Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Mimp Indah Zia


__ADS_3

Arana mengantarkan dokter keluarga mereka ke depan pintu utama, dokter itu memberitahu agar Arana menjaga bahkan mengawasi keadaan putrinya, takutnya jika lengah, Zia akan kembali bisa berbuat menyakiti dirinya


sendiri.


“Iya, Dok, terima kasih atas sarannya.” Arana kembali masuk ke dalam kamar Zia. Dia membawakan minuman untuk Zia. Zia yang sudah sadar tidak mau minum, dia hanya diam saja tidak mau melihat ke arah keluarganya.


“Kak Zia, tolong katakan apa yang terjadi sebenarnya? Kakak tau pasti aku tidak mungkin melakukan sesuatu yang buruk dengan Kakak, aku sendiri tidak tau kenapa tiba-tiba kita bisa berada di dalam situasi seperti itu.” Uno sampai berjongkok di depan Kakaknya yang tidur miring membelakangi orang-orang.


“Kalian semua pergi dari kamarku, tinggalkan aku sendiri.” Zia kembali menangis.


“Kak, aku mohon katakan semuanya, jangan seperti ini.” Uno seolah memaksa.


“Uno! Apa kamu tidak lihat keadaan kakak kamu, jangan malah membuatnya tertekan,” bentak Juna.


“Tapi, Yah. Aku hanya ingin meluruskan semua ini. Aku tidak melakukan apa-apa terhadap Kak Zia, aku masih punya akal sehat.”


“Akal sehat seseorang akan hilang jika dia di bawah minuman seperti yang kamu lakukan.


“Aku tidak minum apa-apa, Yah. Kalau ayah tidak percaya, ayah bisa bertanya pada Diandra, aku bahkan hanya minum, soft drink di sana.”


“I-iya, tapi aku juga tidak tau setelah itu,  saat Uno mencari kakaknya.”


“Ayah mencium bau minuman dari mulut kamu, Uno. Kamu tidak percaya dengan apa yang ayah katakan? Kamu kira ayah akan memfitnah kamu?”


“Bukan begitu, Yah.” Uno mengelap mukanya kasar.


“Juna sebenarnya apa yang terjadi dari awal sehinggan Uno dan Zia bisa sampai terlibat dalam hubungan seperti ini?”


“Uno mengatakan jika dia pergi ke kamar Zia karena khawatir tentang keadaan Zia yang tiba-tiba menangis  setelah berbicara dengan Dion. Uno mengatakan Zia kecewa sama Dion


karena Dion akan menikah dengan wanita lain dan memutuskan hubungan dengan Zia.”


“Apa Zia dan Dion juga sudah melakukan hubungan terlarang? Makannya Zia begitu shock ditinggalkan oleh Dion?” tanya Mara.


“Apa maksud kamu, Mara? Putriku tidak akan seperti itu.” Juna seolah tidak percaya jika Zia begitu mudah memberikan hal berharga dari

__ADS_1


dirinya.


“Maaf, Juna, aku tidak bermaksud seperti itu, hanya saja apa yang terjadi dari cerita Uno. Zia begitu shock mendengar Dion akan menikah, apa dia dan Dion tidak pernah melakukan apa-apa?”


“Kalau begitu aku akan coba hubungi Dion.” Arana mengambil ponsel Zia dan mencoba menghubungi Dion. Namun, ponsel Dion tidak bisa dihubungi. “Dion tidak bisa dihubungi.”


“Kalau begitu aku akan ke toko milik Kak Dion yang dekat dengan kampusku.” Saat Uno akan pergi ke toko itu. Zia berdiri dari tempatnya.  “Kak Zia.”


Zia tertawa dengan miris. “Kalian lebih baik tidak memperdulikan diriku. Apa yang aku lakukan adalah dosa besar, walaupun aku dan


Uno bukan saudara. Aku akan pergi dari sini dan berusaha melupak semuanya, anggap saja semua ini tidak pernah terjadi. Jangan menyalahkan Dion. Dia bahkan tidak melakukan apa-apa denganku, dia sangat menghormatiku. Dion harus menikah


dengan orang lain karena dia dijodohkan dengan wanita lain. Dion tidak bisa mempertahankan cintanya denganku karena dia tidak mau membuat orang tuanya


bersedih.” Zia bergetar mengatakan itu semua, bahkan air matanya tidak berhenti menetes.


“Kak, tapi aku sangat menghormati Kak Zia dan aku tidak mungkin sampai berbuat hal di luar batas dengan Kak Zia.”


