
Devon belum menjawab pertanyaan Sabinna, kenapa dirinya bisa ke sana? Devon hanya memandangi Sabinna. "Jawab! kenapa diam saja? Kenapa tiba-tiba kak Devon ada di sana? apa benar kakak mengikutiku? kayak hantu saja." Sabinna manyun.
"Aku tidak mengikuti kamu, kebetulan saja aku ada pekerjaan di daerah sana, dan pada saat aku pulang, aku melihat kamu dan orang-orang itu."
Bohong readers, jangan percaya, itu Si Devon sedang berbohong. Wkakakka. Dia sebenarnya memang ngikutin Sabinna, nanti author beberin semuanya. Hihihi
"Kerjaan apa?" Tatap Binna curiga.
"Apa perlu aku jelaskan sama kamu? kamu juga tidak akan mengerti. Kamu sendiri? sedang apa kamu di tempat itu, tempat itu perumahan yang sangat sepi, bukannya pulang sekolah malah ke sana?"
Binna gantian terdiam, dia bingung mau menjawab apa? "Jawab aku, Binna?!" suara Devon meninggi.
"A-aku sedang mencari alamat rumah teman aku, dia beberapa hari tidak masuk," suara Binna terdengar takut.
"Rumah kekasih kamu?" Mata Binna seketika melotot melihat Devon.
Kenapa kak Devon bisa tau. "Em ...! I-itu ...?" Binna bingung.
"Dasar bodoh! kenapa kamu membahayakan dirimu seperti itu? bagaimana jika terjadi apa-apa sama kamu? dan ibu kamu, bagaimana perasaanya jika para pria brengsek itu berbuat buruk sama kamu?" Devon tampak marah dan berjalan agak menjauh dari Sabinna.
Sabinna melihat punggung kak Devon dia berjalan menghampiri Devon, mereka sekarang tepat berada di atas bukit dan bisa melihat hiruk pikuk mobil kendaraan yang berlalu lalang. "Kak Devon, tolong jangan bilang sama ibuku tentang kejadian ini. Aku tidak mau ibuku sampai sedih dan marah denganku. Aku akui aku sedang mencari Lukas, cowok yang sangat aku sukai itu, dia berjanji akan ke rumahku waktu itu untuk menemui ibuku, tapi ternyata dia tidak datang." Binna menunduk.
"Kalau dia tidak datang, mungkin saja dia memang tidak serius sama kamu, dan apa yang kamu lakukan ini? mencarinya sendirian, sampai hampir di jahatin oleh si brengsek itu. Apa sepadan? Jangan bodoh, Binna!"
"Kak Devon, aku mohon jangan menceritakan hal ini pada ibuku." Sabinna memegang tangan lengan tangan Devon. Dia sangat takut kalau sampai ibunya, apalagi ayahnya tau."
"Ibumu harus tau! apa yang hampir terjadi sama kamu ini bukan hal yang kecil."
"Kak Devon aku mohon, aku kan sudah pernah membantu kakak waktu itu. Aku tidak cerita sama ibu aku soal kakak yang bertengkar. Kenapa sekarang tidak mau membantuku?" Binna manyun lagi.
"Itu dua hal yang berbeda Binna, kamu cewek, dan hal buruk seperti itu jika terjadi, masa depan kamu akan benar-benar hancur."
__ADS_1
"Aku minta maaf, aku tidak akan berbuat bodoh lagi, tapi jangan menceritakan pada ibuku," rengeknya lagi. "Kalau kakak tetap mau bercerita, aku ceritakan juga soal kakak yang berkelahi waktu itu," ancam Binna.
Devon melihat ke arah Binna, dan dia memberikan smirk manisnya. Seringai yang manis, Devon ini manis banget kalau menyeringai devil.
Devon mendekatkan wajahnya pada wajah Binna. "Ceritakan saja, lagian Dimitri pasti sudah bercerita sama mamaku." Devon menarik wajahnya, dan Binna melihatnya kesal.
