
Binna segera turun ke lantai bawah, dan membuka pintu untuk mama tia. "Mama, aku minta maaf sama Mama. Tadi aku sedang di kamar mandi."
"Ya ampun! Kamu benaran sakit?" Tangan Tia menempel pada dahi Sabinna.
"Aku tidak apa-apa, Ma."
"Iya, kamu tidak demam, tapi kata ibu kamu, kamu sedang sakit, dan lihat baju yang kamu pakai ini. Kamu pasti meriang, apa mau mama kerokin supaya lebih enakan."
"Tidak perlu, Ma." Binna mengajak mama dan tantenya Devon masuk ke dalam rumah.
"Mama tadi dengar dari ibu kamu, katanya kamu tidak bisa menjemput kakak kamu Uno karena sedang tidak enak badan. Jadi mama dan tante ke sini ingin melihat kamu."
"Maaf, Ma. Aku memang hanya sedikit meriang dan tiba-tiba kedinginan, jadi aku pakai baju sweter ini biar tidak kedinginan."
"Kamu sudah makan? Ini mama bawakan makanan, tapi maaf mama tadi membelinya di restoran. Mama tidak sempat masak."
"Binna, apa kamu hamil?" celetuk tantenya Devon.
"Apa? Tidak mungkin, Tante. Aku barusan menikah dengan kak Devon tidak mungkin aku hamil."
"Siapa tau. Mungkin pas selesai halangan kamu melakukannya jadi sekarang kamu hamil."
"Kamu itu, Von. Itu tidak mungkin, mereka barusan menikah, lagian aku juga percaya mereka selama dekat tidak berbuat aneh-aneh. Iya, kan Binna?"
Binna mengangguk cepat. Hamil bagaimana? mereka aja baru melakukan malam pertama.
"Atau Binna sakit karena kalian keseringan melakukan olah raga malam, Ya?" Ledek tante Vony, tantenya Devon.
Muka Binna langsung tegang. Dia mencoba memaksakan senyumnya. "Vony kamu itu memang ya!" Tia menggeleng-geleng tidak percaya dengan ucapan bar-bar adik iparnya.
"Enggak, Tante," jawab Binna lirih.
"Jangan dengarkan dia Binna, tante kamu ini memang kalau bicara ceplas ceplos sukanya."
"Hala! Kayak kamu tidak pernah muda saja, Tia." Wanita berkaca mata itu tersenyum.
"Ya sudah, kamu istirahat saja dulu, ini mama dan tante akan meletakkan makanan di dalam mangkuk."
Binna berharap semoga suaminya cepat datang, kalau tidak dia bisa bingung dengan semua ini.
Di rumah Uno. Dia sedang beristirahat dan Diandra pergi ke tempat mengajar musiknya dengan diantar ayahnya.
__ADS_1
"Yah, nanti kita jadi makan malam bersama tante Nina?"
"Iya, Sayang, nanti kita jadi makan malam dengam tanta Nina. Memangnya kenapa?"
Diandra terdiam sejenak. "Yah, apa ayah serius dengan tante Nina? Lalu, tante Mau bagaimana? Ya! Walaupun aku tau jika tante Mara sudah mengatakan tidak bisa hidup dengan ayah, tapi kenapa hatiku masih belum rela, Yah?"
"Ayah tidak menyalahkan kamu, Diandra. Ayah tau jika kamu sangat menyayangi Tante Mara, tapi jika nanti ayah benaran menikah dengan tante Nina. Ayah berharap kamu bisa menerimanya."
"Iya, Yah. Aku yakin pilihan ayah adalah pilihan yang baik."
Diandra akhirnya masuk ke dalam gedung musiknya dan berpamitan pada ayahnya.
"Maaf, ayah Diandra. Ayah sebenarnya juga sangat mencintai tante Mara. Namun, ada hal yang sedang tante Mara kamu sembunyikan dariku."
Tommy pergi dari sana, dia kembali ke kantor untuk menemui Juna.
Waktu berjalan dengan cepat. Malam itu Diandra sudah bersiap. Diandra dan Uno berpapasan di depan pintu kamar mereka.
"Diandra, kamu cantik sekali." Uno memandang Diandra dari atas sampai bawah.
