
Tommy yang masih duduk di ruang tengah, dia masih bercerita tentang makan malamnya dengan Nina ini, wajahnya tampak kecewa.
"Lalu, apa besok kamu akan tetap bertemu dengan Mara? Bagaimana kalau dia menghindari kamu lagi. Tom?" tanya Arana.
"Aku akan tanyakan sekali lagi tentang perasaannya, dan kalau dia memang masih memberikan jawaban yang sama, aku akan mulai bertindak dengan caraku sendiri."
"Maksud kamu?"
Tommy tersenyum. "Aku akan melakukan apa yang harus aku lakukan."
"Melupakan Mara dan memilih bersama Nina?" Juna tersenyum mengejek, dengan tangan yang memegang cangkirnya.
"Kalian lihat saja. Ya Sudah! Aku mau ke kamar. Hari ini adalah hari yang melelahkan." Tommy beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju lantai atas kamarnya.
"Tuan Vampire, apa Tommy benar akan melupakan Mara dan dia lebih memilih Nina?"
"Tidak tau." Juna menggedikkan bahunya pelan. "Tommy kan beda denganku, kalau aku akan benar-benar mendapatkan orang yang aku cintai, jika memang aku benar-benar melihat cinta di mata wanita itu, seperti kamu."
"Memangnya kamu melihat cinta di mataku waktu itu?" Kedua alis Arana berkerut.
"Tentu saja, malahan sangat banyak, hanya saja kamu pura-pura menyebunyikan."
"Itu karena aku belum sepenuhnya yakin sama kamu. Aku kan masih takut sama kamu." Arana melirik Juna.
"Takut? Aku tampan, Arana. Dan banyak sekali wanita yang menggilaiku, dan kamu bilang takut denganku? Apa kamu tidak salah?"
"Hem ... kamu dulukan orangnya sangat dingin dan aneh, tapi setelah apa yang sudah kamu lakukan waktu itu, waktu kamu beberapa kali mengorbankan diri kamu, aku benar-benar yakin, kamu sangat takut kehilangan aku."
"Dan sekarang kamu sangat mencintaiku, Kan?
"Sangat tuan vampire." Arana memeluk Juna erat, bersandar pada dada Juna.
"Ya sudah, sekarang kita ke kamar, ayo kita buatkan anak-anak kita adik kecil yang baru." Juna seketika menggendong Arana ala bridal style.
"Juna! Jangan berpikiran yang aneh-aneh, ya! Arana berteriak kegelian. Namun, Juna malah tidak memperdulikan, dia malah membawa Arana naik ke kamar.
Di kamar Binna, dia yang dari tadi berbolak-balik di dalam selimut. Dia sangat gelisah, dia masih memikirkan masalah tentang kejadian tadi. "Haduh! Bagaimana ini? Kalau kak Devon besok mengatakan jika dia ingin membatalkan perjodohan ini, aku harus bagaimana? Ibu dan ayah pasti akan bertanya padaku?"
__ADS_1
Binna kembali menutup kepalanya dengan selimutnya. Tidak lama ponsel Binna berbunyi, ada pesan masuk di sana. Binna membukanya dan dia membaca pesan yang datang dari Lila.
Lila mengatakan jika dia ingin bertemu dengan Binna besok di cafe langganan mereka. Lila ingin tau apa yang sebenarnya terjadi dengan semua ini.
"Hah?! Aduh ... bagaimana ini? Apa memang aku harus mengatakan yang sebenarnya pada Lila? Tapi Lila harus tau semua ini, dia harus tau sifat dari kekasih itu. Walaupun nantinya akan membuat Lila sedih, Lila harus menjauh dari pria tidak baik seperti itu."
Binna menjawab pesan Lila. Dia mengatakan akan bertemu dengannya besok jam 10 pagi.
Pagi itu, mereka semua sarapan pagi bersama di meja makan, kecuali Uno. Binna mengatakan dia meminta izin pada kedua orang tuanya untuk keluar bersama dengan Lila. Arana mengizinkan, asal nanti Binna mau diantar oleh supir.
"Uno mana? Kenapa dia belum turun?" Arana celingukan mencari putra sulungnya itu.
Tidak lama Uno turun, hari ini penampilan Uno snagat berbeda, semua yang di meja makan kecuali Diandra menatap dengan mata membulat melihat Uno.
