
Uno naik ke lantai atas, dan saat dia sudah berada di rooftop, dia melihat kekasihnya itu sedang duduk di bangku santai berwarna putih dengan baju renang model one piece. Diandra duduk dengan menjulurkan kaki jenjangnya dan ada buku di tangannya.
Diandra membaca buku yang menggunakan hurif braile. Walaupun tidak bisa melihat, tapi Diandra suka sekali dengan membaca. Uno takjub melihat kekasihnya itu.
Cup ...
"Siapa?!" Diandra berjingkat kaget saat dia merasakan kecupan kilat dari seseorang.
"Halo, Sayang." Uno mencoba menenangkan Diandra yang seolah ketakutan.
"Uno! Kamu membuat aku kaget saja. Apa yang kamu lakukan di sini?"
Uno memeluk Diandra. "Maaf, aku membuat kamu terkejut."
"Aku benar-benar terkejut, Uno. Kamu kenapa bisa ke sini?"
"Aku merindukan kamu, kenapa kamu tidak pulang?"
"Besok, kan, kita ketemu? Lagian aku masih kangen sama nenekku dan tante Mara, di sini juga tempatnya sangat sejuk."
"Iya, tempatnya sangat indah, apalagi di tambah bidadari cantik dengan tampilan indah seperti kamu di depanku."
Diandra seketika terdiam. Dia akhirnya baru sadar jika dia dari tadi masih menggunakan bikininya. Dengan cepat Diandra menyilangkan kedua tangannya di depan.
"Uno, handukku mana?" tanyanya cepat.
"Kenapa bersikap begitu? Apa kamu malu denganku?"
"A-aku ...?"
"Aku kan sudah pernah melihat semuanya," bisik Uno mengingatkan tentang kejadian waktu itu.
"Kenapa mengingatkan kembali? Mana handukku?" Sekali lagi Diandra meminta handuknya.
"Tidak mau! Kamu lebih cantik terlihat seperti itu," jawab Uno santai.
"Uno! Aku kedinginan," rengeknya.
"Mau aku hangatkan?" goda Uno.
Seketika mata besar cantik Diandra membulat lebar. "Uno, kita di rumah tante Mara jangan bersikap yang aneh-aneh, Ya?" Diandra mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Kamu takut kalau kita ketahuan pacaran?"
"Kita, kan, memang sepakat untuk menyembunyikan hal ini."
"Iya, tapi kenapa sekarang aku mulai tidak nyaman dengan hal ini, aku ingin sekali mengatakan jika kamu adalah kekasihku. Supaya kita tidak perlu lagi diam-diam seperti ini."
"Jangan dulu, Uno. Biarakan aku bicara dulu dengan ayahku, walaupun ayahku mengenal kamu dan keluarga kamu, tapi ayahku itu sangat overprotektif jika sudah berhubungan dengan hal seperti ini."
Tangan Uno menelungsupkan jemarinya pada sela-sela rambut basah Diandra. "Aku tidak mau kehilangan kamu, Diandra." Uno ini seolah memang benar-benar serius dengan seseorang kali ini.
"Kamu tidak akan kehilangan aku, Uno. Kamu tau? Aku sepertinya juga mulai jatuh cinta sama kamu, aku merasa beberapa hari ini sangat merindukan kamu, saat kita tidak bersama."
"Aku tau itu." Sekali lagi Uno mengecup lembut bibir Diandra, mereka berciuman di sana.
"Diandra!"
Tiba- tiba terdemgar suara Mara yang naik ke atas. Diandra dengan cepat melepaskan ciumannya dan Uno dengan cepat memberikan handuk model kimono pada Diandra.
Mara agak curiga melihat gelagat mereka seperti orang sedang kepergok sesuatu. "Kalian kenapa?"
"Tidak ada apa-apa, Tante. Ini tadi aku sedang mencari handuk untuk Diandra karena Diandra kedinginan." Bohongnya Uno.
"Ya sudah, kamu cepat berganti baju, lalu kita makan sama-sama, Ya? Tante dan nenek tunggu kalian di bawah."
"Uno!" Diandra memukul pundak Uno kesal.
Uno sepertinya belum puas dengan ciuman mereka yang terputus. Uno menggandeng tangan Diandra dan mengajaknya turun.
