Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Bayi Kecil


__ADS_3

Hari pernikahan tiba, semua orang tampak sangat bahagia terutama sang pengantin, walaupun menikah di luar negeri Mara tampak cantik dengan menggunakan kebaya pengantin yang dia rancang sendiri, bahkan semua


keluarganya dia yang menyiapkan semua bajunya. Tommy pun tampak gagah dengan


setelan jas pengantin berwarna silver.


Diandra tampak tersenyum duduk di samping sahabatnya Neil. Walaupun dia tidak dapat menyaksikan semua itu dia bisa merasakan kebahagiaan yang sedang terjadi di sana.


“Diandra, kamu cantik sekali hari ini,” puji Neil.


“Terima kasih, Neil.”


“Kamu juga sudah cocok menjadi seorang pengantin Diandra, kapan kamu akan memutuskan menikah juga? Kamu harus memikirkan masa depan kamu nantinya.”


“Aku masih belum memikirkan hal itu, Neil. Lagian aku juga belum memiliki pasangan yang tepat yang bisa menerima kekurangan yang aku miliki.”


“Kekurangan kamu itu adalah keliebihan dari diri kamu yang tidak terlihat. Kalau kamu mengizinkan, aku mau menikah dengan kamu,” celetuk Neil dan dia melihat ke arah Uno yang ternyata dari tadi melihatnya.


“Neil, jangan berbicara sembarangan. Bukannya kamu--.”


Neil sontak memegang tangan Diandra. “Kamu wanita yang berhak bahagia Diandra.” Diandra hanya terdiam dan Neil tersenyum pada Diandra.


Ada yang tersiksa hatinya melihat hal itu, tapi Uno tidak bisa melakukan apa-apa dia melihat ke arah kakaknya yang dari tadi duduk di


sebelahnya tanpa mau melepaskan pegangan tangannya.  Uno ingat kata-kata kakaknya waktu itu.


Pernikahan teleh terlaksana dengan baik, Tommy dan Mara sudah di sahkan menjadi suami istri sekarang, Diandra sangat senang dia memeluk mama barunya dan ayahnya. “Selamat ya, Tom.” Juna memeluk sahabtanya.


“Terima kasih, aku sekarang tidak sendirian lagi apalagi kamu sudah tidak bisa membuatku iri Juna.” Mereka berdua tertawa.


“Lalu kalian nanti akan berbulan madu di mana Paman Tommy?” tanya Zia.

__ADS_1


“Mungkin kita tidak akan berbulan madu, Zia. Kita akan di sini saja bersama dengan Diandra.” Mara memeluk Diandra.


“Sama seperti aku, sejak menikah dengan Uno aku belum pernah berbulan madu, tapi nanti setelah melahirkan kita akan merencanakan berbulan madu dengan bayi kecil kita, pasti sangat menyenangkan.” Zia tersenyum dan


memeluk lengan tangan Uno.


Binna yang melihatnya tampak kesal, di tau jika kakaknya Zia sengaja mengatakan hal itu. “Keterlaluan,” umpatnya lirih.


Hari itu mereka merayakan hari pernikahan Tommy dengan sangat meriah, Diandra sebisa mungkin menghindari Uno. Saat Diandra izin pergi ke dalam rumah untuk mengambil sesuatu, dia tidak sengaja tersandung sesuatu.


“Kamu tidak apa-apa?”


“Uno, kenapa kamu ada di sini?” Diandra berdiri dibantu oleh Uno.


“Aku tadi habis dari toilet, apa kamu baik\=baik saja?” tanya Uno sekali lagi.


“Aku tidak apa-apa, kamu jangan terlalu perhatian seperti ini. Uno, tolong jaga sikap kamu, aku tidak mau kamu dan aku mendapat masalah lagi apalagi nanti Kak Zia berpikiran buruk lagi denganku.” Diandra melepaskan


tangan Uno yang masih memegangnya.


Neil jika dia ingin menikah denganmu?”


Seketika pertanyaan Uno membuat Diandra ingin meneteskan air matanya. Entah kenapa ada rasa sakit di hatinya. Apa Uno tidak tau jika dirinya tidak akan mungkin bisa melupakan cintanya selama ini, tapi kenapa dia malah


mempertanyakam hal ini. “Mungkin aku akan menerimanya, Uno. Benar apa kata Neil, aku juga berhak bahagia nantinya.” Setelah mengatakan hal itu Diandra pergi dari sana dengan air mata yang tidak Uno ketahui.


