Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Bazzar Amal Dimulai


__ADS_3

Binna dan Kak Devon sampai di tempat buat galdi bersih. Di sana sudah terdengar lantunan musik piano yang di mainkan oleh Diandra.


Binna dan Devon bertepuk tangan. "Wah! Kakak Diandra hebat. Permainan piano Kak Diandra keren," puji Sabinna.


"Terima kasih, Binna. Andai aku bisa melihat kamu menari pasti akan sangat menyenangkan."


"Tarianku biasa saja, Kak. Tapi permainan piano Kakak patut diacungi jempol." Binna memeluk Diandra yang duduk di kursi tepat di depan piano.


"Ya sudah, kalian latihan sekarang saja," ucap Uno cepat.


"Kak, Kakak mainkan musik piano dari yang tenpo pelan dan nanti bertahap ke tempo yang cepat. Aku nanti aku mengikuti musik Kakak."


"Okay."


Binna sudah berada di tengah panggung. Diandra mulai menekan tuts piano yang berwarna hitam dan putih. Musik mulain di lantunkan perlahan, dan Binna mulai dengan gerakan tarinya perlahan-lahan. Dia mengangkat tangannya ke atas beberarapa kali sambil diliuk-liukkan.


Devon fokus memandang calon istrinya yang sedang menari itu. Matanya tak lepas dari gerakan Sabinna. Uno juga, dia sampai berpangku tangan melihat ke arah kekasihnya yang dengan keahlian jari-jemarinya menekan tuts piano dengan sangat lihatnya pada bagian musik yang mulai bertempo cepat.


"Menyebalkan! Mereka berdua sangat menyebalkan," umpat Zia kesal.


Tidak lama beberapa orang-orang yang ada di sana masuk ke ruangan itu melihat penampilan Diandra dan Binna. Mereka juga tampak terkesima.


"Zia, kamu di sini," sapa seseorang pada Zia. Zia menoleh dan dia melihat pria yang tidak dia sukai.


"Oh kamu, Dion. Ada apa kamu ke sini?"


"Aku mau melihat persiapan nanti malam, dan aku juga ingin bertemu dengan kamu."


"Bertemu aku? Memangnya ada perlu apa?"


"Soal skripsi kamu, apa kamu butuh bantuan? Aku bisa membantu kamu, kebetulan beberapa hari ini aku tidak terlalu sibuk. Jadi aku bisa membantu kamu."


Zia tersenyum terpaksa. "Tidak perlu, aku bisa mengerjakannya sendiri."


"Iya, kamu kan salah satu mahasiswi yang pandai di sini." Dion melihat sebentar penampilan Diandra dan Binna. "Gadis itu, kan, yang waktu itu diajak Uno makan ice cream. Kenapa dia ada di sini?"

__ADS_1


Jiah ...


Zia langsung menoleh ke arah Dion. "Jadi gadis itu yang kamu lihat di sana? Kamu yakin?" tanya Zia meyakinkan.


"Iya, dia gadis itu. Uno juga mengajaknya untuk ikut acara kampus ini?"


"Dia anak dari sahabat ayahku, dia seorang pianis di Kanada, tapi sayangnya dia buta,"


"Apa? Dia buta? Mana mungkin?" Dion tidak percaya."


"Dia tidak bisa melihat, Dion. Untuk apa aku membohongi kamu?"


Dion melihat tidak percaya pada Diandra. "Tapi waktu di cafe itu, aku lihat dia tidak tampak seperti gadis yang tidak bisa melihat."


"Kamu ke sana saja sendiri untuk memastikan." Zia mengajak Dion ke arah Uno dan Diandra serta Binna dan Devon yang sudah latihan.


"Diandra, kamu hebat sekali. Penampilan kamu benar-benar keren, dan Binna kamu juga keren," puji salah satu teman Uno tadi yang menggoda Diandra.


"Terima kasih, Kak."


"Kak Dion ada di sini?"


"Iya, Uno. Kebetulan aku sudah punyai pegawai tambahan di toko, jadi aku tidak terlalu sibuk. Oh ya! Maaf, waktu itu aku melihat kamu sedang makan ice cream dengan kekasihmu ini, tapi aku tidak mau mengganggu kamu, jadi aku tidak menyapa kalian."