Mereka makan siang bersama, setelah itu Mara mengajak Uno dan Diandra berbincang bersama.
Tidak lama ponsel Uno berdering. Cowok tampan itu melihat ada nama Zia di sana. "Saya permisi keluar dulu, ya?" Mara mengangguk pelan dan pergi dari ruang keluarga.
"Halo, Uno! Kamu di mana? Kenapa belum ke kampus lagi? Kakak pulangnya bagaimana?"
"Loh! Apa Kak Dion tidak mengantar kakak tadi?"
"Dia tadi menawarkan, tapi aku tidak mau. Aku bilang kalau aku menunggu kamu."
Uno menepuk jidatnya. Dalam hati Uno, kakaknya ini lama-lama kenapa seolah ingin membelenggu diri Uno?"
"Kak, apa Kak Dio masih ada di sana?"
__ADS_1
"Dia sudah pergi, aku tadi menyuruhnya pulang saja tidak perlu menunggu kamu datang."
Uno lemas sekarang. "Kak, aku tidak bisa menjemput, Kak Zia. Apa kakak tidak bisa naik mobil online saja?"
"Memangnya kenapa, Uno? Kamu ada di mana, Sih?"
"Aku sedang berada di tempat yang agak jauh. Jadi mungkin lama kalau ke kampus lagi."
"Tempat yang jauh? Memangnya kamu ini di mana, Uno?"
"Di rumah kekasihku," ucap Uno cepat, supaya tidak di tanya-tanya lagi.
"Apa?! Kamu di rumah kekasih kamu? Apa benar? Coba kita video call, kakak ingin mengenal kekasih kamu itu, dan kakak bisa menilai dia pantas buat kamu apa tidak."
Zia keponya mulai lagi.
"Tidak bisa, Kak. Kita sedang berkumpul dengan neneknya. Kak, sudah dulu, ya? Aku tidak enak kalau meninggalkan dia lama-lama. Kakak pulang saja naik mobil online. Aku minta maaf sekali sama kakak."
Uno dengan cepat memutuskan teleponnya. "Uno ... Uno!" teriak Zia marah, bahkan dia sampai membantig ponselnya di atas meja. "Uno bahkan rela ke rumah wanita itu, Uno juga sudah bertemu dengan keluarganya. Apa Uno serius dengan gadis itu?
Lagi-lagi Zia marah, dan kali ini meremas gelas minumannya yang terbuat dari plastik dengan sangat erat, sampai tak berbentuk.
"Aku harus mencari tau siapa gadis itu, aku tidak akan membiarkan dia mendapatkan Unoku! Uno hanya milikku!"
Zia mukanya kelihatan seram kalau sangat marah begini.
"Uno, siapa yang menghubungi kamu? Apa kekasih kamu?" tanya Mara saat Uno masuk ke kembali ke dalam rumah.
Uno melihat ke arah Diandra yang mukanya tenang. "Bukan, Tante. Itu tadi Kakakku Zia."
"Oh, Ya? Jadi, apa kamu sudah punya kekasih?"
"Aku sudah punya kekasih, dan dia sangat cantik, cantiknya hampir mirip Diandra," celetuknya.
"Kalau keponakanku Diandra memang tidak perlu diragukan kecantikan dan hatinya. Suatu saat tante berharap ada seseorang yang mencintai kamu dengan tulus. Dan kalau kamu menikah, tante akan mendesain baju pengantin kamu, Sayang. Hanya kamu yang akan memiliki baju pengantin indah itu."
"Tante, itu masih lama. Aku mau melihat Tante Mara dulu yang menikah dengan ayahku, lalu aku akan sangat senang saat aku menikah, aku bisa memiliki orang tua yang lengkap."
Seketika Mara tampak tersenyum yang di paksakan. Dalam hatinya, dia tidak mau berharap banyak akan impian seperti itu.
"Tante Mara kenapa?" tanya Uno yang melihat wajah tante Mara berubah tidak semangat seperti tadi.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Uno. Kalian bicara berdua dulu, tante mau ke kamar mandi sebentar." Mara beranjak dari tempat duduknya dan pergi dari sana.
"Uno, apa tadi tante Mara terlihat bersedih?" Tanya Diandra.