
Muka Zia tampak sangat kesal saat dia ternyata tidak bisa membuka ponsel Uno karena Uno memberi sandi pola pada ponselnya. Wakakka! Author mo ngakak.
Zia cepat-cepat meletakkan ponsel Uno, saat dia mendengar suara pintu kamar mandi dibuka.
"Kak Zia," ucap Uno terkejut. "Kenapa Kakak ada di sini?"
"Aku tadi mencari kamu, dan aku dengar kamu berada di dalam kamar mandi." Zia duduk di ranjang Uno.
"Ada apa Kakak mencariku? Mau bareng ke kampus? Kan nanti memang kita mau ke kampus sama-sama."
Zia memandangi tubuh Uno yang polos bagian atasnya. "Uno, Kakak mau tanya sama kamu."
"Tanya apa?" Uno mencari bajunya di dalam lemari.
"Kalau seumpama ada yang suka sama kamu bagaimana?"
__ADS_1
Uno menoleh pada kakaknya dan tertarik senyuman di sudut bibirnya. "Kakak sudah tau kalau aku sudah punya kekasih, Kan?"
"Kakak, kan, tidak tau kekasih kamu, lagian cewek ini pasti lebih cantik dan pastinya dia sayang sekali sama kamu."
Kedua alis mata Uno mengkerut. "Sayang? Memangnya ada? Seorang cewek yang tidak pernah dekat bahkan kenal bisa langsung sayang? Dia mungkin hanya mengagumiku seperti cewek lainnya."
"Bisa saja, kan? Dia sudah lama memperhatikan kamu, mungkin kamunya tidak sadar."
"Maaf, aku sudah tidak tertarik gadis lain. Bagiku kekasihku kali ini sudah sangat sempurna." Wajah Zia tampak di tekuk kesal. "Kak, apa Kakak tidak bisa keluar dulu? Aku mau berganti baju." Uno melihat ke arah Zia yang duduk di pinggiran ranjang.
Tanpa menjawab. Zia beranjak dan keluar dari dalam kamarnya. Uno melihatnya aneh, karena tumben sekali kakaknya mau memperkenalkan dia dengan cewek lain, biasanya kakaknya selalu tidak suka dengan pilihan Uno.
Uno segera mengganti bajunya dan turun ke lantai bawah untuk makan pagi bersama keluarganya. Di meja makan, Binna meminta izin untuk hari Minggu besok dia akan pergi dengan Kak Devon karena di undang oleh Lila. Arana mengizinkan karena Arana merasa Binna akan aman jika bersama Devon.
"Aku juga besok siang mau pergi, Bu, Ayah. Aku dengan teman-temanku ada urusan untuk acara bazzar amal di kampus. Boleh, Kan?" tanya Uno.
__ADS_1
"Kalian mau pergi semua? Ya sudah, ibu dan ayah mau berbulan madu saja. Kamu tidak pergi juga, Tom?" tiba-tiba tanya Arana.
"Kalian mengusirku?" celetuk Tommy. "Kalian tidak malu berkata mau berbulan madu? Kalian itu sekarang lebih pantas menimang cucu."
Seketika Binna langsung terbatuk kaget mendengar kata-kata paman Tommynya. "Hati-hati, Binna." Uno mengambilkan minum adiknya. Binna segera minum dengan cepat. "Kamu merasa, Ya, kalau Paman Tommy menyindir kamu," bisik Uno dengan tersenyum.
Binna melirik ke arah Uno, tentu saja dengan lirikann yang tidak enak. "Jangan meledekku, Kakak itu yang harusnya menikah duluan dan memberi cucu pada Ibu dan ayah."
"Aku? Kan yang menikah nanti kamu duluan, lagian aku belum tanya pada kekasihku."
"Siapa? Si buah Cerry? Kakak yakin mau menikah sama dia?" tanya Binna malas.
"Siapa yang mau menikah sama dia, aku sudah tidak sama Cerry. Kekasihku kali ini lebih cantik, dan kamu pasti menyukainya."
Uno dan Binna tidak tau jika dari tadi Zia memperhatikan mereka. Zia mencoba mendengarkan apa yang Uno bicarakan, dia ingin tau siapa kekasih Uno.
__ADS_1
"Memangnya siapa kekasih Kakak sekarang?" tanya Binna, tapi lagi-lagi Uno hanya memberinya senyuman.
Maaf, Ya, beberapa hari ini memang sibuk, Kak 🙏