Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Happy Ending


__ADS_3

Lukas terlihat sedang memikirkan sesuatu. "Bagus lah kalau begitu. Jika kedua orang tua kamu tau anak dan cucunya terjadi apa-apa pasti akan lebih menyenangkan." Lukas tersenyum miring.


"Apa maksud kamu?"


"Binna, silakan masuk ke dalam kamar itu dan nanti kamu akan tau kenapa aku lakukan semua ini."


"Aku tidak mau!" jawab Binna ketus.


"Ken, bisa minta tolong?"


"Dengan senang hati." Ken tersenyum dan memegang tangan Binna. Sontak saja Binna langsung berontak dan Lila juga mencoba melepaskan tangan Ken dari Binna.


"Lila, kamu tidak ada urusan dengan ini semua, kamu bisa pergi, tapi ingat, jangan menceritakan semua pada siapapun atau kamu akan melihat sahabat baik kamu dan anaknya akan lenyap dari muka bumi ini," ancam Lukas.


"Kamu tidak akan berani dan tega melukai Binna."


"Benarkah? Aku tidak ada perasaan apa-apa sama Binna, jadi kenapa aku tidak berani melukainya. Aku saja bahkan tega mengirim orang untuk memberikan obat perangsang waktu itu pada Binna untuk menghancurkan Sabinna."


"Apa? Jadi kamu yang melakukan hal itu? Kenapa kamu begitu kejam Lukas? Lalu kenapa waktu itu kamu menolong aku saat pot bunga itu jatuh?"


Lukas sekali lagi memberikan senyuman yang manis, tapi terkesan menakutkan. "Kamu pikir itu bukan rencanaku? Aku ingin menarik simpati kamu dan membuat suami kamu mulai meragukan kesetiaan kamu."


Binna hanya bisa menggeleng-gelengakan kepalanya tidak percaya. Ken dengan cepat menggendong Sabinna dan membawanya masuk ke dalam sebuah kamar.


"Binna ...!" teriak Lila. Namun, Lukas menghalanginya.


"Pergi dari sini, dan ingat ucapannku. Keselamatan Binna ada di tangan kamu, jadi jangan membuat nyawa teman kamu dalam bahaya. Aku bukan orang bodoh Lila. Hati-hati dan menurutlah dengan apa yang aku ucapkan."


"Lukas, aku mohon lepaskan Binna, kalau kamu punya masalah dengan kedua orang tua Sabinna, kenapa Binna kamu ikutkan?"


"Mereka yang membuat masalah dengan orang tuaku dan aku yang mendapat kepedihan selama ini dari mereka. Sekaranga pergi dari rumah ini! Jangan sok menasehatiku!" bentak Lukas.


Lila sangat bingung, apa yang harus dia lakukan? Apa dia harus menceritakan kepada suami Binna, tapi nyawa Sabinna dan bayinya? Melihat semua yang di lakukan oleh Lukas selama ini Lila menjadi takut jika ucapan Lukas akan Lukas lakukan pada Sabinna.


Lila keluar dari rumah Lukas dan mengendarai mobilnya pelan-pelan dengan wajah berlinang air mata.


Lila memutuskan pulang ke rumah dan menangis di dalam kamarnya. Di rumah Lukas Binna diikat tangan dan kakinya serta di sumpal mulutnya dia di baringkan di atas ranjang besar yang ada di sana.


"Lukas, sebaiknya kita segera membawa dia pergi dari sini."

__ADS_1


"Aku akan segera mengurusnya." Lukas bersedekap melihat di depan pintu kamarnya.


Tidak lama terdengar suara seorang wanita memanggil nama Lukas. Lukas segera meninggalkan kamar itu dan tidak lama dia kembali membawa seorang wanita yang di dorong dengan kursi roda.


Binna melihat ke arah wanita itu yang juga duduk di kursi roda dan melihat ke arah Sabinna.


"Mama, apa mama pernah melihat wajah itu?" tanya Lukas pada Ibunya.


Wanita itu melihat Binna dan mengamati wajah Sabinna yang tampak ketakutan.


Di kantornya. Kak Devon yang sudah selesai meetingnya bersiap-siap untuk menjemput istrinya. Saat tiba di kampus, Kak Devon mencoba menghubungi Sabinna, tapi ponselnya tidak aktif.


