Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Kejadian yang tidak Diharapkan


__ADS_3

Binna duduk saling berhadapan dengan Lukas. Mereka berdua menikmati ice cream layaknya sepasang kekasih. Lukas tampak bahagia terlihat dari wajahnya, sedangkan Binna tampak tersenyum walaupun hatinya rada takut, takut kalau ketauhuan dia keluar dengan Lukas.


"Binna, besok apa kamu ada keperluan? Kalau tidak, aku ingin mengajak kamu nonton. Kalau mau kita ketemuan di tempat latihan menari kamu. Kamu pasti tidak mau kalau aku ke rumah kamu."


Uhuk ... uhuk ...


Binna seketika terbatuk mendengar perkataan Lukas. Nonton bioskop? Lalu aku harus izin apa sama Kak Devon?


Lukas memberikan botol minumannya pada Binna dan menepuk-tepuk punggung Binna perlahan. "Hati-hati, Sabinna."


"Em ... Lukas. Maaf, aku tidak bisa pergi sama kamu. Di rumahku besok ada acara dari pagi. Aku juga mau membantu ibuku membuat masakan." Bohongnya Binna.


"Kamu mau belajar memasak? Itu keinginan yang bagus, karena kamu seorang wanita, jadi harus bisa memasak untuk suami kamu suatu hari nanti."


'Suami? Aku sudah punya suami, tapi aku malas memasak untuk dia. Malahan aku mau buatkan masakan yang bisa bikin dia sakit perut. Kalau perlu bisa membuat dia pingsan.'


Binna hanya nyengir. "Binna, apa kamu tidak ingin kuliah?" Cowok charming itu menatap ke arah Sabinna.


"Ku-kuliah?" Sebenarnya Binna ingin, tapi dia belum tau dapat izin tidak dari suaminya, mengingat suamianya yang agak bar-bar itu.


"Iya, kuliah. Kalau kamu mau kita bisa kuliah bersama, satu kampus denganku."


"A-aku belum memikirkan hal itu."


"Kamu bisa ambil jurusan multimedia, kamu sangat menyukai hal itu, kan? Aku juga, kita bisa satu kuliah lagi nantinya,"


Hem ... andai saja tidak ada cowok bernama Devon yang dijodohkan dengan dia, pasti impian indah Lukas, dan impian Binna juga akan menjadi kenyataan.


"Aku belum bilang sama ibuku, Lukas. Nanti saja aku bicarakan hal ini. Lagian kita masih baru lulus sekolah dan aku masih menikmati hari-hariku."


Binna mendelik saat tangan Lukas menyentuh tangan Sabinna yang ada di atas meja. "Aku benar-benar ingin bersama kamu, Binna. Dulu waktu kita masih sekolah, aku masih takut mendekati kamu lebih dari sahabat, karena aku tidak mau sekolah kamu terganggu, tapi sekarang kita berdua sudah lulus. Aku ingin bisa lebih dekat dengan kamu melebihi sahabat."


Deg ... Deg ...


Jantung Binna seolah tidak karuan, apa kali ini Lukas akan bilang dia mencintai Binna, dan ingin Binna menjadi kekasihnya? Hal itu tidak pernah Lukas katakan.

__ADS_1


"Lukas, ice cream kita sudah mencair." Binna menarik tangannya, dan menghabiskan ice creamnya. Lukas yang melihatnya tersenyum tipis.


***


Siang ini di kampusnya, Uno terburu-buru, bahkan dia tidak memperdulikan panggilan kakaknya Zia. Uno berlari membawa tasnya dan langsung masuk ke dalam mobilnya.


"Dia pasti mau menemui Diandra ke tempat di mana Diandra mengajar." Zia berdecak kesal.


Diandra barusan turun dari dalam mobil yang mengantarnya ke tempat dia mengajar musik. Saat supir pribadi keluarga Juna pergi. Tiba-tiba ada 2 orang yang menghadangnya. Mencengkeram tangan Diandra dengan kasar.


"Kalian siapa?" tanya Diandra cemas.


"Jangan berteriak! Serahkan saja barang-barang berharga kamu. Kalung, dompet, dan tas kamu."


"Aku berikan semua, kecuali kalung ini." Diandra memegang kalung pemberian Uno dengan erat.