Binna terdiam, dia tidak akan bisa mengalahkan cowok kutub utara ini. "Aku mohon jangan ceritakan hal ini." Mohonnya lagi. "Aku akan melakukan apa saja yang kak Devon suruh, asal jangan yang aneh-aneh, bagaimana?" Ini Binna langsung mengajak Devon negosiasi, dia takut sekali kalau ibunya tau dengan apa yang sudah dia lakukan.
Devon tidak melihat ke arah Sabinna, dia malah menatap langit biru yang cerah di atasnya. "Kak Devon, jangan diam saja."
"Kencan denganku," ucapnya, singkat, jelas, padat.
"Apa?!" Binna kaget sampai kedua matanya membulat sempurna.
"Tidak dengar aku bilang apa?" ucapnya ketus.
"Aku tidak mau kencan sama kakak. Lagian, ibuku juga tidak akan bolehin aku keluar."
"Apa kamu yakin? kalau aku yang mengajak dan bicara sama ibu kamu, bagaimana?" Devon melihat ke arah Sabinna.
"Hari Minggu pagi aku jemput kamu ke rumah, kita akan pergi berkencan," ucapnya lagi tegas.
"Apa?! aku kan belum mengatakan iya, kenapa main paksa begitu? lagian aku hari Minggu besok ada latihan menari, dan aku harus datang."
"Setelah kamu latihan menari selesai kita bisa pergi."
"Kenapa tidak minggu depan saja?"
"Aku sudah pulang kembali ke Belanda untuk mengurus kepindahan aku di sini."
"Kak Devon balik lagi ke Belanda? lama tidak? Kalau bisa sih lama saja." Wkakak ini bocah. Mukanya senang sekali berkata seperti itu pada Devon.
__ADS_1
"Lama, tapi setelah itu, aku akan menetap di sini lebih lama, dan kamu akan bisa melihat bahkan bersama denganku selamanya." Devon tersenyum devil.
Binna hanya tercengang mendengar hal itu. Tidak lama Devon teringat sesuatu, dia melihat ke jaket miliknya yang di pakai Sabinna. "Gelangku," ucapnya singkat. Lalu tangan Devon merogo saku yang ada di jaket miliknya yang di pakai Binna.
"Kak Devon mau apa?" Binna kaget tiba-tiba Devon merogoh jaketnya.
Tangan Devon menemukan gelang miliknya. "Gelang ini kenapa bisa patah begini?" Devon berucap sambil melihat Sabinna dengan kedua alisnya hampir bertaut.
Binna baru ingat dengan gelang itu. Binna mendelik sambil berusaha menelan salivanya dengan susah. "I-itu --.?"
"Apa kamu yang merusakkan gelang ini?" Tanya Devon seketika.
"A-aku--? Aku tidak tau?" Binna bingung, dan dia bukan pembohong yang baik.
"Binna jawab? kamu tau? ini gelang kesayangan milik mamaku. Mamaku memberikan gelang ini supaya aku menyimpannya, dan jika aku ingin serius dengan seseorang, aku boleh memberikan gelang ini untuknya, dan sekarang kamu malah merusaknya." Devon menatap tajam pada Binna.
Binna agak merinding dengan tatapannya itu. "A-aku tidak tau."
"Jangan bohong, Binna! gelang ini tidak akan rusak begitu saja. Ini dari bahan yang tidak mudah patah jika tidak sengaja di injak atau di pukul dengan benda keras karena sengaja ingin mematahkannya." Devon mukanya marah sambil melihat Sabinna.
"A-aku minta maaf, aku tidak tau jika di dalam jaket itu ada gelang milik tante Tia. Aku kesal sama kak Devon waktu itu, dan aku melempar jaket itu kemudian menginjaknya beberapa kali.
"Marah? memangnya apa yang aku lakukan sama kamu?" Ya elah, pura-pura lupa ini.
"Marah karena Kak Devon dengan seenaknya menciumku waktu itu? Kak Devon seenaknya mencuri ciuman pertamaku!" Seru Binna kesal.
"Oh! jadi karena itu."
Cup ...!
Dengan cepat Devon menangkup wajah Sabinna dan dia menciumnya dengan pemaksaan.
__ADS_1
Wadidaw ... tambah ngamuk itu anak orang, main cium seenaknya.
"