
Pesawat mereka sudah mendarat dengan selamat ke tempat di mana Kak Devon mengajak Binna berbulan madu.
"Ini di mana?"
"Sudah, kamu ikut saja. Kita akan menginap di sebuah hotel yang sudah aku pesan." Kak Devon menggandeng tangan Sabinna. Mereka menaiki mobil yang disewa oleh Kak Devon. Mobil itu membawa Sabinna ke sebuah hotel yang sangat mewah.
"Kita akan menginap di sini?"
"Iya, kita akan menginap di sini." Tangan Sabinna di gandeng masuk oleh suaminya, mereka menuju bagian resepsionis dan resepsionis cantik itu berbicara dengan bahasa yang Binna tidak terlalu paham.
Binna hanya tersenyum saat wanita itu melihat Binna dan tersenyum padanya. "Ayo Binna, kita naik ke atas melihat kamar hotel kita." Binna mengangguk dan mereka naik ke lantai yang terasa sangat tinggi bagi Binna.
Ceklek!
Saat pintu kamar hotel di buka, mata Sabinna membelalak melihat isi kamar hotelnya. Binna sungguh di buat takjub dengan suasana kamar hotel di mana dia akan menginap.
"Ini kamar kita?"
"Tentu saja, Sayang. Apa kamu menyukaiinya?"
Binna tidak menjawab, dia langsung berkeliling di dalam ruangan, membuka setiap ruangan yang ada di sana. Kak Devon menutup pintu da. berjalan dengan tersenyum mengamati setiap gerakan istrinya.
"Kamar mandinya indah sekali, Kak. Aku bisa melihat pantai dari sini. Kak Devon benar-benar sukses membuat aku ingin menangis, ini indah sekali."
Kak Devon memeluk Sabinna dari belakang, dia mengecupi leher Sabinna beberapa kali. "Aku ingin benar-benar membuat kamu bahagia. Kamu bisa berendam bersamaku pada malam hari di bathub itu dengan disaksikan bulan yang sangat indah seperti impian kamu."
"Iya." Binna menengokkan kepalanya dan mengecup bibir suaminya. Mereka saling menautkan ciumannya disaksikan oleh pemandangan laut yang indah.
"Ya sudah sekarang kita makan dulu, kamu pasti lapar, aku sudah memesan beberapa makanan yang sudah di tatap di atas meja. Ayo kita ke sana."
Kak Devon menggandeng tangan Sabinna, mereka menikmati makanannya bersama.
Tidak lama ponsel Sabinna berdering, itu dari Lila. Lila mungkin ingin tau apa Sabinna jadi berangkat berbulan madu dengan suaminya.
__ADS_1
"Hai, Lil."
"Suara kamu terdengar senang sekali. Kalian jadi bulan madunya?"
"Tentu saja! Sekarang aku sudah dibawa oleh Kak Devon berbulan madu ke tempat yang sangat indah."
"Oh ya? Kalian ada di mana? Aku jadi pengen ikut."
"Enak saja ikut, kalau kamu ikut namanya bukan bulan madu, tapi camping."
"Hem .... Jahat! Apa kamu tidak kasihan, aku sendirian. Pacar tidak punya, sahabat malah pergi bulan madu."
"Nanti kalau aku nemu satu pria di sini yang menurutku dia baik dan cocok sama kamu, aku bakalan berikan nomor telepon kamu."
"Enak saja memberi nomor teleponku sembarangan pada orang yang nemu di jalan. Memangnya kucing," gerutu Lila di telepon. Binna malah terkekeh.
"Lalu kamu maunya apa?"
"Iya, nanti aku pikirkan, lagian kak Devon tidak memiliki saudara, sepupunya sudah nikah. Lagian kita nanti kuliah, siapa tau kamu ketemu dengan jodoh kamu di sana."
"Eh iya, kamu jadi kuliah, Ya? Aku ikutin kamu di mana kamu kuliah, ya?"
"Aku mau kuliah di kampus Kak Uno.
"Kampus kakak kamu yang ganteng itu? Ya sudah aku mau masuk ke sana," ucap Lila semangat.
"Dasar!"
"Eh suami kamu mana?"
"Kenapa sekarang kamu malah cari suamiku?"
"Aku mau bicara sebentar, jangan cemburu, aku sudah tidak tertarik dengan suami kamu, dia susah digoda cewek lain."
__ADS_1
Binna memberikan ponselnya pada kak Devon. "Halo, Lila."
"Kak, jangan lepaskan Sabinna ya, kalau bisa buat dia hamil setelah pulang dari bulan madu. Hihihi!" Lila terkekeh.
"Pasti, Lil. Kamu akan segera memiliki ponakan yang cantiknya sama persis seperti sahabat kamu ini."
"Eh! Jangan seperti Binna. Emaknya aja kadang nyebelin, kayak Kak Devon aja, diam, misterius, tapi baik."
Kak Devon malah tertawa sekarang, Binna mengerutkan alisnya melihat tawa suaminya itu.
"Kalian pasti membicarakan aku," sungut Binna kesal.
"Ya sudah! Aku tidak mau mengganggu kalian lagi. Sampaikan salamku pada Sabinna ya, Kak. Semoga kalian lancar bulan madunya."
"Terima kasih, Lila." Kak Devon memberikan lagi ponsel milik Sabinna.
"Dia bicara apa saja sama Kak Devon? Pasti membicrakan aku?" Binna mukanya tampak kesal.
"Sahabat kamu itu memang lucu, tapi dia baik sekali."
"Lila memang begitu. Dia baik, tapi kisah cintanya selalu menyakiti dia. Oh ya, Kak? Ini sebenarnya kita di mana sih?"
"Maldives, Binna."
"Apa? Jadi ini Maldives? Terang saja di sini indah sekali. Nanti kita keluar jalan-jalan sebentar ya, Kak?"
"Tentu saja, nanti kita belanja barang-barang kebutuhan kamu di sini yang tidak kita bawa."
"Aku mau lihat pantainya."
"Boleh, tapi tidak boleh pakai bikini, tidak boleh berenang, hanya bermain air saja boleh," ucapnya tegas
__ADS_1