Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Suport Keluarga


__ADS_3

Keesokan harinya, Binna terbangun dari tidurnya, dia merasakan kepalanya sangat pusing. Binna membuka matanya lebar dan mencoba mencari tau di mana dia berada. “Ini kamarku? Kenapa aku bisa berada di sini?”


Binna beringsut bangun dari tempat tidurnya. Dia melihat ada ibunya di sampingnya yang masih tertidur. “Ibu,” panggilnya masih dengan suara lirih.


Arana yang agak kaget itu terbangun dan melihat ke arah Binna. “Binna, kamu sudah bangun?” Arana juga bangkit dari tidurnya, dia


memeriksa keadaan putrinya.


 “Ibu, kenapa aku bisa berada di rumah? Aku ingat waktu itu aku dan kak Devon berada di pesat ulang tahun Lila, dan aku bertemu dengan kekasih Lila, habis itu aku tidak ingat apa-apa lagi. Kak Devon mana?”


Arana mengusap perlahan pipi putrinya. “Kak Devon kamu baik-baik saja, dia berada di


rumahnya, nanti dia akan ke sini. Kamu lebih baik istirahat dulu, nanti ibu akan menyiapkan sarapan kamu dan mengantarkan ke kamar kamu, Nak.” Arana bangun dari tempat tidurnya.


Binna memegang tangan Ibunya, dia menatap ibunya dengan


tatapan ingin tau. “Bu, katakan, apa yang sebenarnya terjadi denganku? Kenapa aku juga tiba-tiba sudah berada di dalam rumah ini?”


“Binna, nanti ibu ceritakan semua, tapi kamu mandi dan makan dulu, ibu tidak mau kamu nanti sampai sakit.” Binna akhirnya mengangguk. Arana segera turun untuk menyiapkan makanan untuk putrinya.


Di lantai bawah. Juna sedang duduk di meja makan dengan Tommy. Juna menceritakan semuanya kepada Tommy. “Lalu, apa yang akan kamu lakukan terhadap anak muda itu, Juna?”


“Seperti Lorena dulu, aku akan jauhkan dia sejauh mungkin dari sini. Aku sudah mendapat data tentang anak brengsek itu. Dia hanya anak


seorang pegawai biasa, kedua orang tuanya sudah berpisah, dan aku akan menemuinya


di rumah sakit, akan aku peringatkan dia dan ayahnya agar menjauh dari sini. Jika dia tidak mau, akan aku jamin hidup mereka tidak akan baik.” Juna dengan tatapan tajamnya melihat ke arah Tommy.

__ADS_1


Tommy santai menyeruput kopinya. “Memang pemuda itu harus diberi pelajaran, jika tidak dia akan membahayakan seperti Lorena dulu.”


“Juna aku akan menyiapkan sarapan untuk Sabinna. Jujur saja semalaman aku tidak dapat tidur membayangkan jika ada apa-apa dengan putriku itu.” Arana berdiri di samping Juna, dan Arana memeluk Juna yang posisinya sedang duduk.


“Kamu jangan takut, masalah ini akan aku selesaikan, putri kita akan baik-baik. Aku juga yakin Devon akan dapat melindungi Binna, seperti aku melindungi kamu dulu.”


Tidak lama Uno, Diandra dan Zia turun dan berada di meja makan, Uno menanyakan kabar tentang adiknya, ibunya bilang jika Binna baik-baik saja, dan sebaiknya jangan di temui dulu sampai keadaannya membaik. “Bu, nanti malam ada acara bazzar amal di kampusku, dan Binna serta Diandra akan mengisi acara itu.'


“Binna? Apa tidak apa-apa, Uno?” tanya ibunya khawatir.


Uno berpikir sebentar. “Aku terserah, Binna, kalau dia tidak bisa, aku tidak akan memaksanya. Nanti biar Diandra saja yang akan mengisi acara itu.”


“Kamu kenapa tidak mengatakan pada ayah kalau kamu akan mengisi acara di kampus Uno, Sayang?” tanya Tommy pada putrinya yang duduk di sampingnya.


“Uno juga baru memberitahuku, tapi aku tidak keberatan, karena aku sudah tau apa nanti yang akan aku tampilkan di sana.  Aku akan sangat senang ikut andail dalam acara yang baik itu. Apalagi bisa membantu sesama.”