Setelah hari pernikahan itu. Uno dan Diandra sudah tidak lagi ada komunikasi, semua kembali berjalan seperti biasanya, Uno dan Zia menjalani rumah tangganya dengan sewajarnya hanya saja mereka masih tidak pernah melakukan hubungan suami istri. Uno mulai menerima semua ini hanya hal itu yang


belum bisa dia berikan pada Zia. Hingga usia kandungan Zia sudah memasuki sembilan bulan, saat itu Zia sedang berada di rumah sakit karena dia akan melahirkan bayinya. Zia harus menjalani operasi dikaenakan plasenta bayinya di bawah.


“Uno, aku tidak mau mati, aku takut.”

__ADS_1


“Kak, kakak tidak akan apa-apa. Mereka adalah dokter yang ahli dalam hal ini, kakak jangan cemas begini, aku akan menunggu kakak di


sini.”


“Kenapa menjadi ibu hamil sangat membuatku menderita? Mulai dari aku tidak enak makan, mual-mual dan sekarang harus menghadapi persalinan seperti ini,” umpatnya kesal.


“Kakak jangan bicara begitu. Kakak harusnya bisa bersyukur kita diberi seorang bayi, bukannya kakak menginginkan juga bayi ini?”


Zia hanya terdiam dan di dalam hatinya dia sebenarnya berharap tidak hamil karena baginya ini sangat menyusahkan, tapi kalau tidak hamil anak ini Uno tidak akan bertahan dengan dirinya.


“Juna, apa semua akan baik-baik saja?” tanya Arana cemas.


“Semua akan baik-baik saja, Arana. Zia dan cucu kita akan baik-baik saja.” Juna memeluk Arana.


Binna di sana juga dengan Kak Devon. Binna juga ikutan cemas berharap kakaknya Zia dan bayinya akan menjalani operasi ini dengan lancar dan kakaknya serta bayinya sehat.


“Kak, apa operasi hamil itu menakutkan? Aku kok jadi takut.” Binna meremas tangan Devon khawatir.


“Aku juga tidak tau, Binna. Aku kan tidak pernah hamil,” jawab Devon ngasal.


Binna melirik pada suaminya. “Kalau kakak hamil berarti aku nikah sama cewek. Kak Devon ini ditanya malah jawabannya asal.”


“Aku kan memang tidak pernah hamil. Kamu jangan khawatir begitu, kalau kamu khawatir begitu yang ada malah kamu takut hamil.”


“Aku tidak takut hamil, aku mau punya anak yang lucu seperti Kak Devon.”


“Ya sudah, nanti kamu akan merasakan sendiri prosesnya, kamu tenang saja, aku akan menemani kamu selalu nantinya.”


Mereka semua menunggu di depan ruang operasi. Arana tampak sangat cemas sekali dia tidak hentinya berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar operasi. Walaupun Zia bukan anak kandungnya Arana sangat menyayanginya seperti anaknya sendiri, dia yang membesarkan Zia selama ini walaupun dia tidak tau bagaiaman sifat Zia sebenarnya.


Tidak lama dokter keluar dan memberitahu jika Zia dan bayinya sehat. Zia melahirkan seorang bayi laki-laki yang sangat tampan. Hayo! Anaknya siapa itu? Tampan loh.

__ADS_1


“Selamat Uno kamu memiliki seorang bayi laki-laki.” Juna memeluk Uno. Ada sesuatu yang Uno rasakan, antara bahagia dan dia sendiri tidak tau. Bayi itu di bawa oleh seorang perawat dan diberikan pada Uno. Uno membisikkan suara azan pada telingan bayi itu. Uno seolah ingin menangis melihat bayi kecil di hadapannya. Bayi itu terlihat sangat polos dengan kedua mata yang masih terpejam.


Maaf, ya Kak. Author lagi gak enak badan, anak author juga. Bisa up 1 bab dulu, sabar ya nanti author tamatin gak sampai pertengahan November kok.🙏


__ADS_2