Uno langsung melihat Diandra dan sebenarnya dia agak terkejut. Diandra mencoba bersikap tenang.


"Kekasih? Maaf, Kak. Kakakku Uno dan Kak Diandra bukan sepasang kekasih. Mereka berteman baik," jawab Binna, tapi Binna juga akhirnya penasaran sama mereka berdua.


"Iya, Kak. Waktu itu Uno kebetulan lewat di sekolah musik tempat aku mengajar. Aku ingin makan ice cream dan aku meminta tolong sama Uno, aku di sini, Kan masih baru. Jadi aku tidak terlalu tau tempat di sini," timpal Diandra.


"Oh begitu! Aku kira waktu itu kamu kekasih Uno. Lagian kalaupun kalian berpacaran juga tidak masalah, kalian cocok, kan?"


"Diandra itu bukan tipe Uno, Dion. Aku kakaknya sudah paham akan hal itu," jawab Zia dengan melipatkan kedua tangannya ke depan.


Diandra hanya terdiam mendengar apa yang di katakan oleh Kak Zia. "Sudah siang, lebih baik kita pulang saja. biar kalian bisa istirahat sebentar."

__ADS_1


Uno mengajak mereka pulang saja, karena Diandra supaya bisa istirahat untuk nanti malam.


Uno dan Diandra serta Kak Zia satu mobil, sedangkan Binna dengan kak Devon. Di dalam mobil Diandra yang duduk di belakang hanya diam saja. Uno sempat meliriknya melalui kaca depan yang ada di atasnya.


"Kamu kenapa, Diandra? Apa kaki kamu masih sakit?"


"Aku tidak apa-apa, Uno." Diandra tersenyum tipis.


"Kalau masih sakit kamu minum obat yang tadi diberi oleh dokter Dimitri, dan sebaiknya nanti malam tidak perlu ikut tampil dalam acara bazzar amal, kamu di rumah saja istirahat," jelas Zia.


"Aku tidak apa-apa, Kak. Kalau aku tidak jadi ikut, kasihan Binna. Lagian aku sudah baik-baik saja."


Tidak lama mereka sampai di depan masion kakek Bisma. Zia langsung turun dan masuk ke dalam rumah. Diandra berjalan perlahan.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Uno yang melihat kekasihnya itu sepertinya memikirkan sesuatu.


"Aku tidak apa-apa, Uno."


"Apa kamu memikirkan kata-kata kak Zia tadi di kampus?"


"Aku tidak memikirkan kata-kata kak Zia, Uno. Aku sudah percaya sama kamu. Walaupun kak Zia berkata aku bukan tipe cewek kamu."


"Lalu kamu memikirkan apa?" Uno melihat lekat ke arah Diandra.


"Tidak ada apa-apa, ayo kita masuk saja." Uno membantu Diandra berjalan perlahan-lahan.


Sebenarnya Diandra ini mau mengatakan jika dia tadi agak curiga sama kak Zia sola kursi yang di pegangi oleh Kak Zia. Diandra merasa jika kursi tadi sengaja di goyangkan oleh Kak Zia sehingga dia bisa jatuh.Tapi sekali lagi karena hati Zia yang sangat baik. Jadi dia tidak mau berprasangka buruk.


Binna dengan Devon masih di dalam mobil. Devon melihat aneh pada kekasihnya itu. "Kamu kenapa, Binna? Apa yang sedang kamu pikirkan?"


"Kak, kenapa aku merasa kalau kak Zia begitu ya sama kak Diandra. Benaran aku merasa tidak suka melihat sifat kak Zia seperti membenci kak Diandra."


"Mungkin tidak benci, Binna. Kenapa kamu membahas soal ini lagi? Biarkan saja. Jangan berprasangka yang tidak-tidak."


"Mungkin karena sifat kak Zia yang seperti itu. Cowok pada takut ngedeketin dia."

__ADS_1


"Kamu juga tidak punya pacar sebelumnya, Binna." Kak Devon melirik ke arah Sabinna.


__ADS_2