
Dokter keluar dari dalam kamar di mana Zia dirawat, dan dokter mengatakan jika Zia sudah tiada, seketika terdengar suara tangisan Arana pecah di sana. Juna langsung memeluk istrinya untuk menenangkannya.
"Putriku sudah pergi, Juna."
"Kita harus mengikhlaskan semua Arana." Juna tidak dapat membendung air matanya, bagaimanapun Zia sudah seperti anaknya, dia mengurus Zia dari bayi sampai akhirnya dia menikahkan Zia.
"Aku juga tidak mengharapkan hal seperti ini, Yah. Aku juga tidak ingin Kak Zia sampai kenapa-napa." Uno terduduk lemas di bangku rumah sakit.
Hari ini keluarga Juna mengalami suatu kesedihan yang teramat. "Kak, walaupun aku tidak suka dengan Kak Zia, tapi aku juga tidak ingin Kak Zia seperti ini."
"Aku tau, Binna. Sudahlah! Kita tidak perlu memikirkan hal ini." Kak Devon memeluk erat istrinya.
Juna mencoba menghubungi Tommy dan memberitahu segalanya tentang Zia. Tommy dan Mara yang sekarang di Paris ikut menyatakan bela sungkawa yang amat besar.
Beberapa bulan berlalu. Uno menjalani hari-harinya dengan Ken bersamanya. Ken tumbuh menjadi balita yang cerdas seperti Zia dan Uno sangat sayang dengan Ken walaupun dia tau Ken bukan putranya. Uno tidak mencoba mencari tau siapa ayah Ken karena dia merasa tidak rela jika Ken di ambil oleh ayah kandungnya walaupun dia tau kesalahan dari ibunya.
"Binna, kamu kenapa? Kenapa terlihat lesu begitu?" tanya Lila yang sedang menyeruput orange jusnya.
"Aku tidak apa-apa, cuma tidak enak badan saja," jawabnya malas.
"Kamu sakit?" Tangan Lila menyentuh jidat Sabinna dan kemudian dia menyentuh jidatnya sendiri.
"Tidak panas, Binna. Kalau kamu sakit sebaiknya kamu tidak perlu masuk kuliah. Kamu bisa izin pulang saja."
Binna tidak menjawab dan tiba-tiba dia beranjak dari tidurnya berlari ke toilet. Lila yang melihatnya ikut berlari ke dalam toilet.
Lila kaget melihat Binna yang muntah-muntah dan Lila kembali ke kantin untuk membeli minuman.
"Kenapa perutku tidak enak begini, Lila?"
"Kamu hamil mungkin," jawab Lila cepat.
"Hamil? Sekarang tanggal berapa?" tanya Binna.
"Tanggal 25 memang kenapa?"
Binna berpikir sejenak. "Sepertinya aku memang telat datang bulan. Aku hamil Lila." Wajah Sabinna tampak bahagia.
"Eh, jangan yakin dulu, kita ke dokter saja sekarang, aku antarkan, kita bolos kuliah saja tidak perlu mengikuti kelas berikutnya." Lila langsung menarik tangan Sabinna dan mengajaknya pergi dari sana.
Mereka naik mobil Lila dan menuju rumah sakit terdekat di sana. Binna mendaftarkan diri dan mereka menunggu panggilan.
"Lil, aku takut sekali."
__ADS_1
"Takut apa? Palingan hanya di tes kehamilan saja. Kalau memang tidak hamil ya coba lagi."
"Coba lagi? Kamu aneh-aneh saja, memangnya lontre?"
Tidak lama Binna di panggil dan di suruh masuk, Binna menceritakan yang dia alami, dokter itu menyuruh Sabinna melakukan tes darah dan tes urine.
Binna melakukan itu semua dan menunggu cemas di luar. Binna terlihat benar-benar cemas sekali menunggu hasil tesnya keluar.
Tidak lama suaminya menghubungi ponsel Sabinna dan Binna langsung melihat ke arah Lila.
"Kamu angkat saja, tapi jangan bilang jika kamu sedang di rumah sakit. Anggap aja ini nanti bisa jadi kejutan yang besar untuk suami kamu jika kamu hamil." Binna mengangguk.
"Halo, Kak Devon ada apa?"
"Binna, kamu sudah masuk kuliah?"
"Iya, ini barusan masuk, Kak. Memangnya ada apa?"
