Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Muka Unyu


__ADS_3

Pagi itu terasa sangat indah bagi Sabinna, dia yang sudah bangun. Namun, dia enggan beranjak dari ranjangnya, dia masih sembunyi di balik selimutnya. Binna meihat wajah suaminya yang masih nyenyak tertidur, Binna tersenyum sendiri melihat wajah polos suaminya yang tampak unyu baginya.


"Pasti dia kecapekan, salah sendiri, kenapa mengajakku bercinta beberapoa kali? Ternyata dia yang kalah, aku tidak menyangka jika aku lebih kuat dari kamu." Telunjuk Sabinna menelusuri wajah Kak Devon perlahan-lahan. "Jangan menyalahkan aku jika hari ini Kakak tidak masuk ke kantor." Binna kemudian mengecup kecil hidung suaminya. Binna tampak sangat senang sekali melakukan hal itu.


Tidak lama ponsel Sabinna berdering, dan Sabinna agak kaget melihat nama Lukas pada layar ponselnya. "Lukas," ucapnya lirih. Binna bingung, dia melihat ke arah suaminya yang masih nyenyak tertidur. Binna perlahan-lahan bangkit dari ranjangnya dan dia mengambil bajunya yang berserahkan di lantai, memakainya sembarangan.


"Halo, Lukas, ada apa?"


"Binna, maaf, aku menghubungi kamu pagi-pagi begini. Aku sepertinya dalam beberapa hari ini tidak bisa bertemu dengan kamu. Aku harus pergi ke luar negeri karena keadaan mamaku ternyata ada masalah."


"Apa? Keadaan mama kamu ada masalah? Apa yang terjadi, Lukas?"


"Aku juga belum tau pasti, aku pagi ini akan pergi. Binna, aku minta maaf belum bisa memperkenalkan kamu dengan mamaku, tapi aku janji setelah semua baik-baik saja, aku akan datang untuk ,mencari kamu."


"Lukas, kamu jangan memikirkan hal ini, aku tidak masalah, yang terpenting keadaan mama kamu baik-baik saja. Sampaikan salamku pada mama kamu. Aku doakan semoga mama kamu segera pulih."


"Terima kasih, Sabinna. Mamaku pasti akan sangat senang saat dia bisa berkenala dengan gadis sebaik dan secantik kamu. Aku mencintai kamu, Binna."


"Em ...! Ya sudah Lukas, aku tutup dulu." Binna langsung mematikan panggilannya. Binna memeluk ponselnya sambil berpikiran sebentar.. Binna tampak kasihan dengan Lukas. Dulu dia selalu mendampingi Binna saat Binna sedang ada masalah di sekolah, bahkan Binna ingat, saat Binna lupa tidak membawa buku tugasnya, dia harus menjalani hukuman berdiri di depan kelas sampai mata pelajaran itu selesai, Lukas yang sebenarnya membawa tugasnya berbohong kalau dia tidak membawa tugasnya. Akhirnya dia ikut dihukum untuk menemani Sabinna.


Sekarang Lukas sedang mendapatkan musibah, dan dia sama sekali tidak berada di sampingnya. Binna menolah ke arah tempat tidur, dan Binna agak terkejut melihat ternyata Kak Devon sudah bangun dan duduk bersandar pada tepi ranjang melihat ke arah Sabinna.


"Kak Devon," ucapnya lirih.


Binna berjalan mendekat ke arah ranjang, dan dia naik kembali ke atas ranjangnya duduk bersila di depan suaminya. "Lukas yang menghubungi kamu?" Binna mengangguk. "Apa yang dia katakan?"


"Dia bilang jika dalam beberapa hari ini dia akan pergi ke luar negeri karena mamanya mengalami. masalah pada kesehatannya."


"Jadi kita tidak bisa bertemu dengan Lukas untuk menjelaskan tentang pernikahan kita?" Binna mengangguk. "Ya sudah kalau begitu, nanti saja kita tunggu dia sampai keadaannya baik-baik saja."

__ADS_1


"Kak Devon tidak marah? Cemburu?"


Kak Devon menggeleng. "Untuk apa aku cemburu, kamu adalah milikku, Binna, dan aku tau kamu mencintaiku. Aku mencoba mengerti perasaan kamu sama dia hanya sebatas karena kalian pernah berteman sangat baik."


