
Binna melihat kakaknya yang baru saja keluar dari dalam kamar Diandra tampak kaget.
"Kakak Uno ngapain pagi-pagi di kamar Kak Diandra?"
"Binna, kamu mengagetkan saja," jawab Uno dengan mengkerutkan kedua alis tebalnya.
Binna mendekat dan melihat dengan menyipitkan kedua matanya pada Uno--kakaknya. "Kakak tadi sedang mengintip kak Diandra, ya? Aku bilangin ibu baru tau rasa." Ancam Binna.
"Hey! Kalau bicara itu jangan sembarangan, siapa yang mengintip? Aku bukan tukang intip yang tidak punya etika. Kalaupun mau melihat Diandra, aku bisa saja masuk ke dalam kamarnya, dia juga tidak akan marah," jawab Uno tegas.
"Lalu Kak Uno tadi sedang apa? Ini, kan, masih pagi." Binna malah bersidekap.
"Aku baru saja mengajak Diandra ke temlat gym di atas, dan tadi dia mengalami sedikit insiden, aku membantunya kembali ke kamarnya."
"Hah? Insiden? Kakak Diandra tidak kenapa-napa, Kan Kak?" Sekarang muka Binna tampak cemas.
"Dia tidak apa-apa."
"Kak Uno itu, Ya! Kak Diandra kan tidak bisa melihat, jangan suka mengusilinya, kasihan dia. Kak Diandra itu gadis yang baik hanya saja nasibnya yang kurang baik. Apalagi dia pernah cerita sama aku tentang pria yang dikira mencintainya, ternyata hanya memanfaatkan dia saja. Kasihan kak Diandra.
"Oh! Tentang pria itu? Dia pernah cerita sama aku."
"Cerita sama Kak Uno? Apa itu benar?" tanya Binna tidak percaya
"Tentu saja. Memangnya kenapa kalau Diandra cerita hal itu sama aku?"
Binna terdiam. "Apa Kakak punya hubungan sama kakak Diandra?" Kedua mata Binna melihat curiga.
"Maksud kamu apa? Dan lagian kalau aku ada hubungan dengan Diandra apa salahnya? Dia bukan adik atau kakak aku. Jadi tidak masalah, kan?"
"Oh my God!" Binna menepuk jidatnya. "Jangan sampai, aku orang pertama yang akan menentangnya. Aku tau siapa Kakak, dan kasihan kakak Diandra kalau sampai menjadi korban Kak Uno," jelas Binna menekankan kata-katanya.
"Aku cowok baik-baik Binna."
"Aku tau Kakak cowok baik-baik, tapi playboy, dan kakak Diandra tidak cocok sama kakak." Binna seolah menantang kakaknya dengan mendekatkan mukanya pada Uno.
__ADS_1
Terlukis senyuman devil pada sudut bibir Uno. "Kita lihat saja anak kecil." Telunjuk Uno mendorong dahi Sabinna, dan Uno berjalan pergi dari sana dengan santai.
Muka Sabinna di tekuk kesal. "Dasar! Apa dia tidak punya korban lainnya? Kenapa aku merasa seolah kak Uno menginginkan kak Diandra? Tapi itu tidak mungkin, kak Uno kan seleranya cewek cantik, sexy, dan mereka bodoh, mau saja sama kakaku yang playboy itu," Binna mengumpat sendiri.
Tok ... Tok ... Tok
Binna mengetuk pintu kamar Diandra, dan gadis dengan mata indahnya itu membuka pintu. "Selamat pagi, Kak," sapa Binna.
"Selamat pagi, Binna. Ayo masuk." Binna memeluk Diandra dan kedua gadis cantik itu duduk di sofa yang ada di kamar Diandra. "Ada apa, ini? Eh kamu tidak sekolah?"
"Aku sedang libur, Kak. Dan tinggal beberapa hari lagi aku menerima hasil kelulusanku. Doakan aku lulus ya, Kak."
"Pasti kamu lulus Binna, kamu kan pintar."
"Tapi sebenarnya kalau bisa aku tidak usah lulus saja," gerutu Binna pelan.
"Kenapa kamu bilang begitu? Kamu sedang ada masalah, Ya?"
Binna mengerucutkan bibirnya kesal. "Sebenarnya kemarin malam aku mau cerita sama Kakak, tapi kakak sepertinya sudah tidur."