Uno memandangi wajah tulus kekasihnya itu. Zia yang melihatnya tampak kesal, dia sampai menekan sendok makannya dengan erat. “Diandra, kamu nanti ikut denganku di kampus, aku akan mengajak kamu melihat-lihat kampusku, dan nanti di mana kamu akan tampil.”


“Oh ya, Paman Tommy, aku juga sudah mengundang Tante Mara dengan ibunya. Paman Tommy juga boleh mengajak seseorang ke sana. Acara akan tambah ramai jika kalian mau datang.  Akan banyak dana yang terkumpul juga.” Uno tersenyum.


“Putra kamu ini sebenarnya pintar dalam hal berbisnis, Juna, hanya saja dia masih ingin bersenang-senang. Paman yakin jika kamu menjalankan bisnis ayah kamu, kamu akan menjadi pebisnis yang sukses seperti ayah kamu.”


“Oh Tuhan! Jangan membahas bisnis di sini, Paman. Aku tidak tertarik.” Uno memutar bola matanya jengah. Juna hanya ,menggeleng gelengkan kepalanya.


Tidak lama ada seseorang yang datang ke mansion kakek Bisma. Devon ternyata datang ke sana, dia ingin mengetahui keadaan Sabinna. Devon melihat Arana yang akan ke lantai atas mengantarkan sarapan untuk Sabinna. Devon menawarkan diri untuk membawakan sarapan untuk Sabinna, dan ingin berbicara dengan Sabinna.


“Ya sudah kamu antarkan saja makanan ini untuk Binna, ya, Devon?”

__ADS_1


“Devon mengambil nampan yang berisi makanan, dan membawanyanaik ke lantai atas kamar Sabinna. Devon mengetuk pintu kamar Sabinna dan Binna menyuruh masuk. “Kak Devon,”


“Selamat pagi calon istriku.” Devon masuk dan duduk di atas ranjang berhadapan dengan Sabinna. “Apa keadaan kamu sudah baikkan?”


“Aku sudah baikkan, Kak. Kakak kenapa pagi-pagi sudah berada di sini?”


“Aku mau mengetahui keadaan kamu.” Tangan Devon mengusap lembut pipi Sabinna. Sabinna hanya terdiam mendapat sentuhan lembut dari calon suaminya itu.


“Kak, sebenarnya apa yang terjadi denganku malam itu? Kenapa tiba-tiba aku bisa terbangun di rumahku, aku ingat waktu itu kak Nico mau berbuat jahat denganku, tapi kemudian aku tidak ingat karena kepalaku sakit dan aku tidak tau apa-apa lagi.”


“Kamu makan dulu, nanti aku ceritakan semuanya. “ Binna hanya terdiam menatap kak Devon, Devon menyuapi Sabinna perlahan-lahan, dan Binna mau membuka mulutnya.


“Kak, ceritakan sekarang kepadaku, apa yang sebenarnya terjadi?” Binna mulai menagih apa yang tadi di janjikan oleh Kak Devon.


“Waktu di ulang tahun Lila, ada seseorang yang memberi obat bius ke dalam minuman kamu. Dan ternyata orang itu adalah Nico.”


“Apa?! Kak Nico yang melakukannya?” Binna mulai teringat sesuatu. “Iya, Kak, aku ingat. Waktu itu aku ke kamar mandi, dan tiba-tiba ada yang menarik tanganku. Dia membingkam mulutku, dan dia kak Nico. Dia mengatakan


jika dia sengaja mengadakan pesta ulang tahun Lila dengan meriah karena dia sudah merencanakan semua ini. Dia menginginkan aku, Kak.”


“Dia bilang begitu sama kamu?”


“Iya, dia mengatakan itu semua sama aku, dan saat aku menendang dia, aku berhasil lolos, tapi setelah itu aku merasakan kepalu pusing


dan aku tidak ingat apa-apa lagi.”


“Cowok itu benar-benar iblis,” geram Kak Devon.

__ADS_1


“Lalu setelah itu apa yang terjadi denganku, Kak. Kenapa aku tiba-tiba sudah ada di kamar tidurku?”


“Aku mencari kamu, dan aku bertemu dengan Lila yang waktu itu sedang mencari Nico. Dan Lila melihat Nico masuk ke dalam sebuah kamar di gedung itu, dan saat aku dobrak pintunya, aku melihat--.” Devon terdiam sejenak.


__ADS_2