
Devon melihat ke arah Sabinna yang duduk dengan muka ditekuknya dan tangannya bersidekap. "Kamu kenapa?" Binna diam saja tidak menjawab. "Kamu sedang kesal?"
"Kesal! Kenapa Kak Devon datang lagi ke sini? Kak Devon kan lebih baik di Belanda saja, di sana kan ada kekasih Kak Devon. Kenapa Kakak kembali ke sini?"
"Aku ke sini untuk menikah dengan kamu, dan nanti aku akan membawa kamu ke apartemenku."
"Aku sekarang tidak yakin Kakak akan serius menikah denganku, Kakak beberapa hari di Belanda, dan tidak menghubungiku, aku tau Kak Devon pasti sibuk dengan kekasih Kakak di sana."
"Kamu cemburu?"
"Siapa yang cemburu? Aku malah senang kalau Kakak memilih kekasih Kak Devon itu."
Terdengar ban mobil berdecit. Mobil Devon berhenti. Devon mendekat ke arah Sabinna, Sabinna yang melihat Kak Devon mendekat dia memundurkan tubuhnya agak menjauh. "Kakak mau apa?"
"Apa kamu masih tidak percaya kalau aku benar-benar serius, dan aku bukan tipe cowok yang suka bermain-main dengan suatu hubungan. Aku akan percepat pernikahan kita."
"Apa?! Kenapa malah ingin mempercepat pernikahan?"
"Supaya kamu percaya, jika aku benar-benar serius sama kamu."
"Kak Devon jangan main-main dengan pernikahan, bisa saja Kak Devon ingin mempercepat pernikahan, tapi nanti Kak Devon diam-diam berhubungan dengan orang lain. Kita mengenal saja dulu."
__ADS_1
Devon tersenyum miring. "Kamu takut sekali aku menyukai orang lain."
"Jangan kepedean, aku tidak mau kelak berumah tangga dengan orang yang salah, Kak Devon."
"Kamu tenang saja, aku berjanji sama kamu dan kedua orang tua kamu, bahkan dengan mamaku sendiri, kalau aku tidak akan menyakiti kamu." Tangan kak Devon menelungsung pada rambut Sabinna.
Sabinna sekali lagi tercengan saat kak Devon mulai mendekat dan mengecup bibir Sabinna. Kak Devon tersenyum saat melepaskan kecupannya. "Aku merindukan kamu, Binna," ucapnya lirih kemudian.
Sabinna masih terdiam. "Ya sudah, ayo kita masuk." Kak Devon melepas sabuk pengamannya dan keluar, dia membukakan pintu untuk Sabinna, mereka berdua berjalan masuk ke tempat acara.
Di sana sudah banyak orang yang datang. Lila menemui Binna. "Wah! Kamu cantik sekali Binna."
"Hai, Binna," sapa pacar Lila.
"Hai, Nico."
"Benar kata Lila, kamu cantik sekali malam ini Binna. Kamu benar-benar terlihat seperti bidadari." Devon yang mendengar hal itu tampak tidak senang. Dia menatap cowok Lila dengan tatapan dinginnya. "Binna, ini siapa?"
"Aku Devon, aku calon suaminya Sabinna."
"Calon suami?" Nico melihat Devon dari atas sampai bawah. "Apa kamu juga anak sekolah sini?"
__ADS_1
"Dia itu sudah kuliah dan bekerja, Nico. Kak Devon malam ini juga sangat berbeda, penampilan kalian sangat cocok," puji Lila senang.
Tidak lama patner dansanya Binna datang dan mengatakan jika ini saatnya mereka akan tampil. Binna izin untuk ke tempat ganti baju dan dia akan memulai tarinya.
Lampu di acara itu mulai diredupkan, tampak dua orang berdiri di sana. Saat musik diputar, Binna mulai menggerakkan tubuhnya, mereka berdua mulai menunjukkan aksinya. Sorak sorai mulai terdengar di sana.
"Wow! Gerakan Sabinna benar-benar sangat indah. Dia juga sangat cantik. Gadis itu sangat mempesona," puji Nico yang sedang berdiri sendiri bersandar di meja dengan membawa minumannya.
Devon yang tidak jauh dari sana melirik tajam pada Nico. Devon benar-benar tidak menyukai akan perilaku pria itu.
Tidak lama dansa yang Binna dan temannya tampilkan sudah selesai. Binna pergi ke ruang gantinya.
"Nico, ayo kita ke sana, aku mau mengambil makanan, dan kita bisa makan bersama di sana." Ajak Lila.
"Em ... sayang, aku mau ke toilet dulu, kamu makan saja dulu, nanti aku menyusul kamu." Nico tersenyum dan berjalan pergi dari sana.
Besok bakal ada yang ngamuk ...
Tungguin, Yak.
__ADS_1