"Uno, aku akan diajak ayahku makan malam untuk merayakan ulang tahunku dengan tante Nina."
"Kapan aku bisa mengajak kamu makan malam berdua romantis?"
"Ya sudah! Kalau begitu aku akan mengantar kamu turun ke bawah." Uno mengaitkan tangan Diandra pada lengan tangan Uno, dan mereka turun ke bawah.
Tommy, Juna, dan Arana yang melihat itu agak kaget. Uno dan Diandra malah seperti sepasang kekasih.
"Selamat malam semua. Ini aku membawakan putri Paman Tommy yang cantik turun." Uno memberikan tangan Diandra pada Tommy.
"Terima kasih Uno."
"Aku membantunya, karena aku takut dia terjatuh seperti dulu di anak tangga."
"Kamu cantik sekali, Sayang. Semoga makan malam kalian berjalan dengan lancar."
"Terima kasih, Arana. Ya sudah! Kita pergi dulu. Nina sepertinya sudah menunggu kita di restoran."
Diandra dan ayahnya berangkat ke restoran, dan ternyata Nina sudah tampak cantik duduk di sana, ada beberapa macam makanan di atas meja, dan juga ada kue ulang tahun di sana.
"Tommy, Diandra." Nina beranjak dari bangkunya dan dia memeluk Tommy dan Diandra. "Terima kasih sudah mau datang ke sini. Tante senang sekali melihat kalian ada di sini. Ayo silakan duduk!"
__ADS_1
"Tante Nina, selamat ulang tahun. Andai saja aku bisa melihat Tante Nina, pasti aku akan sangat senang sekali."
"Tidak apa-apa, Diandra. Tante sudah senang melihat kamu di sini, kamu cantik sekali malam ini."
"Terima kasih, Tante."
"Nina, ini ada hadiah buat kamu." Tommy mengeluarkan sebuah kotak kecil dan memberikan pada Nina."
"Ini apa, Tom?"
"Kamu buka saja, itu kado ulang tahunku untuk kamu."
Nina membuka kado dari Tommy. Sebuah kalung emas putih dengan liontin yang indah. "Ini bagus sekali kado dari kamu, Tom." Nina memeluk Tommy. "Diandra, coba kamu rasakan hadiah pemberian dari ayah kamu, ini cantik sekali."
Nina merabahkan tangan Diandra pada kalung pemberian Tommy. Diandra dapat merasakannya. Kalung dengan liontin berbentuk seperti bola.
"Iya, ini bagus sekali Tante Nina." Diandra tersenyum.
"Ya sudah! Kita makan sekarang, aku sudah lapar," celetuk Tommy.
Mereka bertiga makan malam bersama, tampak suasana hangat di sana. Tidak lama Nina melihat seseorang yang dia kenal.
"Tom, bukannya itu teman kamu, tante dari Diandra."
Nina menunjuk ke arah meja agak jauh dari meja mereka. Mara sedang menikmati makan malam dengan seorang pria.
"Iya, itu Mara."
"Apa ada tante Mara di sini, Yah?" tanya Diandra.
"Iya, Sayang, dia sedang bersama pria bernama Asta, pria yang ayah lihat waktu di butik tante kamu."
Tommy menatap dengan tatapan yang tajam, Tommy terus memperhatikan Mara dengan pria itu, mereka terlihat bahagia.
Nina berdiri dari tempatnya dan menghampiri meja mereka berdua.
"Selamat malam, Mara," sapa Nina.
Mara dan Asta melihat ke arah Nina. Mara tampak sedikit kaget dengan Nina yang ada di sana.
"Kamu, kan, Nina temannya Tommy?"
__ADS_1
"Iya, ternyata kamu masih ingat. Apa kalian sedang berkencan? Aku dan Tommy serta Diandra ada di meja sebelah sana, kalian kalau mau bergabung, silakan ke sana, kebetulan aku sedang merayakan hari ulang tahunku dengan Tommy dan Diandra."
Mara melihat ke arah meja Tommy dan Diandra. Di tempatnya Tommy sedang menatap Mara dari kejauhan. Pandangan Tommy tampak sangat tajam.