
Binna melihat wajah Giza yang aneh saat dirinya menyebut nama Ken.
"Kamu calon istri Ken yang meninggalkan Ken karena kamu mengetahui Ken di vonis kanker darah, kan?"
"Apa? Ken divonis kanker darah? Maksud kamu apa, sih? Namaku bukan Giza. Aku Jessy, dan iya aku kenal dengan Ken, tapi dia bukan tunanganku. Aku sudah punya kekasih."
"Kamu Jessy? Lalu kenapa foto kamu ada di kamar Ken, dan dia bilang jika foto itu adalah foto Giza calon istrinya yang meninggalkannya karena Ken di vonis kanker darah."
"Ken pasti sedang mengarang cerita sama kamu. Aku bukan Giza, dan aku bukan calon istrinya Ken. Kita memang pernah terlibat suatu hubungan, tapi hanya beberapa hari . aku meninggalkannya karena aku tau dia tidak serius dengan hubungan kita."
"Apa? Kamu tidak berbohong, kan?"
"Tentu saja tidak. Untuk apa juga aku berbohong sama kamu. Eh, tapi kenapa kamu bisa kenal dengan Ken? Kamu bilang kamu sudah menikah? Apa kamu ada hubungan dengan Ken dibelakang suami kamu?"
"Enak saja! Aku dan suamiku malah kenal dengan Ken, dan karena ceritanya itu, aku dan suamiku merasa kasihan sama dia, tapi kamu serius, kan, kalau cerita Ken tentang kamu dan Ken itu tidak benar?"
"Tentu saja, tapi aku juga tidak tau apa maksud dia bercerita seperti itu sama kamu dan siami kamu."
Pelayana di mana Binna menunggu kuenya memberikan box kue milik Sabinna dan Giza atau yang bisa di panggil Jessy.
"Aku pergi dulu, Ya? Dan kamu harus mencari tau apa maksud dari Ken yang bercerita hal bohong sama kamu. Siapa tau dia menyukai kamu dan ingin mendekati kamu."
Binna terpaku berdiri di tempatnya, sedangkan gadis yang mengaku namanya Jessy itu.
Binna berjalan menuju ke mejanya dengan muka anehnya. "Kamu kenapa Binna?"
"Em ... aku tidak apa-apa? Kak, ayo kita pulang sekarang. Nanti malam kita kan mau di ajak sama Ken makan malam di tempatnya."
"Kan masih nanti malam, aku ingin mengajak kamu jalan-jalan lagi, aku ingin memberikan kamu sesuatu untuk menjaga diri, Binna."
"Sesuatu untuk menjaga diri? Memangnya Kak Devon mau membelikan aku apa? Golok?"
"Aahahaha! Memangnya kamu mau silat pakai bawa golok? Aku akan membelikan kamu sesuatu yang selalu di bawa oleh seorang wanita di dalam tasnya."
"Tapi kalau aku dikasi obat seperti waktu itu mana aku tau, dan tidak mungkin akan bisa melawan."
__ADS_1
"Makannya hati-hati, kamu harus selalu waspada di setiap tempat, dan kalau baru kenal seseorang, mau perempuan atau laki-laki harus selalu waspada.'
Binna mengangguk, dan mereka pergi dari sana. Kak Devon membawa Binna ke sebuah toko yang menjual alat seperti semprotan bawang yang biasa di bawa oleh setiap wanjta sebagai bentuk pertahanan diri jika ada orang yang ingin berbuat jahat.
"Kamu bawa ini terus, dan jangan sampai ketinggalan."
"Lalu Kak Devon bawa apa?"
"Aku tidak perlu alat-alat itu, karena aku bisa bela diri. Kamu lupa jika ada juara Taekwondo di Belanda, jadi aku hanya membutuhkan kedua tangan dan kakiku, itu sudah cukup."
"Hihihi!" Binna malah terkekeh?"
"Kenapa kamu malah tertawa begitu? Ada yang lucu?"
"Enggak, aku cuma membayangkan saja juara taekwondo aku ajari menari."