"Memangnya kamu mau cerita apa? Apa soal calon suami kamu itu? Iya, aku belum bertemu bahkan berkenalan sama dia, Binna. Nanti kalau dia ke sini, jangan lupa kenalkan denganku, Ya?"
Diandra malah tertawa mendengar celotehan Binna. "Aku serius, Kak. Dia cowok menyebalkan dan selalu membuat aku kesal, sama persis dengan kak Uno."
"Kakak kamu tidak menyebalkan. Ya! Walaupun sedikit usil, tapi kakak kamu orang yang baik dan bertanggung jawab."
Binna melihat Diandra dengan curiga, dia mendekat ke arah Diandra. "Kakak tumben memuji kakakku itu? Apa ada sesuatu diantara kalian yang aku tidak tau?"
Diandra tampak menyembunyikan kebingungannya. "Tidak ada apa-apa. Oh ya! Katanya mau bercerita, ayo ceritakan sekarang." Diandra mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ceritaku nanti saja, aku lebih tertarik sesuatu antara kak Uno dan Kakak Diandra. Ceritakan padaku, apa yang sedang terjadi dengan Kakak berdua?" Binna tampak menelisik.
"Aku dan kakak kamu tidak ada apa-apa, Binna, hubunganku dengan Uno ya seperti kamu dan aku. Aku memujinya karena dia kan pernah menolongku, dan ya selalu menolongku."
"Kak, Kakak jangan sampai terbujuk rayuan kakakku itu, dia memang tampan dan pandai memikat hati para gadis, gadis-gadis itu memang bodoh, mau saua menyatakan cinta pada kakakku."
__ADS_1
Uhuk ... uhuk
Diandra seketika terbatuk. Apa Diandra juga salah satu gadis bodoh yang mau saja menjadi kekasih Uno? Wakkaka.
"Kakakku itu tidak pernah serius berpacaran dengan seorang gadis, malahan dulu ada yang datang ke rumah menangis karena di putuskan oleh dia, kasihan sekli, kakakku itu memang sukanya mencari masalah."
"Apa sampai segitunya, Binna?"
"Iya, makannya ibuku bingung, apa besok dia bisa menemukan seseorang yang bisa serius sama dia."
"Pasti ada, Binna, dan Uno juga pasto akan sadar dan bisa mencintai seseorang dengan tulus dan serius."
"Semoga saja. Jujur ya, Kak. Aku antara setuju dan tidak jika Kakak bisa bersama Kak Uno. Tapi aku juga khawatir nanti kakakku itu menyakiti Kak Diandra."
"Jadi menurut kamu aku pantas dengan kakak kamu?"
Binna terdiam sebentar. "Jangan deh, Kak. Nanti kakak bisa nangis mulu, makan ati." Binna tertawa sambil memeluk Diandra.
"Sekarang gantian kamu yang cerita. Aku penasaran sama cerita kamu."
Binna menghela napas panjangnya. "Tidak lama lagi aku akan menikah dengan Kak Devon," ucap Binna lirih.
"Wow! Selamat kalau begitu, Binna. Kamu pasti akan menjadi pengantin yang sangat cantik nantinya."
"Kakak ini! Kenapa malah terlihat bahagia begitu? Aku takut, Kak."
"Takut apa?"
"Takut menikah? Aku masih muda, dan aku harus menikah di usia muda seperti ini. Aku belum siap, Kak."
"Percayalah pada diri kamu, kalau Ibu kamu sudah memutuskan tentang pernikahan kamu, aku yakin Ibu Arana yakin kamu bisa menjalani rumah tangga yang baik dengan Kak Devon kamu itu."
"Aku benaran bingung, Kak."
"Lalu bagaimana menurut kamu dengan Kak Devon kamu itu? Orangnya maksud kakak?"
__ADS_1
Binna mengingat tentang kak Devon. "Dia sebenarnya baik, dan sangat lembut, hanya saja dia sedikit pemaksa, seperti ini. Aku kira dia marah denganku dan akan membatalkan pernikahan, tapi ternyata dia malah mempercepat pernikahan. Katanya dia tidak akan melepaskan aku, karena mencintaiku."
So Sweet ... habis ini Nikah ya, Binna.