
Binna menatap curiga dengan Kakaknya dan dia berjalan menghampiri mereka. "Kak pacaran, Ya?" desaknya.
"Kami tidak pacaran, Binna. Tadi kakak kamu cuma membantuku," terang Diandra.
"Iya, kami pacaran, Binna," aku Uno.
"Uno!" Diandra melihat ke arah Uno.
"Biarkan saja dia tau, Diandra. Aku tau siapa Binna, bocah ini akan selalu mencari tau nantinya. Lagian apa salahnya kalau hubungan kita diketahui oleh orang lain?"
"Kok pacaran sih?" Muka Binna tampak kecewa.
"Memangnya kenapa kalau kakak kamu pacaran sama Diandra, Binna. Kamu, kan, sangat menyukai Diandra, dan akan lebih baik jika Diandra nanti menjadi kakak ipar kamu?"
"Kak Devon, kan, tidak tau siapa Kakakku Uno ini. Aku tidak mau Kak Diandra sampai kecewa nantinya. Sakit hati, dia pacarnya banyak suka berganti-ganti,"
"Kali ini tidak akan, adikku sayang." Uno mencubit pipi Binna.
"Aduh! Sakit, Uno!" Binna mengelus-elus pipinya yang terkena cubitan Uno.
"Kali ini aku hanya akan bersama Diandra, bahkan setelah lulus kuliah ini aku bersedia menikah dengan Diandra." Uno menelungsupkan tangannya mendekap Diandra.
Binna yang melihat melongo, dia tidak percaya kalau kakaknya ini mau insaf. "Kakak serius? Kamu benaran Kakakku Uno?"
"Iya, kenapa selalu tidak percaya kalau aku berbuat baik?"
"Hihihi! Habisnya, Kakak itu, kan playboy sejati. Kalau memang serius, kenapa tidak melamar Kak Diandra, setelah kalian menikah, aku akan menyusul kalian nantinya."
"Apa maksudnya itu? Mau mengundur pernikahan kita?" Devon memicing matanya. Binna yang melihat terdiam.
"Bukan seperti itu," ucap Binna lirih.
"Kalian berdua ini lucu. Nanti kalau sudah menikah pasti rumah tangga kalian jadi rumah tangga yang aneh. Kamu tenang saja, kalian menikah saja dulu. Aku nanti saja, setelah kedua orang tua kita mengetahui hubungan ini."
"Kalau begitu, aku saja yang bilang sama ibu dan ayah," sahut Binna cepat.
"Jangan, Binna! Aku masih belum mau mereka mengetahui hubunganku dengan Uno. Tolong, kamu dan Devon rahasiakan ini dulu. Bisa, kan, Binna?" pinta Diandra.
"Iya, Kakak Ipar. Aku tidak akan mengtakan apa-apa. Biar kalian sendiri nanti yang mengatakannya." Binna memeluk Diandra.
__ADS_1
"Kalian ini! Kenapa malah di sini, dan peluk-pekukan begitu." Tiba-tiba Arana ada di sana dan yang lainnya.
"Iya, ini ada apa, Sih?" tanya Juna.
"Em ... tidak ada apa-apa, Yah. Aku ingin memberi selamat saja sama Kak Diandra yang penampilannya tadi sangat memukau."
"Binna, di luar ada Lila, tadi dia mencari kamu."
Binna melihat ke arah Kak Devon. "Ada Lila, Bu?" Arana menganggukkan kepalanya. Binna langsung izin pergi dari sana, diikuti oleh Devon.
Binna melihat Lila berdiri di depan meja mereka. "Binna." Lila langsung memeluk Sabinna dan menangis.
"Lil, kamu ke sini sama siapa?"
"Aku sendirian. Kamu kenapa menangis?"
"Aku mau minta maaf sama kamu, karena kebodohanku menerima cowok itu, malah membuat kamu dalam bahaya." Lila menangis sedikit kencang.
Binna melihat ke arah Kak Devon. Kak Devon hanya terdiam. "Sudahlah, Lil. Ini semua bukan salah kamu."
"Apa kamu sudah tinggalkan cowok brengsek itu? Sebaiknya kamu pergi menjauh darinya, Lila. Kalau kamu masih bersamanya, itu berarti kamu gadis bodoh, dan aku tidak akan membiarkan Binna berteman sama kamu," ucap Devon tegas.
