Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Jangan Menyentuhnya! Part 2


__ADS_3

Gadis dengan gaun berwarna hitamnya itu berdiri di depan Kak Devon yang sedang duduk.


"Hai, apa kamu yang bernama Kak Devon?" tanya gadis itu. "Perkenalkan namaku Cassandra, atau panggil aku Sandra saja." Gadis itu mengulurkan tangannya.


Devon hanya meliriknya, dia kemudian berdiri dari tempatnya. "Aku temannya Sabinna, aku juga teman satu kelompok tarinya, Binna pernah bercerita tentang Kakak. Kalian sahabat yang baik."


"Apa? Sabinna mengatakan jika aku sahabat baiknya?"


Gadis itu mengangguk. "Iya, dia bilang kalau kalian hanya sahabat dari kecil. Makannya aku mau supaya di kenalkan sama Kakak, dan aku kira Binna akan datang sendiri, padahal aku bilang ingin dikenalkan dengan Kakak supaya aku bisa datang ke acara prom night ini dengan Kak Devon."


Devon hanya tersenyum miris. Di tempatnya Binna yang tadi malah di dekati sekali lagi oleh Nico yang juga sedang mengambil minuman. Binna mukanya agak kesal dengan ucapan Nico barusan. Nico mengatakan jika Devon tidak pantas untuknya. "Lihat saja Binna. Cowok kamu itu terlalu posesif, kasihan kamu jika bersama dia, dan satu lagi, dia juga munafik."


"Maksud Kakak apa?"


"Lihat saja, dia tidak suka kamu di dekati cowok lain, tapi apa? Dia malah berkenalan dengan cewek." Nico menunjuk ke arah Devon yang sedang berbicara dengan Sandra.


"Itukan, Sandra," ucap Binna lirih.


"Sudahlah! Mending kamu sama aku, cowok dingin seperti dia tidak akan bisa menyenangkan kamu." Kak Nico malah mendekat ke arah Sabinna. "Kamu gadis yang menggairahkan, dan aku menyukainya."


Binna benar-benar jijik mendengar ucapan Nico barusan, dia langsung pergi dari sana dan kembali ke tempat Kak Devon.

__ADS_1


"Binna! Wah! kamu cantik sekali malam ini." Dia mendekat ke arah Binna. "Binna, aku sudah kenalan sama Kak Devon, dia tampan sekali jika di lihat dari dekat," bisiknya lirih.


Muka Binna tampak aneh. "I-iya. Kak Devon sudah kenal, Kan, sama Sandra?"


"Sudah, dia gadis yang menyenangkan. Kenapa tidak kamu kenalkan teman kamu ini dengan sahabat baik kamu? Aku pasti senang berkenalan dengan dia." Kak Devon menekankan kata-katanya.


Binna tampak tau maksud Kak Devon. "Kenapa kamu tidak bilang jika Kak Devon sudah datang, tau begitu aku mengajak Kak Devon datang ke sini bersama aku." Sandra ini termasuk gadis yang agresif. Dia suka langsung berterus terang.


Binna melihat ke arah Kak Devon. "Sandra, tadi kamu mengajakku berdansa, Kan? Bagaimana jika kita berdansa?"


Mata Binna seketika mendelik. Kak Devon mengambil minuman di tangan Sabinna dan menghabiskannya sekali teguk dan kemudian dia pergi berdansa dengan Sandra. Binna hanya tercengang di tempatnya.


Nah Loh ...!


Binna berjalan mendekati Kak Devon. "Kak Devon aku mau pulang, Kakak mau mengatar aku atau tidak?" Tanya Binna cepat.


"Kok pulang sih, Binna? Kan Acaranya belum selesai? Tanya Sandra yang tangannya masih menempel di pundak Kak Devon.


Kak Devon melepaskan tangan Sandra dan menggandeng tangan Binna, Devon mengajaknya pergi dari sana. Dan mereka menuju ke mobil Kak Devon. Dalam perjalanana mereka saling diam. Tidak lama terdengar suara isakan tangis Binna.


Devon menghentikan mobilnya dan melihat ke arah Binna. "Kamu kenapa?"

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa! Aku mau pulang, aku tidak mau bicara sama Kak Devon," ujarnya ketus.


"Ada apa, Binna? Memangnya aku salah apa?"


"Kak Devon sama saja seperti Kak Nico! Kalian menyebalkan!" Binna ini hatinya sudah kesal dan sakit hati sama tingkah Nico tadi, ditambah kayaknya cemburu lihat Kak Devon malah mengajak Sandra berdansa.


"Nico? Memangnya apa yang di lakukan Nico sama kamu?"


"Dia tadi bersikap kurang ajar sama aku di toilet, dan kata-katanya sangat menjijikan, dia ingin menjadikan aku kekasihnya karena dia sudah bosan sama Lila, dan karena dia bilang aku sangat menggairahkan baginya!" Binna lepas kendali mengatakan itu semua dengan emosi dan tangisnya.


"Apa?!" Devon sangat kaget. Dia meremas setir kemudinya dengan marah. Devon dengan cepat menyalahkan mobilnya dan memutar balik mobilnya, Devon mengendarai mobilnya dengan agak cepat. Binna yang di dalam mobil seketika panik.


"Kak Devon hati-hati." Binna memegangi lengan tangan Kak Devon, tapi Devon seolah tidak peduli. Muka Devon sudah berubah menyeramkan.


Devon ternyata kembali ke acara prom night itu, dia melihat Lila dan Nico yang berada di parkiran, Devon langsung turun dan dengan langkah cepatnya menghampiri Nico dan Lila.


"Kak Devon," sapa Lila dengan tersenyum.


Bruk ...


Nico langsung di tonjok oleh Kak Devon, dan tubuh Nico seketika jatuh tersungkur ke tanah.

__ADS_1


"Jangan coba menyentuh Sabinna, atau berimajinasi yang tidak-tidak padanya! Aku peringatkan kamu!" ucap Kak Devon dengan suara marahnya. Binna dan Lila tampak kaget melihat kak Devon semarah itu.


Besok author boleh libur ya nulis 😁


__ADS_2