Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Rencana Busuk


__ADS_3

Pagi ini semua keluarga Harajuna tampak sudah siap, para wanitanya memakai kebaya berwarna biru laut yang sangat cantik. Diandra hari ini juga sangat cantik.


Sang pengantin wanita, tak lain adalah Binna, dia sedang duduk di depan cermin yang ada di meja riasnya. Binna juga terlihat sangat cantik di sana.


"Binna!" teriak seseorang saat membuka pintu kamar Binna.


"Lila! Aku kira kamu tidak datang, tadi." Binna saling berpelukan dengan Lila, dengan masih ada jarak, karena Lila tidak mau merusak baju pengantin dan gaun Binna."


"Kamu cantik sekali, aku pasti datang ke hari istimewah kamu, aku, kan, nanti mau berdiri paling depan saat kamu melemparkan bunga pengantin kamu. Kata orang-orang, siapa yang mendapat lemparan bunga pertama itu nanti pasti cepat nyusul."


"Kamu kok percaya begitu? Nyusul itu tetep aja harus ada calonnya dulu, memangnya mau balikan sama Nico?"


"Enak saja, memangnya cowok di dunia cuma dia. Aku cantik tidak hari ini?" Lila tersenyum sok manis.


Binna melihat Lila. "Kamu cantik, Kok, malam ini, memangnya kenapa?" Binna tampak bingung.


Lila kembali mesam-mesem. "Semoga aku nanti ketemu dengan pangeran impian aku di sini, ya, Bin? Tadi aku lihat ada beberapa cowok blasteran di luar, sepertinya itu teman atau keluarga dari calon suami kamu."


"Iya, itu saudara dari Kak Devon, sepupu jauh, dan saudara-saudara lainnya."


Tidak lama Diandra juga datang ke kamar Sabinna dengan Uno. "Adikku cantik sekali," puji Uno.


"Kakak lupa kalau selama ini punya adik yang sangat cantik, makannya jangan cuma liatin cewek-cewek di luar sana, sampai tidak sadar punya adik secantik aku."


"Iya, kamu cantik, makannya cepat-cepat di nikahkan sama ibu, biar gak sampai ketemu cowok playboy yang cumanya suka godain cewek cantik."


"Malas aku bicara sama Kakak." Binna melengos malas.

__ADS_1


Diandra yang di sebelah Uno menepuk lengan tangan Uno. "Kamu itu selalu saja menggoda adik kamu, Uno. Dia mau menikah."


"Aku sengaja melakukan itu, karena sebentar lagi aku tidak akan bisa buat ngusilin dia lagi." Tiba-tiba Uno memeluk adiknya itu. "Yang pintar kalau jadi istri, ya? Kamu harus menjadi gadis yang kuat setelah ini, karena kamu akan tinggal dengan suami kamu." Mata Uno hampir berkaca-kaca.


"Kak!" Binna malah menangis di pelukan kakaknya. Lila yang melihat itu juga ikut meneteskan air mata.


"Makannya, Kak Uno segera menikah, nanti biar istri Kakak saja yang menjadi korban keusilan Kak Uno."


Uno menarik tubuh adikknya, melihatnya dengan tersenyum. "Dasar ya kamu!" Uno tersenyum dengan air mata yang menetes perlahan.


Semua yang ada di kamar Binna tampak bahagia. "Kak, apa Kak Uno gak mau menikah?" celetuk Lila.


"Tentu saja aku mau, Lil, tapi nanti saja karena calon istriku belum siap katanya." Uno melirik Diandra.


"Yah ...! Jadi Kakak sudah punya calon istri? Aku kira belum, kalau belum punya, siapa tau aku boleh mendaftar," celetuknya ngasal.


Uno malah tertawa. Tangan Uno mengusap pucuk kepala Lila. "Kamu itu lucu sekali, aku tidak mau mencari caloj istri yang lebih muda dari aku, takut dia nanti manja, apalagi kamu itu sudah aku anggap seperti adikku sendiri seperti Binna."


"Uno, ayo kita turun dulu, sepertinya Devon akan memulai pernikahan ini, kamu tidak mau mendampingi ayah kamu di tempat akad pernikahan?"