"Aku lebih baik menegaskan ini sama dia, Binna. Aku tidak mau kamu dalam bahaya lagi. Teringat kejadian waktu itu, ingin sekali aku habisi pria brengsek itu." Kedua rahang Devon mengeras.
"Kakak tenang saja, aku sudah memutuskan semua hubungan dengan Nico. Bahkan aku dengar, ayah kamu sudah bertindak kepada Nico dan keluarganya."
"Apa? Ayahku?" Binna tampak kaget.
"Iya, Nico di usir dari daerah itu bahkan ayah kamu tidak mau melihat Nico berkeliaran lagi. Ayah kamu benar-benar menyeramkan, tapi keren, Binna."
"Bagus kalau begitu?" celetuk Devon.
"Kak Devon ini! Apa yang ayahku lakukan, Lila? Apa ayahku melakukan hal yang buruk dengan Nico dan keluarganya?"
"Aku tidak tau, Binna. Sebaiknya kamu tanyakan saja sama ayah kamu."
"Kalau jadi kamu, aku tidak akan ikut campur dengan apa yang ayah kamu lakukan, Binna."
Binna melihat ke arah kak Devon. Dia kemudian mengangguk. Mungkin apa yang di katakan Kak Devon benar, aku tidak perlu bertanya pada ayahku.
__ADS_1
Malam itu berlalu dengan bahagia, kecuali buat Zia. Dia tampak kesal di ikutin terus sama Dion.
Hari-hari berlalu dengan cepat. Uno masih berhubungan secara sembunyi-sembunyi dengan Uno. Sedangkan Tommy dan Nina juga masih jalan, walaupun kadang Tommy masih diam-diam mengawasi kegiatan Mara.
Tommy beberapa kali mengetahui keberadaan Mara dengan seorang pria bernama Asta. Hari ini adalah hari bahagia buat Binna. Dia menerima rapot kelulusan, di sana dia diantar Kak Devon dan ada Lila juga sahabat Binna.
Binna lulus dengan nilai yang baik. Arana juga sangat bangga dengan prestasi putrinya.
"Selamat ya, Binna. Akhirnya sebentar lagi kita akan menikah," ucap Kak Devon.
Binna langsung mengerucutkan bibirnya. "Aku kira Kak Devon mau mengucapkan selamat atas prestasiku, eh! Ini malah mengingatkan tentang pernikahan."
"Memang hal itu yang aku tunggu selama ini. Kelulusan kamu dan pernikahan kita."
"Ih! Menyebalkan." Binna memukul-pukul lengan tangan Kak Devon. Lila dan Arana yang melihat tampak tertawa.
"Aku iri melihat kalian. Aku juga ingin menikah di usia muda. Tante, apa tidak ada satu lagi cowok seperti Kak Devon gitu?" tanya Lila sedih.
"Maaf, Lila Sayang. Stok cowok seperti Devon sudah tidak ada. Sahabat tante juga cuma mamanya Devon."
"Kamu juga ingin menikah dengan cowok seperti kak Devon, Lil?" Lila mengangguk. "Ya sudah, ini ambil. Aku tidak apa-apa," celetuk Binna.
"Apa kamu benaran mau memberikan aku pada Lila?"
"Iya, Binna. Jangan begitu, nanti kalau aku benaran ambil bisa nangis kamu semalaman."
"Binna! Kamu itu, jangan bicara seperti itu."
"Habis! Cowok pilihan Ibu ini menyebalkan, sok ganteng, sukanya bikin aku kesal."
Tiba-tiba Devon tanpa sungkan memeluk Sabinna dari belakang, dan menelungsupkan kepalanya pada pundak Binna. Kedua mata Binna melotot kaget.
"Memangnya aku bikin kesal kamu apa? Aku mau bikin kamu bahagia, kamu selalu menghindar," ucapnya lembut.
"Kak Devon, jangan begini. Ada Ibuku sama Lila, dan banyak teman-teman aku di sini," bisik Binna, dan Binna tampak risih dengan sikap mesra yang Kak Devon tunjukkan.
Arana tersenyum, melihat hal itu dia jadi teringat soal dirinya dan Juna dulu. Ternyata calon menantunya ini agak bar-bar juga.
"Aku gak mau lihat!" Lila langsung menutup matanya. "Kaliab bikin iri saja. Tante cepat nikahkan saja mereka."
__ADS_1
"Secepatnya, Lil," jawab Devon cepat.