"Kenapa memangnya? Itu pasti sangat berharga." Tiba-tiba salah satu dari mereka merebut kalung itu. Diandra berusaha mempertahankan kalungnya. Terjadilah adegan tarik menarik antara mereka.


"Tolong ... tolong!" teriak Diandra.


Salah satu dari mereka merebut tas milik Diandra. Diandra tidak peduli. Diandra masih kekeh mempertahankan kalungnya.


"Uno, sudah! Jangan bertengkar. Tolong ...! teriak Diandra sekali lagi.


Salah satu dari mereka berhasil mengambil kalung Diandra. "Kalungku!"


Uno yang melihat hal tersebut berusaha mengambil lagi kalungnya, saat sudah bisa merebutnya, salag satu perampok itu malah mengeluarkan pisau dan menusuk perut Uno.


Penjaga di tempat itu yang barusan datang segera menghampiri mereka saat melihat ada keributan.


"Tolong," rintih Uno kesakitan. Diandra yang mendengar suara kesakitan Uno berusaha mencari di mana Uno. Diandra sampai jatuh ke tanah meraba-raba mencari Uno. Diandra sangat kaget saat menyentuh cairan dari perut Uno.


"Uno, ini apa? Apa Ini darah?" Seketika Diandra berteriak dengan histeris meminta tolong. Para pengajar yang di dalam juga keluar melihat hal itu, dan mereka dengan cepat menolong mereka.


"Uno, bangun." Diandra menangis saat orang-orang di sana bilang jika Uno pingsan dan mengeluarkan darah akibat ditusuk oleh salah satu perampok itu.

__ADS_1


Mereka membawa Uno ke rumah sakit. Diandra di suruh menunggu di depan, karena Uno masih di periksa oleh dokter.


"Kamu tenang dulu, Diandra." Ibu pemilik tempat itu mencoba menenangkan Diandra.


"Bu, aku akan menghubungi Ibu Arana." Diandra mencari ponselnya yang dia masukkan di saku blazernya.


"Apa? Lalu keadaan Uno bagaimana, Diandra?" Seketika air mata menetes mendengar apa yang Diandra katakan.


"Aku belum tau, Ibu Arana. Uno masih diperiksa oleh dokter di dalam."


"Ya sudah, ibu akan menghubungi ayah Uno." Arana menutup panggilannya dan segera menghubungi Juna.


Di kantornya Juna sedang ada meeting penting. Arana menghubungi ponsel Juna, tapi ponselnya tertinggal di ruangannya. Arana menghubungi Wanda, dan Wanda sangat kaget mendengar kabar ini. Arana memaksa agar Juna menerima panggilannya.


"Wanda, cepat katakan pada Juna."


"Iya, Bu Arana."


Wanda segera keruangan meeting Juna, dia mengetuk pintu dan Juna agak sedikit heran dengan sikap Wanda.


"Maaf, Pak. Saya mau memberitahu kabar penting. Putra Pak Juna mengalami suatu insiden, dan sekarang di rumah sakit karena tadi berkelahi dengan perampok dan perutnya di tusuk oleh salah satu perampok."


Deg ...


Juna langsung berdiri dari tempatnya. "Kamu tau dari siapa?"


"Tadi, ibu Arana yang mengubungi saya."


"Meeting kita tunda. Tom, ikut aku." Juna dan Tommy langsung pergi dari sana


Di dalam mobil yang di setir oleh Juna, Tommy tampak khawatir karena Juna mengendarai mobilnya dengan cepat. "Juna, hati-hati, jangan cepat-cepat. Berpikirlah bahwa Juna baik-baik saja."


"Diam, Tom! Para perampok itu akan aku pastikan mendapat hukuman yang setimpal karena sudah melukai putraku." Kedua rahang Harajuna seketika mengeras.


Arana juga menghubungi ponsel Binna, tapi tidak bisa. Akhirnya menghubungi ponsel Devon. Devon mengatakan akan segera menjemput Binna dan ke rumah sakit di mana Uno di rawat.

__ADS_1


Devon segera menuju parkiran mobilnya setelah membereskan berkasnya. "Binna ini ke apa masih latihan? Kenapa ponselnya harus di matikan? Apa tidak bisa dibiarkan saja menyala?" ujar Devon kesal.


Kak Devon memutuskan langsung pergi ke sana saja.


__ADS_2