
Diandra memilih untuk diam saja, dia berdebat pun tidak ada gunanya. Uno hanya tersenyum melihat sikap diamnya dan kesalnya Diandra.
Beberapa menit kemudian, mobil Uno tanpa berhenti Diandra mengedarkan matanya menoleh ke sana dan ke sini, ya! Walaupun tidak bisa melihat, setidaknya dia bisa merasakan sesuatu, dia mendengar beberapa suara bising, dan ada suara anak kecil.
"Uno, Kita ada ada di mana?"
"Di suatu tempat. Sekarang kita turun." Uno membantu Diandra melepaskan sabuk pengamannya. Dan mereka berdua turun.
Diandra menegakkan tongkatnya, tapi Uno malau mengambil tongkat milik Diandra. "Kamu tidak membutuhkan tongkat ini, karena di sini ada aku yang akan membantu kamu." Uno menggandeng tangan Diandra mengajaknya berjalan perlahan-lahan.
"Kamu sebenarnya ini mau membawaku ke mana, Sih? Kenapa kita tidak pulang saja?"
"Ayolah, Diandra! Aku hanya ingin mengajak kamu supaya kamu tidak sedih dan kesal lagi. Aku membawa kamu ke pantai yang sangat indah."
"Pantai? Pantas saja aku mendengar suara deburan ombak."
"Di sini sangat indah Diandra. Sekarang ikut aku." Dengan gerakan cepat Uno malah mengangkat tubuh Diandra ala briday style dan dia berlari kecil menuju tepi pantai.
__ADS_1
"Uno! Kenapa menggendongku?" Diandra benar-benar sangat kaget.
Uno tidak menjawab, tidak lama dia menurunkan tubuh Diandra di sana. "Kita sudah sampai. Maaf, jika membuat kamu terkejut, biar cepat jalannya."
"Aku bisa jalan sendiri!" Diandra yang kesal berjalan agak menjauh dari Uno. Tidak lama Diandra merasakan kakinya yang agak risih karena sepatunya kemasukan pasir. "Sepatuku." Dia mengangkat kakinya satu dan mencoba membersihkannya.
"Lepas saja sepatu kamu, Diandra." Uno ternyata sudah berjongkok dan membantu melepaskan sepatunya.
"Uno, apa yang kamu lakukan?" Diandra berjongkok, dia merasa tidak enak karena Uno malah menyentuh kakinya.
"Tidak apa-apa." Sepatu Diandra sudah terlepas. Sekarang mereka berdiri saling berhadapan. Uno sekali lagi tampak tertegun melihat wajah manis Diandra, apalagi angin di pantai itu membuat rambut Diandra terbang tidak beraturan. "Manis sekali," ucapnya lirih.
"Tidak apa-apa. Oh Ya! Kalau hati kamu sedang kesal. Kamu coba rentangkan tangan kamu, seperti ini." Uno yang sekarang berada di belakang Diandra merentangkan kedua tangan Diandra. "Rasakan jika dunia ini sangat indah. Walaupun kamu tidak pernah melihat bentuknya."
Diandra merentangkan tangannya, dia juga menutup matanya, merasakan udara pantai yang sangat sejuk itu, jujur saja, selama di Kanada, Diandra lebih suka menghabiskan waktu di dalam rumah, atau bercengkrama dengan ayahnya. Hatinya benar-benar merasa tenang saat ini.
"Diandra, apa kamu pernah bermain layangan?" Tiba-tiba suara Uno membuat Diandra terkejut dan membuka matanya.
__ADS_1
"Layangan?"
"Pasti belum pernah. Aku sudah membeli layangan, layangan ini berbentuk kura-kura, kamu kan suka sekali dengan kura-kura." Uno menggandeng tangan Diandra dan mengajaknya agak ke tengah supaya mereka bisa menerbangkan layang-layangannya.
"Uno, tapi aku tidak bisa menerbangkan layangan? Itukan permainan anak laki-laki, mana aku bisa?"
"Pasti bisa, aku akan mengajari kamu. Sekarang kamu pegang gulungan benangnya, dan aku nanti yang akan menerbangkan layangannya," jelas Uno.
"Apa? A-Aku yang menerbangkan layangannya? Tapi aku tidak akan bisa Uno!"
"Jangan berkata tidak bisa terus. Kamu kan belum mencobanya. Kamu dengarkan apa yang aku katakan. Sekarang pegang ini gulungan benangnya." Uno memberikan gulungan benang layangan yang berbentuk tabung.
"Lalu aku bagaimana?" Diandra malah berjalan perlahan menggulung benang itu.
Uno sampai ternganga melihat Diandra yang malah berjalan mengikutinya. "Kamu kenapa malah berjalan sambil menggulung benang dan mengikutiku?"
"Lalu aku harus apa?"
__ADS_1
Uno ini, Diandra kan dari kecil tidak bisa melihat, wajar dia tidak tau bagaimana anak-anak bermain layangan. Em ... author gemes, deh!