
Sabinna dengan Kak Devon kembali ke ruang tengah, mereka semua berkumpul di sana, acara dilanjutkan dengan acara dansa bersama. Lila tampak sangat senang, dia ingin berdansa dengan pacarnya.
Mereka berempat turun ke lantai dansa. "Kak Devon, aku tidak bisa berdansa," ucap Binna lirih.
"Aku akan mengajari kamu. Sekarang letakkan tangan kamu di pundakku dan satunya di pinggangku." Tangan Kak Devon menelungsup pada pinggang Sabinna. Tubuh Sabinna di tarik lebih dekat ke arahnya.
Nico dan Lila melihat mereka berdua, wajah Nico tampak tidak suka. "Lihat itu. Mereka tampak sangat cocok, Kak Devon itu sangat mencintai Sabinna," ujar Lila senang.
"Muka es itu tidak cocok sama Sabinna. Sabinna kan anaknya lembut, cantik dan menyenangkan, dan calon suaminya itu tidak cocok sama dia," ucapnya kesal.
Musik mulai di putar dan mereka mulai dansanya, Binna mengikuti apa yang di instruksikan oleh Kak Devon, mereka berdua tampak menikmati acara dansa malam ini.
Beberapa menit kemudian musik berhenti dan mereka boleh berganti pasangan dansa. Nico yang tidak mau melewatkan kesempatan ini berjalan menuju Sabinna dan Devon.
"Kak Devon tadi dansanya bagus sekali. Apa kakak pernah berdansa sebelumnya?" tanya Lila.
__ADS_1
"Aku bisa sedikit Lila."
"Oh ya, Binna! Apa kamu mau berdansa denganku? Kita bertukar pasangan dansa, Lila bisa berdansa dengan kekasih kamu."
Binna terdiam dia melihat ke arah Nico dengan agak takut. "Iya, Binna. Tenang saja aku tidak akan mengambil pangeran bermotor kamu itu." Lila menyenggol lengan Binna bercanda.
Binna melihat ke arah Kak Devon. "Em ... Aku--?" Binna tampak bingung. Dia memegang menggenggam erat tangan kak Devon.
Devon merasakan genggaman erat dari tangan Sabinna. "Em ... Lila, aku minta maaf tidak bisa berdansa sama kamu. Aku mau mengambil minuman, dan maaf, aku juga tidak suka Binna berdansa dengan orang lain."
"Aku tidak takut, tapi aku tidak suka, gadisku di sentuh oleh pria lain," ucapnya tegas. "Lagipula, aku juga tidak akan membiarkan orang lain merebut milikku."
"Dia belum menjadi istri kamu, jangan sok memiliki. Binna saja biasa saja. Kasihan Binna kalau dia memiliki suami seperti kamu."
"Apa maksud kamu? Aku bisa membahagiakan Binna dengan caraku, tidak perlu kami ajari. Lagipula, kamu bisa berdansa saja dengan kekasih kamu, seharusnya kamu juga menjaga orang yang kamu cintai dengan sepenuh hati."
__ADS_1
"Em ... kalau begitu kita tidak usah berdansa, kita istirahat saja." Lila melihat ke arah Sabinna. "Em ... kita mau ambil makanan dan minuman dulu. Ayo Kak Nico." Lila mengajak Kak Nico pergi karena suasana tampak tidak enak.
Binna duduk di kursi yang hanya berisi dua orang, Binna melihati wajah kak Devon yang tampak kesal. Binna tidak berani mengeluarkan kata-kata sedikitpun.
"Kenapa aku merasa pria itu sangat brengsek!" kata-kata yang keluar dari mulut Kak Devon.
"Dia memang brengsek," celetuk Binna lirih.
Devon seketika melihat ke arah Sabinna. "Apa dia pernah berbuat hal tidak baik sama kamu?" Kak Devon menatap tajam pada Binna.
Binna tidak mau mengatakan apa-apa dari awal, dia hanya menggelengkan kepalanya lirih. "Kak, aku ambilkan minuman untuk Kakak, Ya?" Binna beranjak dari tempatnya dan menuju stand di mana banyak minuman berjejer.
Binna tampak memilih minuman untuk Kak Devon. Tidak lama ada seorang gadis yang menghampiri Kak Devon.
Author up novel ini jam 10 ya
__ADS_1