Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Menunggu Seseorang


__ADS_3

Uno ini sebenarnya mau keluar mansionnya karena dia tadi mendapat pesan dari Cerry, Cerry menunggunya di luar, di dalam mobilnya, Cerry bilang dia ingin bicara penting dengan Uno. Uno pun akan menemuinya, karena tidak mau jika nantinya Cerry akan membuat masalah.


"Binna, masih sakit kakinya?" Uno naik anak tangga mendekat ke arah adiknya.


"Sedikit, Kak."


"Kenapa tidak digendong saja sama Devon kayak tadi?" Ini malah menggoda Binna dan melihat pada Devon yang menatapnya datar di tempatnya beridiri.


"Tidak mau!" Binna cemberut. "Aku tidak mau merepotkan orang lain," lanjutnya.


Uno yang tidak banyak bicara langung menggendong adiknya itu, terbitlah senyum di bibir Sabinna. Dia dengan senang mengalunkan tangannya pada leher kakaknya.


"Terima kasih, Kak."


"Menyusahkan saja, benar kata ibu, kamu seharusnya cepat menikah saja," celetuk Uno yang sekarang malah membuat Binna cemberut.


Uno membawa Sabinna ke ruangan dia mana para orang tua mereka berkumpul. Juna sedikit kaget melihat Binna digendong oleh Uno. "Kaki kamu masih sakit, Binna?"


"Tidak apa-apa, sih Yah. Ini tadi mungkin aku paksakan untuk turun tangga jadinya begini. Aku baik-baik saja kok, kalian jangan khawatir."


Tia melihat pada putranya yang berdiri dengan tatapan biasanya, si Devon ini hampir tidak memiliki expresi selain wajah dingin dan tenangnya itu. Padahal kalau senyum dia itu manis loh.


"Kamu kenapa tadi tidak membantu Sabinna Devon?" Tia menatap putranya kesal.


"Aku sudah menawarkan, tapi dia tidak mau, ya sudah." Devon menggedikkan bahunya pelan.

__ADS_1


"Iya tadi aku tidak mau, aku tidak mau menjadi anak manja dan menyusahkan orang lain, celetuk Binna.


"Tapi dia kan calon suami kamu, jadi kamu tidak menyusahkam orang lain, Binna." Uno mengedipkan salah satu matanya. Binna mendengus kesal.


"Uno!" seru Arana sambil mendelik pada putra gantengnya itu.


"Aku hanya bercanda, Bu. Oh ya bu, Aku mau keluar sebentar ada urusan penting." Uno berpamitan pada kedua orang tuanya dan keluarga Tia.


Uno tidak tau jika Zia mengikutinya, Zia penasaran kenapa malam-malam begini Uno keluar mansion tanpa kendaraan? Zia melihat adiknya itu keluar dari pintu gerbang besar mansion dan masuk ke dalam mobil mewah yang di parkirkan tidak jauh dari gerbang besar itu.


"Uno kenapa masuk ke dalam mobil itu? dia menemui siapa?" tanya Zia dalam hatinya.


Saat Uno masuk ke dalam mobil itu, tiba-tiba gadis yang dari tadi menunggunya di dalam mobil itu langsung memeluk Uno, bahkan dia sudah berpindah tempat duduk di pangkuan Uno, tanganny bergelayut pada leher Uno dengan mesra.


"Uno, aku merindukan kamu." Gadis cantik itu mengecup pelan bibir Uno, Uno yang sudah menganggap gadis di depannya itu hanya diam saja tidak mau membalas kecupannya. "Uno, kenapa kamu diam saja? apa kamu sudah tidak menyukai ciumanku?" tanya gadis itu dengan raut wajah sedih.


"Uno, aku tidak ingin kita putus, aku sangat mencintai kamu, kamu boleh minta apa saja sama aku, bahkan aku akan memberikan tubuhku untuk kamu, tapi aku tidak mau kita putus. Aku sangat mencintai kamu, Uno." Cerry memeluk Uno kembali lebih erat.


"Maaf, Cer. Sayangnya, aku sudah tidak mencintai kamu, lagipula kamu kan sudah punya pengganti diriku, kakakku melihat kamu dengan seseorang, dan kamu sangat mesra. Aku sih tidak cemburu, malahan aku akan membuat kamu bisa dengan bebas bersamanya."