"Pagi semua," sapanya. Dia duduk di tempatnya sebelah Zia.
"Apa kamu Kakakku?" celetuk Sabinna.
"Tentu saja aku kakak kamu, kamu pikir aku siapa?" Binna malah terkekeh. "Jangan tertawa seperti itu anak kecil." Uno melempar serbet makan pada Binna yang duduk di depannya.
"Kamu tampan sekali, Uno, tapi dasi kamu kurang rapi." Zia dengan senangnya membetulkan dasi yang di pakai Uno. Arana memperhatikan sikap Zia.
"Uno hari ini akan pergi ke kantor dengan ayah dan paman Tommy. Mau tidak mau, dia harus mulai belajar menjadi seorang pebisnis."
"Ayah jangan menyalahkan aku jika nantinya aku malah membuat ayah repot."
"Tenang saja, nanti paman akan membantu kamu," jawab Tommy.
"Ayah, apa boleh aku nanti ke kantor dengan membawa mobil sendiri? Aku sudah lama tidak mengendarai mobil pemberian ayah itu?"
"Tentu saja. Kalau begitu ayah berangkat dulu dengan paman Tommy karena ayah ada rapat dengan Fabio."
"Fabio?" Arana langsung melihat ke arah Juna.
"Sayang, aku dan Tommy berangkat dulu, nanti aku ceritakan semua sama kamu." Juna mengecup pipi Arana dan mereka berdua pergi dari sana. Arana terdiam di tempatnya
"Uno, kalau begitu tolong antarkan kakak ke kampus, Ya?" Zia berkata dengan senyuman manis pada Uno.
__ADS_1
"Bukannya mobi Kakak sudah selesai di perbaiki? Aku melihatnya di depan."
"Ayolah! Kakak malas mengemudi."
"Ya sudah kalau begitu."
Uno pergi mengantar Zia ke kampusnya, sedangkan Binna dan Diandra menghabiskan waktu di rumah bersama Arana. Hari ini Diandra akan mengajar musik siang hari, jadi pagi ini mereka akan menghabiskan waktu bersama.
"Kak, apa kakak nanti mau ikut aku ke cafe langganan aku? Aku mau jalan-jalan dengan temanku."
"Tapi bisa, Binna. Aku nanti siang mau mengajar musik dan ini hari pertama aku mengajar."
"Nanti kan Kakak bisa diantar supir langsung ke tempat kakak mengajar kalau sudah waktunya. Daripada kakak di rumah sendirian."
"Aku tidak sendirian, kan ada Ibu Arana, aku mau belajar memasak sama Ibu Arana."
"Oh ya sudah kalau begitu."
"Binna, apa kamu mau menceritakan tentang acara prom night kamu malam itu sama kakak? Aku ingin tau bagaimana serunya menghadiri acara seperti itu. Aku kan tidak pernah datang ke acara seperti itu." Binna dan Diandra sedang duduk di atas ranjang milik Diandra.
"Acaranya sebenarnya sangat menyenangkan, tapi--."
"Tapi kenapa? Apa ada masalah?" Diandra memegang tangan Sabinna.
"Ada masalah, Kak. Dan kemarin sampai membuat aku tidak bisa tidur."
"Apa mau bercerita sama kakak?"
Binna kemudian bercerita tentang kejadian malam prom night itu. Diandra mendengarkan dengan fokus.
"Apa cowok yang akan dijodohkan sama kamu itu akan memutuskan hubungan perjodohan ini?"
"Tidak tau, Kak. Aku benaran bingung, ibu dan ayah pasti kecewa sama aku."
"Tapi apa itu memang yang kamu inginkan? Bukannya kamu memang dari awal tidak menerima perjodohan ini?"
"Iya, Kak, tapi aku sudah janji waktu itu sama Ibu kalau Lukas tidak datang aku akan menerima perjodohan ini. Jika kak Devon datang dan menceritakan semua kejadian malam itu. Ibu pasti kesal dan marah sama aku." Binna tampak bingung.
__ADS_1
Diandra malah tersenyum. "Kakak tau, kamu mulai suka sama cowok yang akan dijodohkan sama kamu, Ya? Kamu takut kehilangan dia?" Diandra menggoda Binna.
Besok ada yang jadian, Tungguin aja.