Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Melakukan Tes DNA


__ADS_3

Zia tampak bingung dengan apa yang akan dia jelaskan kepada kedua orang tuanya dan Uno. Dia sudah terpojok dengan semua bukti yang ada.


"Ayah, aku mau mengatakan jika aku memang dari dulu sangat mencintai Uno. Bahkan saat kita masih kecil, entah kenapa perasaan itu sudah ada di dalam hatiku."


"Apa? Tapi apa Kakak Zia tidak sadar jika saat itu kita ini adalah adik kakak?"


"Aku masih ingat jika kamu adalah adikku, tapi perasaan cintaku sama kamu tidak bisa di bendung."


"Lalu? Tentang kalung itu dan apa yang Kak Zia buat pada Cerry adalah hal yang benar?"


"Itu--?" Zia bingung mau mengatakannya. "Aku terpaksa harus melakukan itu, Uno. Aku hanya ingin kamu tidak dekat-dekat dengan gadis yang sebenarnya tidak pantas buat kamu."


"Tidak pantas? Diandra itu gadis yang sangat baik dan aku sangat mencintainya, bahkan dia juga tulus untuk mencintaiku. Tentang Cerry, dia gadis yang sebenarnya baik, hanya saja dia memang agak agresif, dan aku tidak benar-benar menyukai dia."


"Aku sangat mencintai kamu, Uno. Aku melakukan hal itu karena aku mencintaimu dan aku tidak ingin kamu dengan orang yang salah. Cerry tidak pantas buat kamu dan bagiku Diandra juga, dia tidak bisa melihat, yang ada dia hanya akan membebani kamu."


"Diandra sama sekali tidak membebani aku, Kak."


"Ayah benar-benar tidak menyangka dengan apa yang kamu lakukan. Kamu mengirim para perampok itu hanya untuk mengambil kalung Diandra, dan gara-gara itu ayah hampir kehilangan Uno!"


"Aku hanya menyuruh mereka mengambil kalung itu dan tidak menyuruh menyakiti Uno, Yah. Aku kesal karena Uno memberi Diandra kalung itu, entah kenapa aku sangat cemburu."


Zia mendekat ke arah Uno. Dia duduk bersimpuh di bawah kaki Uno. "Apa yang Kak Zia lakukan?"

__ADS_1


"Uno, aku sangat mencintai kamu. Aku hanya ingin kamu tau jika aku sangat mencintai kamu. Tidak bisakah kamu memaafkan aku dan kita memulai semua kehidupan kita bersama dengan Ken?"


"Cinta membutakan mata hati Kak Zia."


"Aku tau, ini semua kesalahan bodoh yang aku lakukan. Aku sudah jelaskan jika semua yang aku lakukan karena cintaku sama kamu Uno."


"Aku akan mencoba memaafkan Kak Zia jika Ken memang putraku?"


"Kamu meragukan cintaku setelah semua yang aku lakukan. Ken adalah putra kita, Uno. Percayalah! Aku tidak akan melakukan hubungan dengan orang lain karena hanya kamu yang aku cintai." Zia memegang tangan Uno erat dan sambil menangis.


"Uno, keputusan ada di tangan kamu. Selesaikan dengan baik dengan Zia."


"Untuk sementara biar Ken tinggal di sini denganku, dan Kak Zia tinggal di rumah pribadi ayah sampai nanti hasil tes DNA keluar."


"Apa? Kamu mau memisahkan aku dengan Ken?"


"Uno ... Uno!" teriak Zia.


"Zia, lebih baik kamu pulang saja karena Uno juga tidak akan mau mendengarkan kamu untuk saat ini."


"Ibu, Ayah, tolong jelaskan pada Uno. Aku tidak mau rumah tanggaku dengan Uno berantakan, kasihan Ken jika harus merasakan kedua orang tuanya tidak bersama."


"Kamu yang membuat semua ini menjadi begini, Zia. Ibu juga sangat kecewa sama kamu. Oh ya! Kenapa kamu tidak menceritakan pada kita tentang ayah kandung kamu? Dari mana kamu bisa bertemu dengannya?" tanya Arana curiga.

__ADS_1


"Dia yang menemuiku dulu, Bu, dan dia menunjukkan semua bukti tentang siapa dirinya. Aku sangat bahagia bisa bertemu dengannya."


"Tapi kenapa kamu malah tidak mengakuinya saat Binna bertanya tentang orang itu? Kamu malah bilang dia orang EO? Apa kamu merencanakan sesuatu dengan ayah kandung kamu?"


Zia terdiam sejenak. "Aku hanya belum siap mengatakan jika bertemu ayah kandungku, Bu. Apalagi saat mengetahui sifat aslinya yang sering meminta uang padaku dan kalau aku tidak memberikan dia uang, dia akan menyakitiku."


"Kenapa tidak bilang jika dia sering mengancam kamu? Ayah bisa mengatasinya."


"Aku tidak mau membuat kalian semakin banyak masalah. Aku bisa mengatasinya."


"Lalu soal ayah kamu di kamar hotel itu, dia sedang apa?"


"Dia ingin mengucapkan selamat atas kelulusanku dan memberikan aku sebuah sepatu, aku sangat terkejut dia kenapa jadi baik. Aku menerimanya dan berharap dia memang mau berubah karena aku ingin dia juga sebaik ayah Juna."


Bohong terosss


"Ya sudah, kalau begitu kamu pulang saja. Biar Ken dan Uno ada di sini, Uno juga butuh untuk menenangkan dirinya."


Zia akhirnya memilih pulang dan Arana bercerita pada Juna tentang kecurigaan Uno dan keinginan Uno untuk mencari keberadaan pria yang di duga ayah kandung Zia.


"Aku juga ingin bertemu dengan pria itu, Arana."


Keesokan harinya. Uno membawa Ken ditemani oleh ibunya untuk menjalani tes DNA. Setelah selesai Uno diberitahu jika hasil belum langsung bisa diambil dan menunggu kabar dari rumah sakit di mana mereka melakukan tes DNA.

__ADS_1


"Baiklah! Nanti tolong kabari saya jika sudah selesai dan jangan berikan pada orang lain dengan alasan apapun," Uno menekankan pada bagian itu.


Besok lagi dua bab yak. Boyok kumat wakkakaka. Jaga kesehatan selalu.


__ADS_2