Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Menyalahkan Diandra


__ADS_3

Devon sampai di tempat latihan Sabinna. Dia mengedarkan pandangannya mencari di manan Sabinn. Sabinna ternyata tidak ada di sana. Devon bertanya pada salah satu teman latihan Sabinna di sana.


Seorang cowok jangkung yang kapan hari menjadi teman pasangan menari Salsa Sabinna di acara prom night di sekolahan Sabinna.


Cowok itu mengatakan pada Sabinna jika tadi Sabinna izin untk istirahat latihan dulu, dia mau pergi ke cafe dekat tempat latihan untuk membeli ice cream. Dia juga tadi mengatakan pergi dengan seorang cowok.


"Seorang cowok?" Kedua alis tebal Devon mengumpul di tengah, dia penasaran siapa cowok yang pergi dengan Sabinna?


"Kamu siapa? Apa kamu cowoknya Sabinna?'


" Aku--."


Waktu pernikahan Sabinna, Sabinna sengaja tidak mengundang teman-temannya, mungkin hanya Lila yang tau tentang pernikahan Sabinna. Sabinna sengaja melakukan hal itu karena dia tidak mau jika teman-temannya tau, Sabinna yang barusan lulus sekolah langsung menikah.


"Kamu harus tau jika memang kamu dekat dengan Sabinna. Sabinna itu gadis yang baik dan cantik, jadi pasti banyak cowok yang menyukainya, tapi kamu jangan khawatir. Binna itu akan setia jika Binna sudah mencintai satu orang."


"Ya sudah kalau begitu. Terima kasih." Devo segera keluar dari tempat menari Sabinna dan pergi menuju cafe di mana katanya Binna ada di sana.


Devon mengedarkan kedua matanya, tapi dia tidak menemukan di mana Sabinna. "Ke mana Sabinna? Ponselnya juga masih tidak aktif." Wajah Kak Devon sudah berkerut saja, dia benar-benar menahan rasa penasaran tentang cowok yang di maksud oleh cowok tadi.


Tidak lama ponsel Kak Devon berdering, dan dia melihat Nama Sabinna di sana. "Halo, Kak Devon."


"Binna! Kamu di mana?"


"Aku berada di apartemen."


"Kenapa ponsel kamu tidak aktif? Ya sudah! Tunggu aku di sana, kamu jangan ke mana-mana!" suara Kak Devon agak tinggi.


Kak Devon mematikan ponselnya dan segera pergi menuju apartemen. Binna di tempatnya tampak bingung kenapa suaminya tiba-tiba marah begitu?


Binna berdiri dekat kabin yang ada di dapur, dia mengambil minuman di sana. Binna membayangkan tentang ajakan Lukas untuk mendaftar kuliah. Binna merasa hal itu memang harus dia lakukan, dia lebih baik kuliah saja, bukan karena ingin bisa bertemu dengan Lukas.

__ADS_1


Jika Binna kuliah dia nanti bisa mencari pekerjaan yang lebih baik. Bagaimanapun pendidikan juga hal utama. Binna juga tidak mau terlalu mengharapkan suaminya terus nantinya.


Tidak lama Binna melihat Kak Devon datang dan berjalan dengan muka seriusnya menuju Sabinna. "Kenapa kamu tidak menungguku dan malah pulang sendiri? Apa kamu tau? Aku tadi ke tempat tari kamu dan mencari kamu di sana."


"Salah sendiri, kenapa Kak ke sana? Aku, kan, sudah bilang kalau nanti akan menghubungi Kak Devon untuk menjemputku." Binna berjalan santai melewati Kak Devon.


Kak Devon dengan cepat memegang lengan tangga Binna dan menarik mendekat ke tubuhnya. Kak Devon menatap dengan tatapan yang tajam. "Siapa cowok yang tadi bersama kamu di cafe dekat tempat menari kamu, Binna?"


Deg ...


Seketika Sabinna agak kaget, bagaimana Kak Devon bisa mengetahui tentang Lukas?


"Jawab, Sabinna!" bentaknya marah.


"Dia teman sekolah aku. Waktu itu dia kebetulan ke sana dan kita bertemu secara tidak sengaja di sana."


