
Dua gadis cantik itu turun ke bawah. Mereka bergabung makan pagi dengan anggota keluarga lainnya. "Uno, kamu hari ini masuk kuliah?" tanya Arana.
"Iya, Bu, tapi aku nanti pulangnya tidak seperti biasa, karena akan ada acara, dan aku mungkin pulang agak malam."
"Di kampus kita, sebentar lagi ada acara bazzar amal, Bu. Jadi mungkin beberapa hari ini Uno akan sibuk di sana. Apalagi dia adalah ketua dalam acara itu," jelas Zia.
"Tidak salah mereka memilih kakak menjadi ketua? Mau jadi apa acara itu jika kakak ketua panitianya?"
"Lihat saja kemampuan aku nanti dalam mengatur acara itu," ucap Uno sombong.
"Kalian itu selalu." Arana menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Bagus kalau kamu bisa mengatur sebuah acara besar seperti itu. Suatu saat kamu juga akan bisa mengatur perusahaan ayah dengan baik."
Uno hanya melirik ke ayahnya sekilas. Dia tidak menjawab apa-apa, hanya melanjutkan makannya.
"Ayah, kemarin tante Mara mengirimi aku pesan, katanya nanti dia akan menjemputku ke sini dan mengajakku ke rumah nenek Kelli. Apa aku boleh ikut dengan tante Mara?"
__ADS_1
Tommy terdiam sejenak. Dia hanya bingung, kenapa Mara tidak memberitahu Tommy kalau mau mengajak Diandra?
"Diandra, bukannya kamu hari ini ada kelas di rumah musik?"
"Iya, Yah. Nanti tante Mara akan mengantarkan aku ke sana, dia juga nanti yang akan menjemputku. Ayah mengizinkan, Kan?"
"Iya, ayah mengizinkan kamu. Nanti ayah juga akan menghubungi tante Mara kamu."
Uno agak lega, sebenarnya dia dari tadi berpikir, niatnya dia akan menjemput Diandra pulang dari rumah musik, tapi kegiatan kampusnya sampai malam. Tapi setelah mendengar apa yang diucapkan Diandra, dia lega, karena tante Mara yang nanti akan menjemput Diandra.
Uno dan Zia izin pergi ke kampus. Sedangkan Juna dan Tommy pergi ke kantornya. Di mansion hanya tinggal Arana dan kedua gadis cantik itu.
"Memangnya kamu tidak suka di rumah sama Ibu?" Arana bertanya dengan memicingkan kedua matanya. Binna hanya cemberut. "Kamu kan bisa belajar memasak, dan berkebun serta mengurus rumah sama Ibu. Kamu kan sebentar lagi mau menikah, Sayang."
"Ibu ini, kenapa malah mengingatkan aku akan pernikahan?" ucapnya malas.
"Bukan mengingatkan, Ibu hanya berharap kamu bisa belajar dulu, daripada nanti kamu mendapat kerepotan."
__ADS_1
"Binna ini masih takut, Ibu Arana. Dia bilang dia sebenarnya belum siap menjadi seorang istri."
"Kamu tidak perlu takut, Binna. Ibu dulu waktu menikah dengan ayah kamu juga belum sepenuhnya siap. Tapi rasa cinta ibu pada ayah kamu yang menjadikan ibu siap menikah dengannya, karena ibu juga tidak mau kehilangan ayah kamu."
"Kisah Ibu sama ayah beda. Aku kan tidak suka sama kak Devon, apalagj kita barusan kenal. Lalu tau-tau harus menikah. Aku takut membayangkan berumah tangga dengan orang yang salah."
"Orang yang salah? Ibu ini tidak akan memilihkan kamu dengan orang yang salah. Devon itu anaknya tante Tia dan Ibu tau bagaimana sifat Devon."
Binna sebenarnya juga merasa Devon cowok baik. Dia beberapa kali menolongnya, bahkan sepertinya juga sangat mencintai Sabinna.
Arana melihat Sabinna yang terdiam, sepertinya dia merenungkan sesuatu. "Kamu mikir apa lagi? Dulu ibu sama ayahku juga tidak suka, dan lambat laun ibu mencintai ayah kamu karena kebaikan pengorbanan tulus yang ayah kamu berikan."
"Bukan itu, Bu," jawab Binna lirih.
"Lalu apa, Binna?"
"Malam pertama, Bu," ucap Binna lirih, sangat lirih, tapi Arana dan Diandra masih bisa mendengarnya. Mereka berdua langsung tertawa cekikian dengan pelan.
__ADS_1
Binna langsung cemberut melihat mereka berdua malah menertawakannya.
Nanti aku up lagi 1 bab