Uno akhirnnya turun sendiri, Lila dan Diandra menemani Binna di sana. Di tempat pernikahan tepatnya di taman yang ada di mansion. Devon tampak duduk dengan cemas menunggu apa yang akan dia ucapkan nanti, dia sudah berlatih beberapa hari untuk ijab qobul, dia sudah hapal, tapi ya begitu, dia tetap saja gerogi.


"Kamu tenang saja, Devon. Semua pasti beres, kamu anggap saja sedang mengikuti ujian di kampus kamu." Dimitri yang berdiri di belakang Devon memberinya semangat.


"Kalau ujian aku tidak akan setegang ini, aku pasti mudah mengerjakan, kan, aku pintar. Kalau ini baru sekali seumur hidupku aku melakukannya."


"Ahahah! Memangnya kamu mau melakukan ini berapa kali? Kamu tenang saja, jangan tegang, nanti tampan kamu ilang." Dimitri menepuk-tepuk pundak Devon dan kembali duduk di tempatnya.

__ADS_1


Tidak lama penghulu datang dan orang-orang liannya, di sana juga ada Juna dan Uno. Arana tampak tegang duduk di kursi belakang dengan Tia, kedua tangan mereka saling bertautan berdoa semoga acara hari ini lancar.


Di tempat lain. Saat Zia mau mengambil sesuatu di kamarnya, dia melihat ada Karla sedang duduk sendirian dengan tangan yang memegang rokok. Karla tampak berantakan dan tidak tenang.


"Kamu, Karla, kan? Kamu teman masa kecilnya Devon waktu di Belanda?" Zia berjalan menghampiri Zia yangndudik di sana.


Karla melihat Zia dengan tatapan kesal. "Iya, dan kamu kakaknya Binna, Kan? Gadis yang sudah merebut cinta masa kecil aku. Aku sangat mencintai Devon dari dulu, tapi entah kenapa Devon tiba-tiba harus di jodohkan dengan adik kamu?" Karla kembali menghisap puntung rokoknya.


"Memang sangat menyakitkan melihat orang yang dari dulu kita cintai, kita menemaninya, mas kecil kita, kita habiskan bersama dengan dia, tapi dia mencintai orang lain." Zia duduk di samping Karla.


Karla melihat ke arah Zia. "Apa kamu juga sama sepertiku?"


"Ya! Bisa dikatakan sama seperti kamu, tapi aku tidak akan sebodoh kamu membiarkan orang yang aku cintai sampai di miliki oleh orang lain, bahkan sampai menikah."


"Aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa, Devon bahkan nanti bisa mengusirku, aku ingin tetap bisa melihat Devon, walaupun itu sangat menyakitkan."


Zia melihat ke arah Karla. Zia seolah menertawakan apa yang dikatakan oleh Karla. "Apa kamu masih mempunyai keinginan untuk membuat Binna tidak bahagia menikah dengan Devon." Zia melirik devil pada Karla.


"Maksud kamu apa?" Karla melihat bingung pada Zia.


Zia berdiri dari tempatnya. "Ya! Setidaknya kamu bisa melihat kesedihan Binna di atas kebahagiaan yang dia rasakan. Jadi bukan kamu saja yang bersedih di atas kebahagiaan Devon orang yang kamu cintai dan Binna gadis yang merebut cinta kamu."


Karla ikutan berdiri. "Maksud kamu apa, Sih? Aku benaran tidak tau."


"Kamu memang bodoh! Kamu bisa membuat setelah pernikahan ini, Binna membenci Devon, bahkan menyesal menerima pernikahan ini, dengan membuat Binna tidak percaya jika suaminya ini cowok yang setia."


"Tapi aku dengar, Binna tidak mencintia Devon, mereka hanya menerima perjodohan ini?"

__ADS_1


"Aku kakaknya Sabinna, dan aku lebih tau bagaimana sifat adikku itu. Apa kamu mau juga merasakan sedikit kebahagia?" Zia berkata dengan senyuman devilnya.


Ini orang ya, ngalah-ngalahin Lorena, dan Sasa si bumbu penyedap


__ADS_2