"Tidak sengaja? Lalu kalian janjian untuk makan ice cream berdua? Apa itu yang dilakukan jika bertemu teman lama?" Kedua mata itu menatap tajam pada Binna.


"Aku sudah peringatkan kamu, Binna. Aku sangat tidak suka jika kamu di dekati seseorang. Kamu milikku, Binna!"


"Aku tidak melakukan apa-apa. Aku bukan Kak Devon. Aku masih tau batasanku." Binna kesal melepaskan tangan Kak Devon.


Devon sampai lupa dengan hal yang tadi ibu mertuanya ceritakan tentang Uno karena dia diliputi cemburu. "Nanti kita bicarakan lagi masalah ini, Binna. Sekarang kita harus pergi."


"Aku tidak mau! Kalau Kak Devon mau pergi, pergi saja sendiri, Kak bisa mengajak cewek lain yang aku gak tau berapa cewek Kakak di luar."


Devon mencoba memendam amarahnya saat ini. Dia tidak mau marah sekarang, karena ada hal penting selain itu. "Kakak kamu mengalami suatu insiden, dan sekarang kakak kamu ada di rumah sakit."


"Apa?" Binna kaget melihat ke arah suaminya.


"Iya, Binna. Kakak kamu Uno ada di rumah sakit, tadi ibu kamu menghubungi kamu, tapi ponsel kamu tidak aktif, jadi ibu kamu mengubungi nomorku."

__ADS_1


"Kak Devon, aku mau melihat kakakku." Binna memegang tangan Kak Devon. Mereka berdua menuju rumah sakit.


Di rumah sakit seluruh keluarga sedang berkumpul. Uno ternyata harus menjalani operasi akibat tusukan yang di lakukan oleh para perampok itu.


"Diandra, bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Tommy ayahnya Diandra.


Diandra menceritakan kejadian yang dialamai olehnya, sampai penusukan itu terjadi. "Kamu memang keterlaluan Diandra." Tiba-tiba Zia mengeluarkan kata-kata itu.


"Zia, kamu kenapa malah memgatakan hal itu?"


"Ibu tidak dengar tadi ceritanya Diandra? Hanya karena Diandra mempertahankan kalungnya, dia membuat adikku seperti ini. Coba saja dia memberikan saja kalung itu, Uno tidak akan ditusuk oleh perampok itu." Zia menatapa kesal pada Diandra.


"Kak Zia. Aku tidak bermaksud seperti itu."


"Lalu apa? Kamu lebih sayang kalung kamu yang mungkin tidak seberapa harganya di banding nyawa Uno." Zia menangis memeluk Arana.


"Zia, Diandra bukannya lebih peduli pada kalungnya dibanding nyawa Uno. Kamu jangan berpikiran buruk seperti itu."


"Diandra, maafkan, Zia. Dia memang sangat menyayangi Uno. Jadi dia bersikap seperti itu," ucap Juna.


Tommy melihat ke arah putrinya. Tommy sempat tidak percaya, putrinya tidak akan mempertahankan sesuatu benda jika hal itu tidak begitu berharga. "Sayang, apa kalung itu adalah kalung milik mendiang mama kamu?" tanya Tommy.


Diandra bingung mau menjawab apa? "Yah, aku bukannya lebih mementingkan kalungku. Aku sudah bilang mereka boleh mengambil semuanya, asal jangan kalung milikku, mereka sendiri tau kalungku tidak terlalu berharga, tapi kenapa mereka tetap bersikukuh mengambilnya?"


"Ya sudah." Tommy memeluk putrinya yang tampak menangis.


"Juna, apa putraku akan baik-baik saja?" Aranan bertanya pada Juna.


"Dia akan baik-baik saja, Arana. Apa kamu lupa kalau dia adalah putra Harajuna Atmaja. Dia putraku yang sangat kuat." Juna mencoba memberi semangat untuk istrinya. Padahal dalam hati Juna dia juga sangat khawatir pada keadaan putranya itu.


Tidak lama dokter keluar dari ruang operasi. Wajah Juna sudah sangat khawatir.

__ADS_1


__ADS_2