
Zia akan dipindahkan ke kamar pemulihan VVIP setelah ini jadi mereka bisa bertemu dengan Zia dia sana. Beberapa jam kemudian semua
keluarga sudah berkumpul di ruang pemulihan di mana Zia tampak terlihat senang melihat semua keluarganya di sana.
“Ini bayinya, Nyonya Zia.” Seorang perawat membawa bayi Zia.
“Uno, bayi kita tampan sekali seperti kamu, dia tampan sekali.” Zia menggendong anaknya dan melihat ke arah Uno.
“Bayi Kak Zia lucu dan memang tampan sekali,” puji Binna. “Apa aku boleh menggendongnya?” tanya Binna.
“Nanti saja ya, Binna, aku masih mau menggendong bayiku,” ucap Zia seolah anaknya tidak boleh di sentuh oleh Binna. “Uno, apa kamu tidak mau menggendong anak kita?” dia malah menawarkan pada Uno.
“Zia, sebaikanya kamu beri asi dulu anak kamu, kasihan dia pasti lapar.”
“Pakai susu formula saja, Bu, apalagi aku barusan menjalani operasi.” Zia ini rada malas dengan anaknya sendiri, hanya saja dia seolah-olah menyayangi anaknya karena berharap Uno akan tersentuh hatinya pada Zia.
Setelah di rawat beberapa hari di rumah sakit, Zia di perbolehkan pulang, dia akan tinggal di rumah Arana sekitar satu bulan sampai
keadaanya baik-baik saja. Arana serta Juna sangat senang dengan kehadiran cucu pertama mereka.
“Zia ini ada hadiah dari kanada. Paman Tommy dan tante Mara mengirimkam hadiah untuk bayi kamu.” Arana memberika semua hadiah yang sangat besar, sebuah baby boucer dan ada beberapa set baju bayi yang sangat lucu-lucu. Diandra juga memberikan semua hadiah baju yang di rajut sendiri untuk si kecil.
“Mereka tidak bisa ke sini Bu?” tanya Binna yang siang itu ada di rumah Arana setelah pulang kuliah, Binna sangat senang dengan kehadiran si kecil yang di beri nama KENZIANO
ATMAJA. Perpaduan nama Kezia dan Askano. Pliss jangan tampol author.
“Paman Tommy dan tante Mara sedang berbulan madu dan kakak kamu Diandra sedang berada di Inggris untuk menyiapakan sekolah musk barunya yang juga akan di buka di sana.
“Oh begitu! Padahal aku kangen sekali sama mereka.”
“Kenapa kamu tidak pergi saja ke sana, Binna? Sekalian kamu berbulan madu, siapa tau nanti kamu bisa memiliki keturunan setelah berbulan
__ADS_1
madu dari sana,” ejak Zia.
“Aku dan Kak Devon sudah tidak terlalu memikirkan hal itu, Kak. Anak itu adalah rezeki, kalau Tuhan memberi kita rezeki anak pasti nanti aku dan kak Devon akan memilikinya. Aku tidak mau terlalu memikirkan nanti takutnya aku stres dan malah menganggu kesehatanku.
Tidak lama terdengar suara si kecil menangis. Arana menyuruh Zia memberikan susu pada bayinya dan Arana mengajak Zia untu ke dapur
membuatkan makan malam untuk seluruh keluarga.
“Baju ini di berikan oleh si Buta itu. Aku tidak mau memberikan pada bayiku, yang ada nanti Uno malah teringat terus pada si buta
itu.” Zia mengambil baju yang di rajut oleh Diandra untuk putranya dan membuangnya seenaknya ke dalam tong sampah.
Hari berlalu dengan cepat, tidak terasa si kecil sudah berusia lima bulan, Uno sering menghabiskan waktunya dengan Ken bayi kecil yang sudah bisa tengkurap itu. “Kamu waktunya tidur ya sayang.” Uno menggendong bayi kecil itu dan menidurkan di pundaknya.
Zia selesai merapikan tempat tidur bayinya. Lalu menyuruh Uno menidurkan bayi kecil itu di dalam box bayi yang ada di kamar mereka.
