
Diandra yang sedang duduk itu agak terkejut saat mendengar sapaan dari dua orang, yang dari suaranya terdengar suara milik laki-laki.
"Hei, apa kamu sendirian di sini? Boleh, Kan, kita kenalan sama kamu?"
"A-aku, aku sedang menunggu kekasihku." Diandra terpaksa mengatakan hal itu karena dia takut.
"Kekasih? Mana dia?" Kedua orang itu celingukan mencari kekasih yang di maksud oleh Diandra.
"Dia sedang pergi sebentar mencari minuman." Diandra meraba mencari tongkatnya dan dia menegakkan tongkatnya, dia berdiri dengan meraba-rabakan tongkatnya. "Permisi, aku mau pergi dulu." Diandra ini benaran ketakutan.
"Kamu buta, Ya?" Salah satu dari mereka menyeletuk sambil tersenyum devil. Mereka berjalan menghampiri Diandra yang akan pergi dari sana. "Tunggu!" Tangan salah satu dari mereka menarik lengan tangan Diandra. Sontak membuat Diandra kaget.
"Aku mau pergi, lepaskan tanganku!" Expresi wajah Diandra sudah sangat ketakutan.
"Kami akan membantu kamu, kamu jangan khawatir. Kamu ini sangat cantik, bahaya kalau jalan sendirian."
"Iya, ikut kami saja. Ayo!" Mereka malah menggandeng tangan Diandra.
"Lepaskan! Aku sedang menunggu kekasihku." Diandra mencoba berontak melepaskan tangannya.
__ADS_1
"Lepaskan gadis itu," Suara bariton dari arah depan mereka. Uno yang sudah berdiri di depan mereka dengan kedua tangan membawa dua buah kelapa.
"Kamu siapa?"
"Uno, mereka tidak percaya kalau aku sedang menunggu kekkasihku, mereka malah mau membawaku."
Uno meletakkan dua buah kelapa di meja kayu yang ada di sampingnya. Dia berjalan perlahan menghampiri mereka. "Gadis ini kekasihku. Apa kamu tidak mendengar dia sudah mengatakan sama kalian?" Uno menarik tangan Diandra, Diandra memeluk Uno ketakutan.
"Kamu kok mau sama gadis buta itu? Jangan-jangan kamu hanya ingin bersenang-senang saja sama dia." Mereka berdua malah tertawa.
Bruk ...
Uno menghajar mereka berdua dengan bringasnya, darah Uno seakan mendidih mendengar kata-kata mereka tadi.
"Uno, sudah! Jangan bertengkar!" Teriak Diandra. Beberapa orang datang menghampiri mereka dan mencoba melerai mereka, tapi Uno tidak mau melepaskan salah satu dari mereka.
"Minta maaf sama gadis itu. Cepat!" Uno mencengkeram kra pria yang sudah menghina Diandra. Dengan terbata pria itu meminta maaf pada Diandra. Diandra berjalan meraba-raba mencari Uno. Uno yang melihatnya langsung memegang tangan Diandra dan membawanya pergi.
"Uno, kamu tidak apa-apa?"
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa." Uno mengajak duduk Diandra di tempat di mana tadi mereka duduk. "Kamu tunggu di sini, aku akan mengambilkan minuman yang tadi aku beli."
"Uno, jangan tinggalkan aku lagi." Diandra memegang tangan Uno erat.
"Tenang saja, aku tidak akan jauh dari kamu." Uno berjalan sebentar dan dia dengan cepat kembali dengan dua buah kelapa di tangannya. "Ini kamu minum dulu, itu es kelapa, kamu pasti suka." Uno memberikan satu buah kelapa pada Diandra.
Diandra meminumnya, dia jauh lebih tenang sekarang. "Uno, kamu benar baik-baik saja." Diandra meraba tubuh dan wajah Uno.
"Auw! Sakit!" Terdengar suara rintihan kesakitan Uno.
"Maaf, mana yang luka?" Tanya Diandra cemas.
"Pipi dan bibirku yang sakit, tadi sempat kena pukul, tapi tidak apa-apa, nanti juga sembuh."
Diandra merabah sekali lagi wajah Uno, dia mengusap bibir Uno, dan dia merasakan ada cairan agak pekat. Uno menatap lekat Diandra. "Bibir kamu berdarah?"
"Tidak apa-apa, Diandra, hanya luka kecil, sudah tidak terasa sakit karena usapan tangan kamu." celetuknya. Ini anaknya tuan vampire tetap aja masih bisa bercanda.
Maaf ya telat, walaupun weekend tetep aja rempong di rumah.
__ADS_1