"Apa dia masih ada kuliah? Bukannya sudah selesai?" Kak Devon akhirnya naik ke lantai atas ke kelas Sabinna dan ternyata kelasnya sudah kosong.


Kak Devon mencoba menghubungi Binna lagi, tapi tetap tidak bisa. Lalu Kak Devon mencoba menghubungi Lila dan sama saja, bukannya ponsel Lila tadi di hancurkan oleh Ken.


"Ke mana mereka ini? Kenapa sama-sama tidak bisa dihubungi?"


Akhirnya Kak Devon menghubungi apartemennya, siapa tau Binna di antar Lila pulang, dan tidak ada yang menjawab.


"Halo, Devon ada apa?"


"Binna tidak ada di sini? Memangnya kenapa?"


"Aku menjemputnya ke kampus, tapi kampus sepi, aku mencoba menghubungi Lila, tapi juga tidak aktif, aku kira Binna di antar Lila ke apartemen atau rumah Ibu Arana ternyata tidak ada semua."


"Devon, apa mungkin dia ke rumah Lila? Tapi kenapa tidak memberitahu kamu?"


"Kalau dia memang ke rumah Lila pasti memberitahuku. Kalau begitu aku akan coba ke rumah Lila."


"Kabar ibu nanti kalau sudah menemukan Sabinna?" Arana tampak cemas sekarang.


"Pasti, Bu."


Kak Devon menuju rumah Lila, dan saat itu Lila sendiri yang membukakan pintunya untuk Kak Devon.


"Lila, apa Sabinna di sini?"


"Bi-Binna tidak ada di sini?"

__ADS_1


"Lalu kamu kok sudah ada di rumah? Tadi aku mencari Sabinna ke kampus, ponsel kamu juga tidak aktif."


"Maaf, Kak Devon, aku tadi izin pulang lebih awal karena aku tidak enak badan. Soal ponselku tadi memang baterainya habis." Lila ini tertekan batin, dia ingin cerita pada Kak Devon hanya saja dia teringat ancaman Lukas.


"Kamu benaran tidak tau ke mana Sabinna?"


"Aku benaran tidak tau."


"Lalu kenapa mata kamu habis menangis?"


"Ini aku dari tadi melihat drama korea yang sangat menyedihkan, jadi aku menangis."


"Lalu ke mana, Binna?"


"Mungkin dia sudah pulang ke apartemen kalian atau mampir ke toko membeli sesuatu."


"Ya sudah kalau begitu. Aku akan mencari Sabinna."


Kak Devon pergi dari sana dan Lila dengan cepat menutup teleponnya sambil menangis. "Maafkan aku, Kak Devon."


Devon mulai panik saat hari sudah menjelang malam, dan dia tidak mendapat kabar dari Sabinna. Juna meminta Devon ke rumah untuk membicarakan masalah Sabinna.


"Aku sudah bertanya pada Lila dan dia tidak tau di mana Sabinna karena tadi dia tidak enak badan jadi dia pulang lebih awal."


"Apa ada yang menculik Sabinna, Juna? Atau dia ke mana dan mengalami hal buruk?" Arana terlihat begitu cemas.


"Jangan berpikiran yang tidak-tidak Arana."


"Aku mencoba melacak ponsel Sabinna, tapi ponselnya tidak aktif, jadi tidak bisa aku lacak."


"Aku akan menyuruh beberapa orang untuk mencari di mana keberadaan Sabinna di beberapa rumah sakit."


"Devon, kita cari Sabinna, kita akan menelusuri jalanan dan mencoba mencari Sabinna."


"Iya, Uno."


"Ibu, tolong titip Ken." Uno dan Devon pergi dari sana dan mulai mencari di mana Sabinna.


Malam itu pencarian mereka berakhir dengan nihil, mereka tidak menemukan di mana Sabinna. Uno berusaha menenangkan Devon.Devon malam ini tidur di mansion, tepatnya di kamar Sabinna.

__ADS_1


Keesokan harinya, Sabinna yang terbangun dari tidurnya dan dia merasakan mual di perutnya. Binna mencoba berteriak dengan mulut tersumpalnya.


__ADS_2