“Uno, kamu tidurkan saja dia di dalam box bayinya. Kamu juga biar bisa beristirahat nantinya. Kamu pasti capek sekali dari tadi bermain dengannya.
“Iya, dia sangat aktif sekali. Aku senang bisa menghabiskan waktu dengannya.” Uno menggendong bayi kecil itu dan meletakkannya pada box bayinya. Setelah itu Zia menarik tangan Uno dan mengajaknya naik ke atas tempat tidur.
bahkan mulai mengecup pelan leher Uno.
“Kak--.”
“Kita sudah lama menikah Uno, apa kamu tidak ingin kita bisa benar-benar seperti pasangan suami istri. Aku ingin sekali menjadi istri yang
sesungguhnya.” Uno terdiam di tempatnya. Apa memang hari ini dia memang harus melakukan tugasnya sebagai seorang suami dan kak Zia sebagai seorang istri.
“Kak, nanti kita bisa membangunkan Ken.” Uno berusaha mencari alasan.
“Ken tidak akan terbangun, dia sudah lelap dalam tidurnya.”
__ADS_1
Zia sekarang berpindah tempat dan duduk di atas pangkuan Uno yang sekarang bersandar pada tepi ranjang. Zia mulai membuka satu persatu piyama tidurnya dan melepaskannya. Tangan Zia mulai membuka kancing piyaman
tidurnya juga sampai memperlihatkan bra cantik miliknya.
“Kak, aku—“
Belum selesai Uno mengatakan maksudnya tiba-tiba Zia sudah membingkam bibir Uno dengan bibirnya. Zia mengecupi bibir Uno lembut dan kedua tangannya menggelayut pada leher Uno.
“Aku mencintai kamu, Uno. Aku sangat mencintai kamu,” ucap Zia yang terdengar parau. “Kamu jangan diam saja, kamu boleh melakukan apapun denganku, aku milik kamu Uno.” Tangan Zia memegang tangan Uno untuk disentuhkan pada tubuh Zia. “Cobalah untuk
menjadikan aku milik kamu seperti malam itu. Aku milik kamu, Uno.”
Zia sekali lagi mendaratakan ciumannya pada bibir Uno dan Uno mulai berani menggerakkan tangannya mengusap-usap punggung Zia. Dia seolah mulai merespon sentuhan kakaknya.
“Uno ---.”
Uno seketika melepaskan ciumannya dan mendorong pelan tubuh kakaknya. “Uno, kamu kenapa?” Zia tampak bingung dengan apa yang dilakukan oleh Uno.
“Kak, aku minta maaf, aku lupa kalau aku ada pekerjaan.” Uno segera mengambil piyama tidurnya dan memakainya dia langsung keluar dari kamar meninggalkan kakaknya yang sudah dengan muka kecewa.
“Argh!” Zia tampak marah dan melempar bantal gulingnya berserahkan di bawah. “Dia pasti masih teringat dengan gadis buta itu. Aku
sepertinya memang harus menyingkirkan gadis buta itu dari dunia ini agar tidak mengganggu kehidupan aku lagi.
Zia mengambil ponselnya dan dia menghubungi seseorang di sana. Zia menyuruh orang itu untuk mencari Diandra di Kanada atau di mana Diandra berada, semua akomodasi dan lainnya akan Zia siapakan, dia mau orang
itu yang tak lain adalah ayah kandungnya untuk menyingkirkan Diandra dari muka bumi ini.
“Baik, kamu akan segera menerima kabar baik dariku, Nak.”
“Dan ingat jangan menghubungiku jika bukan aku yang menghubungi kamu duluan.” Mereka mengakhiri panggilan teleponnya. Wajah Zia
__ADS_1
tampak puas setelah menyuruh ayah kandungnya melakukan apa yang dia inginkan. “Setelah ini bahkan bayang-bayang kamu tidak akan bisa mengganggu kehidupanku lagi.”
Di ruang kerjanya, Uno sedang duduk kembali melamun. Dia tetap tidak bisa melupakan bayang-bayang Diandra walaupun sudah setahun lebih. Dan tadi dia seolah mendengar suara Diandra sedang memanggilnya.