"Tidak apa-apa, aku minta maaf tadi jam istirahat aku tidak bisa ke sana."
"Tidak apa-apa."
Tidak lama seorang perawat memanggil nama Sabinna. "Kak, sudah dulu, dosen memanggilku."
"Ya sudah." Kak Devon langsung menutup panggilannya.
"Ibu Sabinna, selamat Ibu Sabinna positif hamil."
"Apa, Dok? Saya benaran hamil?" Binna seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh dokter padanya.
"Iya, Anda hamil. Tolong di jaga kandungannya dan saya akan berikan resep vitamin untuk diminum tiap hari dan jangan lupa untuk kontrol kandungannya, Ya?"
"Iya, Dok. Kalau begitu terima kasih dan kami permisi dulu."
Mereka berdua keluar dari kamar periksa dengan sangat bahagia. Binna sampai meneteskan air matanya dan Lila memeluk Sabinna sangat erat.
"Kamu akan menjadi ibu, Binna. Aku akan menjadi aunty."
"Aku tidak sabar untuk memberitahu hal ini pada Kak Devon. Dia pasti akan sangat senang sekali mendengar kabar ini."
"Pastinya karena diakan ingin sekali menjadi ayah, Binna."
"Ya sudah, kamu mau antarkan aku ke kantor kak Devon, Kan?"
__ADS_1
"Iya, aku akan antarkan."
Mereka berdua keluar dari dalam rumah sakit dan saat Binna akan ke tempat parkir dia melihat seseorang yang dia kenal. Tepat dj seberang jalan.
"Lila, itu bukannya Ken?" Binna menunjuk seseorang.
"Ken siapa? Ponakanakan kamu? Sama Kak Uno?"
"Bukan, mana bisa ponakanku yang masih kecil bisa di sini? Lagian kakakku masih di kantor. Itu Ken Andaro cowok yang aku ceritakan sama kamu yang mengganggu bulan maduku."
"Oh pria brengsek itu? Mana-mana?" Lila mengedarkan pandangannya mencari pria yang di maksud oleh mereka.
"Mana sih dia?"
Tidak lama keluar dari toko seseorang yang membuat Binna sangat terkejut. "Itukan--?"
Mereka berdua masuk ke dalam mobil dan Binna segera mengajak Lila mengikuti mobil itu.
"Kita kenapa mengikuti mobil pria itu, Binna? Akan sangat bahaya jika dia berbuat buruk dengan kita?" tanya Lila heran.
"Pria itu bersama Lukas, Lila."
"Apa? Lukas? Si cowok lembut yang sangat mencintai kamu itu?" tanya Lila tidak percaya.
"Iya. Aku penasaran kenapa Lukas bisa bersama dengan pria itu? Apa hubungan mereka?"
"Kamu tidak salah melihat? Aku tadi tidak melihat soalnya."
"Kita ikuti saja mereka berdua." Tidak lama Lukas dan Ken berhenti di sebuah rumah di mana dulu Binna mencari Lukas di sana, tapi dia tidak ada. Akhirnya Binna sampai di goda oleh para preman itu dan berakhir di tolong oleh Kak Devon.
"Ini rumah siapa?" Lila bertanya heran.
"Ini rumah Lukas. Aku pernah ke sini waktu itu untuk mencarinya." Binna turun dari dalam mobil dan dia Lila mengikutinya.
"Binna, apa tidak apa-apa kita ke sini? Aku takut nanti Ken itu menyakiti kita?"
"Tidak akan, selama ada Lukas di sini, aku hanya ingin tau apa hubungan Lukas dan Ken."
Binna mengetuk pintu rumah Lukas dan tidak lama Lukas membukakan pintu rumah itu. Lukas agak terkejut melihat ada Binna di sana.
"Binna, apa yang kamu lakukan di sini?"
"Lukas, aku tadi mengikuti kamu dan aku melihat kamu dengan Ken. Aku ingin tau ada hubungan apa kamu sama dia?"
__ADS_1
Lukas mukanya malah terlihat datar saja. "Kamu ingin tau? Kalau kamu ingin tau masuk saja." Lukas membukakan pintunya lebar-lebar dan menyuruh Binna dan Lila masuk.
Besok lagi ya, minta doanya semoga author lekas pulih, ini ngetik sambil tangan diinfus dan opname di rumah sakit, Kak.