Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Kekesalan Binna Dan Keingintahuan Zia


__ADS_3

Devon mengambil ponsel dari tangan Karla. Karla yang penasaran tidak mau keluar dari kamar Devon, dia ingin mendengarkan apa yang Devon dan calon istri yang baginya menyebalkan itu bicara.


"Halo, Binna, ada apa?"


"Kak Devon Minggu besok tidak ada acara, kan?" tanya Binna dengan nada ketus.


"Aku tidak ada acara, memangnya ada apa?"


"Kakak yakin? Apa Kakak tidak ada acara kencan dengan teman tidur Kak Devon itu?"


Devon di tempatnya mengerutkan dahinya. "Teman tidur? Maksud kamu siapa, Binna?" Devon melihat ke arah Karla yang berbaring santai di atas ranjang Devon.


"Sudahlah! Tidak perlu di bahas. Lila Minggu besok mengadakan pesta ulang tahun, dan dia menyuruh aku mengajak Kak Devon untuk hadir di hari ulang tahunnya, tapi kalau tidak bisa juga tidak apa-apa, mungkin Kak Devon sibuk," nada suara Binna masih tampak ketus.


"Aku bisa, Binna. Aku akan menemani kamu."


"Ya sudah! Hari Minggu besok Kak Devon bisa ke rumah jam 7 malam."


"Iya, aku akan menjemput kamu."


"Selamat malam."

__ADS_1


"Binna, tunggu."


"Hem ...!"


"Apa kamu marah lagi sama aku? Kenapa Nada bicara kamu kesal begitu?"


"Aku tidak kesal, aku hanya sedang bad mood hari ini."


"Memangnya, apa saja yang dikatakan Karla sama kamu?"


"Kenapa tanya aku? Tanya saja sendiri sama Kak Karla. Sambil tidur berdua."


"Binna!"


Binna dengan cepat memutus panggilan teleponnya. "Aku benci sama kak Devon! Aku kira cowok yang akan di jodohkan denganku orang yang baik, tapi ternyata dia cowok yang tidak baik," ujar Binna kesal.


Devon melihat ke arah Karla, dia duduk di samping Karla yang sedang tengkurang dengan memainkan ponselnya.


"Kamu bilang apa sama Binna, Karla?" Devon menyaut dengan kasar ponsel Karla.


"Aku tidak bilang apa-apa, aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya."

__ADS_1


"Hal sebenarnya apa?"


"Hal sebenarnya, kebiasaan apa saja yang kita lakukan di Belanda. Dia tadi bertanya, kenapa aku bisa malam-malam berada di rumah kamu. Aku bilang saja jika aku memang menginap di sini, lagian aku juga sering tidur satu ranjang sama kamu," terangnya santai.


"Kenapa kamu malah mengatakan hal seperti itu, nanti Binna berpikirnya aku dan kamu sudah pernah berbuat hal di luar batas."


"Dia bodoh berarti, pikirannya terlalu kecil. Ya makhlum, dia gadis polos yang tidak tau pergaulan yang luas seperti kita."


"Keluar dari kamarku," usir Devon dengan tegas.


"Devon," ucapnya manja. "Aku ingin tidur di sini, aku kangen sama kamu," rengeknya.


"Sejak kapan kita tidur satu ranjang? Kita hanya tidur satu ranjang saat kita saling berbicara, dan itu hanya sebatas sahabat. Bukan karena kita ada hubungan istimewah. Sekarang keluar dari dalam kamarku."


Karla bernanjak dari ranjang Devon dan keluar dengan kesal. Devon mengelap mukanya kasar. "Dia pasti marah lagi, dan berpikiran aku adalah pria yang menjijikan. Aku harus sabar dengan calon istri kecil dan polosku itu."


Keeseokan harinya, Zia masuk ke dalam kamar Uno, dia mencari di mana Uno, ternyata Uno sedang berada di dalam kamar mandi. Zia melihat ada ponsel Uno di atas nakas.


"Pasti tadi malam dia menghubungi kekasih barunya itu, aku penasaran, siapa kekasihnya itu, dan kenapa Uno seolah-olah menyembunyikan dariku?"


Zia mendengarkan apa Uno sudah selesai, tapi ternyata Uno masih menyalakan showernya. Zia mengambil ponsel milik Uno. Dia ingin sekali tau siapa kekasih Uno itu.

__ADS_1


Apakah ketahuan?


Maaf, kemarin aku tidak up bab, ada musibah, tetanggaku sebelah rumah pas, rumahnya ambruk parah, dan tetanggaku meninggal. Ini nanti kalau tidak repot aku up lagi. Sekali lagi author minta maaf.


__ADS_2