
Binna celingukan mencari orang yang bisa dia tanyai. Tidak lama lewat seorang ibu-ibu dengan tas belanjaannya akan memasuki rumah yang tidak jauh dari rumah Lukas.
"Selamat siang, Tante. Boleh saya bertanya sebentar?" Tanya Binna sopan.
Wanita itu memindai Binna dari atas sampai bawah. "Kamu bukan orang sini, Ya? Mau tanya apa?" ucapnya ketus.
"Apa tante tau pemilik rumah yang di sana." Binna menunjuk rumah Lukas. "seorang cowok seumuran dengan saya, namanya Lukas, apa tante tau di mana dia? soalnya dua hari ini dia tidak masuk sekolah, dan saya tadi ke rumahnya, tapi sepertinya tidak ada orang."
"Saya tidak tau, karena rumah itu sering sekali sepi, hanya beberapa kali aku lihat seorang anak, ya, seumuran kamu masuk ke dalam sana sama seorang laki-laki paruh baya, mungkin ayah atau kakaknya, pria yang bersamanya itu masih terlihat gagah."
"Pria? Apa ayah Lukas? tapi bukannya Lukas itu hanya hidup dengan bibinya? dia bilang kedua orang tuanya sudah tidak ada?" Sabinna bingung.
"Kamu siapa? pacarnya cowok itu? sebaiknya kamu lupakan dia. Anak itu aneh, apalagi dia hanya datang denga pria yang pantas menjadi ayahnya, pria itu memperlakukan Lukas sangat lembut, bisa jadi mereka pasangan yang tidak benar," ujar wanita itu. Sontak saja kedua mata Binna membelalak kaget.
"Apa mungkin Lukas seperti itu? tidak mungkin, Lukas menyukaiku dan dia sangat perhatian denganku, dia pria normal." Sabinna berdialog sendiri.
"Kalau tidak ada yang di tanyakan lagi, tante mau masuk dulu, di sini panas," ucapnya kesal.
"I-iya, Tante, terima kasih." Binna berjalan pergi dari sana dengan pikiran yang tidak karu-karuan. Dia memikirkan tentang kata-kata wanita yang dia temui tadi, ini juga Binna bingung, sebenarnya Lukas ke mana? bahkan dia tidak mengikuti ujian terakhir mereka.
Binna menyusuri jalan yang sepi, walaupun siang hari, jalanan di sana sangat sepi. Apa mungkin karena masih jam kerja, atau masih jam orang-orang masih sibuk dengan kegiatan rutinnya.
"Eh, ada cewek cantik itu."
"Iya, sepertinya dia anak sekolah. Kita dekati saja dia, lumayan bisa menemani kita minum-minum di sini.
"Hei, dek. Lagi cari siapa? kok sendirian? pacarnya mana?" Tanya seorang pria dengan senyum iblis di wajahnya.
__ADS_1
"Sepertinya dia sedang sedih karena diputus oleh pacaranya, kalau kamu butuh seseorang, ini kakak mau menemani kamu," ucap lagi pria yang sekarang mempunyai rambut gondrong.
"Maaf, aku tidak kenal kalian, aku mau pulang." Binna mencoba menghindar. Tapi tiba-tiba tangan salah satu pria itu menarik lengan baju Binna, hingga robek dan terlihat tali bra berwarna merah. "Lepaskan!" Saat Sabinna mau berteriak, tangan orang itu menutup tangan Sabinna. Ada sekitar 3 pria yang membawa Sabinna, entah mau di bawa ke mana.
"Wow! sexy sekali, gadis ini sangat menggairahkan." Mata salah satu dari mereka menyalang.
Binna mencoba merontah-rontah dengan sekuat tenaga, tapi kekuatan dia jelas kalah dengan kekuatan ketiga pria tersebut. Saat mereka hendak belok arah. Tiba-tiba dihadang oleh motor seseorang.
Ya, cerita seperti ini memang sering ada, tapi readers semua nikmati saja ya, bacanya.
"Lepaskan dia," suaranya terdengar tegas.
'Kak Devon,' ucap Binna dalam hati. Air mata Binna sudah hampir jatuh saja.
