Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Cerita Dulu


__ADS_3

Tommy yang masih terdiam tidak menjawab pertanyaan dari Juna. Akhirnya Juna tidak mau membahas masalah itu lagi. "Tommy, ceritakan saja bagaimana kabar aunty Tiara? oh ya katanya Tatiana mau pulang? apa dia nanti langsung ke tempat kamu?"


"Ibuku baik, dan nanti Tatiana akan aku ajak ke mansion, dia sangat merindukan mansion. Dia sudah sukses menjadi seorang model terkenal seperti apa yang dia inginkan saat dia diberangkatkan kakek dan bersekolah di luar negeri"


"Aku juga senang mendengarnya, Tatia gadis yang sangat cerdas dan berbakat dia pasti bisa mencapai cita-citanya."


"Juna," ucap Tommy lirih dan dari suaranya terdengar sangat sedih.


"Kenapa, Tom?"


"Sebenarnya ada hal-hal yang membuatku selama ini tidak dapat tidur dengan nyenyak. Aku selalu memikirkan tentang putriku Diandra, bahkan sampai sekarang aku masih mencari donor mata untuk putriku itu, dia sudah semakin dewasa, bagaimana tentang masa depannya kelak, dan dia selalu bertanya tentang Mara. Di selama ini mengharapkan Mara bisa bersama denganku."


"Apa kamu tidak mencintai Mara, Tom?"


"Sejak Mara selalu menemaniku selama ini. Aku sudak jatuh cinta sama dia, Juna. Aku merasakan semua yang dia lakukan kepadaku itu sangat tulus, bahkan kepada Diandra juga. Tapi aku tidak tau, apa dia tidak mencintaiku?"


"Memangnya dia pernah bilang menolak kamu, Tom? tidak mungkin kan dia menolak kamu? yang aku tau dia bahkan sering menemui kamu dan Diandra di sana, kalau dia tidak peduli sama kamu dan Diandra dia tidak akan seperti itu. Apa kamu pernah menyakitinya?"


"Siapa yang menyakitinya? kamu kan tau aku pria yang bagaimana? Apalagi sejak menikah dengan mamanya Diandra, aku sudah benar-benar ingin serius jika dengan seseorang, dan sekarang aku merasakan hal yang aku rasakan pada mendiang Diandra pada sosok Mara."


"Ya sudah, kamu datangi dia dan lamar dia. Jangan lama-lama, nanti dia keburu diambil orang."

__ADS_1


"Sudah, Juna," jawab Tommy malas.


"Lalu? Dia menjawab apa? apa dia menolak kamu langsung?" Suara Juna terdengar penasaran.


"Kalau dia memberi kepastian aku tidak akan gelisah seperti ini, atau akan aku kejar terus jika dia menolakku, kalau perlu aku bawa dia kekamarku secara paksa.Wkakakak!" Ini malah bercanda.


"Dasar! lalu dia kenapa? tidak memberi kamu kepastian? apa dia masih ragu sama kamu?"


"Aku tidak tau, saat aku mengatakan ingin menikah dengannya, besoknya dia tiba-tiba menghilang, dan bahkan ponselnya pun tidak bisa dihubungi, aku hanya tau sekarang dia di Indonesia. Kamu tau Juna? aku merasa ada sesuatu hal yang sedang di sembunyikan oleh Mara sama aku."


"Apa dia punya penyakit? dan hidupnya tidak lama lagi, makannya dia tidak mau menerima kamu?"


"Aku tidak tau, tapi dia tidak terlihat sakit, aku akan pulang dan mencari tau hal ini."


Tommy dan Juna sama-sama memutuskan panggilannya. "Malam, Kak." Seorang wanita cantik datang menghampiri Tommy, dia memeluk Tommy.


"Tumben sekali kamu pulang jam segini? apa kamu tidak ada pemotretan lagi?"


"Ada, cuma aku cancel, aku capek. Lagian aku dari kemarin juga sudah bekerja dari pagi sampai malam." Wanita itu merebahkan tubuhnya di atas sofa. "Kakak tadi bicara sama siapa?" Tanyanya sambil menaruh sebatang rokok di bibirnya.


"Juna."

__ADS_1


Seketika wanita itu menghentikan tangannya yang hendak menyalahkan rokoknya. "Kak Juna." Wanita itu terdiam sejenak. "Bagaimana kabarnya? apa dia masih setampan dulu?"


"Dia masih saja menjadi Harajuna Atmaja yang dulu, tidak ada yang berubah, hanya saja sifat dinginnya yang berubah, dia sudah lebih hangat, dan itu karena istrinya Arana."


"Aku sudah tidak sabar bertemu dengan mereka semua."


"Sebentar lagi Tatiana. Ya sudah aku mau melihat Diandra dulu di kamarnya, anak itu jika tidak di suruh tidur, dia akan terus memainkan pianonya." Tommy pergi dari sana.


Ini settingnya di Indonesia dan Kanada, ya. Jadi ada perbedan waktunya, kalau Indonesia pagi di Kanada pasti malam.


Tok ... tok ...tok


Pintu ruangan Juna di ketuk oleh seseorang. Juna menyuruhnya masuk dan ternyata itu sekretaris Juna, Wanda. Wanda memberitahu jika ada seseorang ingin bertemu dengan dirinya. "Baiklah, kamu suruh dia masuk, Wanda."


"Baik, Pak."


Tidak lama seorang pria dengan setelah jas rapinya berwarana hitam, dan penampilannya. hampir mirip Harajuna, dia masuk dan tersenyum pada Harajuna.


"Selamat siang, Juna," sapanya Sopan, dan Juna menatap pria di depannya itu dengan tatap tidak percaya.


"Fabio."

__ADS_1


Gubrak ... Fabio?


__ADS_2