"Tidak apa-apa, itu artinya aku mencintai kamu makannya aku mau menuruti apa keinginan istriku tercinta."
Binna tersenyum, lalu setelah selesai mereka berbelanja, mereka berjalan menuju ke hotel mereka. Saat melewati kamar Ken, Binna kembali teringat dengan apa yang barusan gadis yang mengaku namanya Jessy itu katakan.
Binna nanti malam akan mencoba mencari tau tentang hal ini. Sebaiknya dia tidak menceritakan pada suaminya, karena Binna tau sifat suaminya itu.
Malam itu, kak Devon sudah menunggu Sabinna yang sudah siap. Kak Devon hanya menggunakan kemeja berwarna hitam tanoa dasi dan suit, serta celana panjang berwarna senada.
Sedangkan Binna memakai dress unformal berwarna mocca dengan panjang selutut dan ada ikat pinggang berukuran kecil berwarna coklat susu.
"Kamu cantik sekali, Sayang. Kita berangkat sekarang?" Binna mengangguk.
Ken mengundang mereka makan malam di dalam kamar Ken, dengan alasan supaya lebih akrab.
"Selamat malam, terima kasih kalian mau datang." Ken bersalaman dengan Devon dan Sabinna. Mereka berdua masuk ke dalam kamar Ken. Di sana sudah tersedia berbagai macam hidangan makanan, dan ada sebotol white wine di atas meja.
"Kita yang berterima kasih sudah kamu undang di sini."
"Silakan duduk. Aku senang sekali, setiap makan malam aku tidak sendirian lagi."
__ADS_1
Mereka duduk di meja bundar yang berukuran sedang. Ken menuangkan white wine ke dalam gelas Binna, Devon, dan Ken sendiri.
"Maaf, Ken. Aku tidak minum dan Kak Devon juga tidak. Kamu sendiri sedang sakit kenapa malam minum-minuman seperti itu?"
"Hanya malam ini, Binna. Lagian aku hanya ingin bersenang-senang sedikit saja sebelum aku tidak bisa menikmatinya." Ken menegak sampai habis white winenya.
Binna dan Kak Devon tidak mau minum itu. "Devon, kamu minum sedikit saja, tidak akan mabuk."
"Kak, Kita lanjutkan saja makannya." Potong Binna.
Ken yang tidak mau memaksa akhirnya mengajak mereka mulai makan bersama. Terlihat Ken dan Devon saling bercerita. "Kamu terlihat lebih baik sekarang, Ken."
"Iya, mungkin aku mau sedikit ingin menyenangkan diriku sendiri daripada harus terpuruk memikirkan tentang Giza."
"Itu baru pria sejati, aku yakin kamu pasti akan menemukan gadis lain yang bisa menerima kamu apa adanya. Kalau begini aku dan Binna akan tenang meninggalkan kamu."
"Meninggalkan maksud kamu?" Ken menghentikan gerakan makannya.
"Kita akan segera pergi ke Spanyol untuk melanjutkan bulan madu kita yang sesungguhnya."
"Oh! Begitu. Kalau begitu malam ini kita habiskan waktu kita bersama, kita bisa mengobrol sampai pagi hari. Anggap saja sebagai hari terakhir kita bersama-sama."
"Ken, tadi aku bertemu dengan seorang gadis yang wajahnya mirip sekali dengan Giza."
Uhuk ... uhuk!
Ken tiba-tiba terbatuk mendengar apa kata Binna.
"Kamu bertemu gadis mirip Giza? Di mana? Kenapa kamu tidak memberitahuku?" tanya Devon menatap ke arah Sabinna.
"Tadi waktu aku membeli kue blueberry itu, aku tanya apa dia Giza? Tapi dia bilang jika namanya Jessy." Binna melirik pada Ken.
"Mungkin memang mirip, karena tidak mungkin Giza ada di sini. Dia sedang ada di Singapura dengan kekasihnya saat aku menghubunhinginya."
"Tapi kenapa dia kenal sama kamu, Ken?" Binna seolah mencari tau tentang siapa Ken.
__ADS_1