Diandra dengan dalam.
"Apa sudah merasa nyaman?" Uno akhrinya mengeluarkan kata-katanya, meskipun tadi dia merasa sulit untuk mengatakan sesuatu. Uno benar-benar terpesona dengan wajah Diandra dari dekat.
"Sudah. Apa kamu tidak kedinginan dan tidak merasa keberatan karean tubuhku?"
"Berat, Sih! Tapi aku suka." Tangan Uno yang satunya malah melingkar di belakang pinggang Diandra.
Diandra merasa agak bingung, perasaannya tidak karuan, dia sebelumnya tidak pernah berada sedekat ini dengan seorang pria. Diandra.
"Diandra, apa kamu sudah punya kekasih?"
Diandra agak terkejut dengan pertanyaan Uno. "Kenapa kamu tanyakan hal itu lagi, Uno?"
"Aku hanya ingin tau, Diandra."
"A-aku--?"
__ADS_1
"Kamu belum punya kekasih, Kan?" Uno langsung memotong ucapan Diandra.
"Kenapa kalau aku belum punya kekasih? Apa kamu ingin mengolokku? Memangnya sangat menyedihkan, Ya, kalau gadis seusiaku belum memiliki kekasih?"
"Tidak. Aku malah senang kamu belum memiliki kekasih."
"Maksud kamu?"
"Jadilah milikku, Diandra. Aku mencintai kamu."
What!? Ini Uno lagi pusing kali. Dia kan tidak pernah menyatakan cinta duluan sama cewek, tapi kali ini dia mengatakan dia mencintai Diandra.
"Dengar aku dulu, Diandra. Aku tau, kamu pasti menganggap aku bercanda dan hanya main-main dengan ucapanku. Tapi kamu harus tau, Diandra. Ini pertama kalinya aku mengatkan cinta pada seorang cewek, karena bagiku, kata-kata seperti ini bukan main-main. Aku hanya mau mengatakan cinta pada seorang cewek jika aku yakin sama cewek itu. Dan itu kamu."
"Uno, apa kamu sadar dengan apa yang kamu katakan? Aku Diandra--gadis yang tidak bisa melihat."
"Kalau aku memperdulikan kekurangan kamu dari awal, dari sewaktu kita kecil, aku tidak akan menyukai kamu."
__ADS_1
"Apa!? Kamu menyukai aku dari kecil."
"Iya, lucu, kan? Aku sudah dari kecil sudah memiliki rasa suka sama seseorang. Dan itu, kamu." Uno menelungsupkan tangannya pada pipi Diandra, dan mengusapnya perlahan.
Diandra merasakan usap lembut tangan Uno. "Maaf, Uno, aku belum bisa percaya dengan semua yang kamu ucapkan, aku pernah percaya dengan seseorang, tapi ternyata hanya luka yang aku dapatkan."
"Cobalah percaya denganku sekarang, aku serius mencintai kamu Diandra, aku ingin mengatakan hal ini saat aku pertama kita bertemu saat kamu datang, aku mencoba meyakinkan lagi diriku, dan ternyata memang benar aku masih menyukai Diandra kecil dengan tubuh gendutnya itu."
"Uno." Entah kenapa, Diandra meraskan sesuatu di dalam hatinya, dia merasa jika apa yang dikatakan Uno ini benaran serius. Lagian Uno juga tidak punya motivasi untuk menjadikan Diandra kekasihnya. Tidak mungkin Uno mendekati Diandra untuk uangnya. Apa untuk mempermainkannya? Uno tidak mungkin sejahat itu. Itu sama saja dengan menyakiti hati kedua orang tuannya.
"Kamu sedang berpikir apa?"
"Aku tidak tau harus menjawab apa?"
Tanpa aba-aba dan ba-bi-bu- du-bi-du-bi-dam. Wakakka.
Uno mengecup bibir Diandra. Bibir yang dari tadi Uno sangat inginkan. Diandra meraskan bibirnya yang baru pertama kali di sentuh oleh seorang pria itu tampak mendelik dan merasakan, bibir Uno yang mengecupnya lembut, tak terasa Diandra pun melingkarkan kedua tangannya pada leher Uno. Bahkan dia meremas rambut Uno.
__ADS_1
Wkakaka terbawa suasana, emang suasannya mendukung juga. Dingin-dingin, dan Uno kan memang penuh pesona. Eh! Di terima gak, Ya?