"Ternyata suamiku sangat baik." Binna beranjak dan kembali duduk pada pangkuan suaminya, kedua tangan Sabinna melingkar pada leher Kak Devon. "Aku tidak menyangka suamiku akan seperti ini." Binna malah mencium bibir suaminya. Ini anak baru lulus SMA malah lebih pintar bersikap manis pada suaminya.


"Kamu jangan mendudukiku begini, nanti kalau ada yang bangun dan minta lagi bagaimana?"


"Ayo kalau mau!" Tantang Sabinna,


"Apa kamu serius?"


"Aku serius."


"Kamu tidak takut nanti hamil?"


"Tidak. Pasti menyenangkan jika aku jadi seorang ibu di usia muda."


Tok ... tok ...


Terdengar suara ketukan yang agak kencang dari lantai bawah. Binna menghentikan ciumannya. "Kak, sepertinya ada seseorang yang mengetuk pintu apartemen kita."


"Iya, sudah biarkan saja, aku tidak peduli, kita lanjutkan saja."


"Kakak, jangan begitu!" Binna beranjak dari pangkuan suaminya dan menuju arah pintu.


"Hei! Kamu mau ke mana, Sayang?"


"Mau turun ke bawah, aku mau melihat siapa yang mengetuk pintu."

__ADS_1


"Tidak boleh! Apa kamu mau  keluar dengan penampilan seperti itu?" Kak Devon beranjak dari tempat tidurnya, dia menggunakan celana pendek selututnya tanpa atasan. "Kamu di sini saja, biar aku yang turun ke bawah." Kak Devon turun ke lantai bawah dan dia ternyata yang tadi mengetuk pintu itu adalah penjaga yang bertugas di apartemen itu.


Penjaga itu memberikan sebuah kiriman untuk Devon dan istrinya, sebuah amplop berukuran sedang, berwarna coklat. "Ini apa?" Devon melihat bingung pada amplop coklat yang ada di tangannya.


"Kak Devon, siapa yang datang?" Binna memeluk suaminya dari depan, ini anak gadis malah manja terus sama suaminya.


"Tidak tau? Perasaan aku tidak pernah memesan sesuatu."


"Buka saja, Kak."


Kak Devon membuka amplop coklat itu, dan saat tau isinya, Binna seketika melepaskan pelukannya pada tubuh suaminya, dia melihati apa yang ada di dalam amplop itu. "Siapa yang mengirimkan foto-foto ini?"


"Binna, pasti Karla sengaja melakukan hal ini supaya rumah tangga kita berantakan, aku bingung dengan Karla, dia bilang dia mencintaiku, tapi aku tau, dia tidak akan berbuat seperti ini."


"Dia sepertinya benar-benar mencintai kamu, Kak Devon," Muka Binna sudah cemberut.


"Kamu terpengaruh lagi dengan semua foto ini? Binna, aku waktu itu mencium pipinya karena dia berulang tahun, dan itu biasa saja. Kita juga pernah berlibur ke pantai, kamu tau, kan? Kalau ke pantai itu harus memakai bikini, di sana juga ada kedua orang tuaku dan keluarganya, serta ada beberapa teman kita yang ikut. Jangan berpikir jika kita bersenang-senang berdua."


"Kak Devon menyobek-nyobek foto itu dan membuangnya di tempat sampah. Dia memeluk Sabinna yang terdiam di tempatnya. "Kenapa kamu diam? Bagaimana kalau kita mandi, lalu aku akan mengajak kamu makan pagi."


"Kak Devon tidak pergi bekerja?"


"Tentu saja aku akan pergi bekerja, kita masih ada waktu beberapa jam, lagian aku mau segera menyelesaikan tugas kantorku agar kita bisa secepatnya berbulan madu,"


Kak Devon mengangkat tubuh Sabinna ala bridal style dan dia membawa Sabinna naik ke lantai kamarnya untuk mandi bersama.


Binna ini kan memang rada sensitif, jadi perasaannya gampang berubah juga. Dia jujur saja kesal dengan foto-foto itu.


"Karla itu kenapa tidak membiarkan saja kita hidup bahagia?" gerutunya.

__ADS_1


"Biarkan saja, kalau dia melihat kita baik-baik saja dia nanti akan berhenti sendiri.


__ADS_2