"Kamu siapa? jangan ikut campur, atau kamu juga mau bersenang-senang dengan gadis ini? kalau mau tunggu kita selesai dulu."
Dua orang lainnya melepas Sabinna dan hendak memukul Devon, tapi Devon dengan cepat menangkis dan malah dua pria itu jatuh tersungkur. Ini para cecunguk tidak tau kalau Devon juara Thai Boxing di kampusnya.
Kedua orang itu berlari pergi meninggalkan temannya yang pertama kali dipukul oleh Devon. Devon mengampiri pria yang berdiri dengan sempoyongan itu. "Pria brengsek! berani kamu mengatakan kata-kata sekotor itu untuk gadis itu!"
Devon menonjok sekali lagi muka pria itu dengan keras, dan darah kembali mengalir. Aduh! itu muka yang sudah gak ganteng, tambah ancur sekarang.
Brak ...
Brak ...
Brak ...
__ADS_1
Devon seolah kehilangan kendali, padahal pria itu sudah meminta maaf sambil terbata-bata. Namun, Devon tetap tidak memperdulikan, dia tetap menendang-tendang pria itu. Binna yang melihat itu mencoba menghentikan, dia tidak mau kalau sampai pria itu mati di tangan Devon.
"Kak Devon, sudah hentikan!" Binna mencoba mengentikan Devon, Binna langsunga memeluk tubuh Devon, dan membawa Devon menjauh dari sana. Tidak lama datang seorang satpam yang sepertinya melihat keributan itu.
"Ada apa ini?" tanyanya kaget melihat ada pria bersimbah darah di bawa, dan Binna masih memeluk Devon.
"Pria brengsek ini sudah berani berbuat kurang ajar dengan calon istriku, dan aku menghajarnya sampai begitu, sebaiknya aku habisi saja kamu!" Bentak Devon marah.
"Sudah, Kak." Binna mendongak menangis melihat Devon.
Devon yang melihat hal itu sedikit terkendali, lalu dia juga melihat lengan baju Binna yang sobek. Devon memeluknya, mencoba menutupi tubuh Sabinna.
"Saya kenal pria ini, dia memang suka bikin masalah di sini, saya akan membawanya ke pos satpam. Apa anda bisa ikut saya ke pos satpam untuk memberi laporan?
Devon melihat Binna dalam keadaan seperti itu membuatnya langsung mengambil keputusan. "Maaf, urus saja dia sendiri, aku mau membawa calon istriku pergi dari sini, pastikan saja aku tidak melihatnya, atau aku akan menghabisinya." Devon memeluk Sabinna dan membawanya berjalan menuju motornya yang ditaruh seenaknya tadi.
"Kita pergi dari sini, Binna." Devon dan Binna naik motor, dan tanpa di suruh Sabinna memeluk Devon dari belakang, Sabinna menyandarkan kepalanya pada punggung Devon. Devon melanjukan motornya pergi dari sana.
Di atas motor mereka berdua saling diam tidak ada yang bicara. Sampai pada akhirnya motor Devon berhenti di suatu tempat yang seperti perbukitan yang sangat sepi. "Kita di mana, Kak Devon?" Tanya Binna perlahan.
"Bajumu sobek begitu, aku bingung apa harus membawa kamu pulang, bagaimana nanti perasaan ibu kamu. Aku juga sedang tidak memakai jaket, jaketku ada sama kamu."
"Aku membawa jaket, Kak Devon," ucap Binna lirih.
"Apa? kamu membawa jaketku?" Sabinna mengangguk perlahan. "Mana jaketku? kamu pakai saja itu."
Sabinna membuka tasnya dan mengeluarkan jaket milik Devon. Devon dengan cepat mengambilnya dan memakaikan untuk menutupi tubuh Sabinna. "Katakan? kenapa kamu bisa berada di tempat itu? tempat itu perumahan yang sepi."
__ADS_1
"A-aku tadi --." Sabinna bingung mau bilang apa? "Kak Devon sendiri, kenapa bisa ada di sana? apa Kak Devon mengikutiku?" Sabinna malah balik bertanya. Wakakka pengalihan pembicaraan yang pintar.