“Kamu datang untuk menenangkan aku, tapi juga kamu tiba-tiba seperti seolah kehilangan kendali, aku berusaha menyadarkan kamu Uno, tapi aku tidak bisa melawan kekuatan kamu. Kamu bahkan mengatakan jika aku sangat cantik dan mencintaiku.”


“Apa?” Uno tampak terkejut.


oleh Kak Zia, tapi semua yang mereka lihat adalah hal yang sebenarnya. Uno dan Zia


dalam satu kamar dan sudah berbuat sesuatu yang tidak sepantasnya.


Arana menutup mukanya dan menangis. Mara mencoba menenangkan Arana, Mara juga melihat wajah Diandra yang tampak menahan air mata di pelupuk matanya.


“Kalian tidak perlu khawatir dengan keadaan aku, aku akan pergi dari rumah ini. Lagian aku juga bukan anak kandung dari ayah dan Ibu. Aku akan menjalani kehidupan aku sendiri di luar, aku akan melupakan apa yang terjadi dengan diriku dan Uno.Bisa kalian tinggalkan aku sendiri, aku mau istirahat.”


“Kamu tidak boleh ke mana-mana, Zia. Kamu tetap akan menjadi anakku, dan kalau perlu Uno akan bertanggung jawab sama kamu.”


“Apa maksud ayah?” Kedua alis Uno berkerut bingung.


“Kamu sebagai seorang laki-laki sejati harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah kamu lakukan. Kamu harus menikahi Zia.”

__ADS_1


Seketika Arana dan Diandra shock mendengar hal itu. Arana tidak bisa berkata apa-apa lagi, keputusan yang diambil oleh Juna adalah


keputusan yang benar. Uno tidak boleh lepas dari tanggung jawab.


“Tapi Yah! Aku tidak mencintai Kak Zia, rasanya juga aneh jika aku menikahi Kakakku sendiri.”


“Dia memang kakak kamu, tapi dia bukan kakak kandung kamu, jadi hal itu tidak akan menjadi masalah.”


Terdengar suara benda jatuh dari arah belakang Diandra, Diandra tidak sengaja menjatuhkan barang milik Zia sampai pecah. “Maaf, aku


tidak sengaja. Aku mau pergi ke kamar karena memang di sini sudah bukan urusanku.” Diandra berjalan meraba-raba keluar dari kamar Zia. Uno ingin sekali mengejar dan memeluknya, ingin meyakinkan Diandra jika semua ini tidak benar. Dia hanya mencintai Diandra dan hanya Diandra yang ingin dia nikahi.


“Aku akan menyusul Diandra dulu.” Mara pergi dari sana.


Juna sudah mengambil keputusan bahwa mereka akan segera membicarakan tentang rencana pernikahan Uno dan Zia. Juna tidak mau kalau nanti sampai Zia akhirnya hamil karena perbuatan Uno. Uno tentu saja sangat shock mendengar hal itu. Dia bahkan tidak bisa berkata apa-apa lagi karena ayahnya sudah mengambil keputusan. Apalagi semua kejadian mengarah pada kesalahan yang dilakukan oleh Uno.


Malam itu semua orang tidak dapat tidur dengan nyenyak, yang dapat tidur dengan nyenyak hanya Zia. Dia di kamarnya sedang menghubungi seseorang yang menjadi patnernya selama ini.


“Akhirnya, aku akan mendapatkan orang yang paling aku cintai selama ini. Dia akan menikahiku.”


“Papa senang mendengar kabar bahagia dari kamu, Zia. Papa hanya bisa mendoakan kamu dari sini, papa tidak mungkin datang ke acara


pernikahan kamu.”


“Tentu saja kamu tidak perlu datang ke acara pernikahan aku karena sudah ada ayah Juna. Aku akan mengirimkan uang untuk kamu  besok. Sekarang aku mau tidur dulu, aku sangat


lelah dengan aktingku dari tadi.”


Zia mematikan ponselnya dan tersenyum lebar di atas ranjangnya. Zia membayangkan di mana dia duduk di pelaminan dengan Uno—pria yang sangat dia cintai.


Diandra di dalam kamarnya menangis tersedu-sedu di atas ranjangnya. Tidak lama Uno perlahan masuk ke dalam kamar Diandra mengendap-endap.


“Siapa itu?”


“Sayang, ini aku Uno.” Uno merangkak naik ke atas tempat tidur Diandra dan ingin mendekat ke arah Diandra, tapi Diandra dengan cepat

__ADS_1


menghindarinya.


.


__ADS_2