"Apa? Seseorang? Aku tidak pernah punya hubungan dengan seseorang? Kamu jangan percaya dengan kakak kamu, dia itu pembohong. Entah kenapa kakak kamu ingin kamu dan aku putus, Uno. Sebelumnya dia pernah menemuiku dan menyuruhku memutuskan hubungan dengan kamu. Dia bilang kalau aku tidak pantas dengan adiknya, yaitu, kamu."


Uno terdiam. Dia hanya sedikit kaget, kenapa kakaknya sampai menemui Cerry? Kenapa kakaknya ini sampai ikut campur urusannya? Kak Zia tidak pernah seperti ini sebelumnya?


"Uno, aku sama sekali tidak pernah berselingkuh dengan siapapun, aku hanya mencintai kamu." Sekali lagi rahang tegas Uno di usap lembut oleh Cerry, gadis ini sepertinya benar-benar cinta mati sama Uno.

__ADS_1


"Cerry, sebaiknya kamu pulang dulu, besok saja kita lanjutkan pembicaraan ini, di rumahku sedang ada tamu penting kedua orang tuaku, dan aku tidak enak jika lama-lama meninggalkan acara itu."


"Baiklah." Gadis itu langsung menurut dan dia berpindah posisi, dia kembali duduk di kursi. kemudi. "Aku akan pergi sekarang, salam untuk ke dua orang tuamu." Cerry sekali lagi mengecup bibir Uno, kemudian Uno turun dari dalam mobilnya. Mobi mewah berwarna merah itu pergi dari sana.


Uno menatapnya berdiri dengan tegas di sana. "Apa benar yang dikatakan Cerry? kenapa kak Zia tidak bercerita jika dia pernah menemui, Cerry?" Uno berdialog sendiri.


Uno kembali masuk ke dalam mansionnya, di sana Uno langsung melihat ke arah Zia. Zia malah memberikan senyuman manisnya pada Uno.


"Tia, kamu jadi kan menginap di sini? aku sudah menyiapkan kamar untuk kalian," Terang Arana.


"Arana aku minta maaf, mungkin aku akan menginap di sini bulan depan, mamaku ingin aku tinggal di rumahnya dalam beberapa hari. Lalu aku harus kembali ke London. Suamiku-- Bryan mendadak ada urusan pekerjaan yang tidak bisa ditunda, dan Devon yang sebentar lagi akan menjalankan bisnis ayahku di sini harus mengurus kepindahan kuliahnya, jadi dia di sini bisa bekerja dan kuliah."


"Jadi Devon yang akan meneruskan bisnis ayah kamu?"


"Iya, Arana, ayahku sudah ingin berhenti mengurusi bisnisnya, dan kamu tau kan, aku anak tunggal sama seperti kamu, siapa yang meneruskan jika bukan cucu satu-satunya yaitu, Devon."


"Iya, Tia. Juna juga sudah mempersiapkan Uno untuk meneruskan bisnis keluarganya, tapi Uno sepertinya tidak tertarik, dia malah ingin bekerja sendiri dengan usahanya sendiri. Dia ingin membuka cafe, entah kenapa dia ingin sekali membuka bisnis kuliner."


"Biarkan saja, Arana. Itu berarti dia ingin mandiri dan kamu harus mendukung hal itu."


"Aku terserah dia, tapi kamu tau Juna, Kan? dia ingin putranya itu meneruskan bisnis Atmaja sesuai keinginan kakek Bisma."


"Kita biarkan saja nanti berjalan seperti apa, Arana. Ya sudah kami pulang dulu. Mereka semua berpamitan untuk pulang.


Devon mendekat menghampiri Sabinna yang duduk sendirian. "Aku mau izin pulang dulu, ssmoga kaki kamu segera baikkan." Tangan Devon mengulur pada Sabinna. Binna yang posisinya duduk hanya memandang uluran tangan Devon.

__ADS_1


Perlahan Binna mengangkat tangannya dan menjabat uluran tangan Devon. "Iya, pergi sana, aku senang kamu akan pulang ke negara kamu," ucap Binna lirih sambil tersenyum kecil.


"Jangan merindukan aku, karena sebentar lagi kita akan bisa selalu bertemu dan dalam waktu yang lama." Devon malam menyeringai.


__ADS_2