Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Malam Pertama yang Sesungguhnya


__ADS_3

Kak Devon menanggapi ciuman Binna dengan muka datarnya."Apa maksud ciuman ini? Apa kamu mau merayuku?"


"Terserah Kak Devon mengartikannya bagaimana, yang jelas aku mau mengatakan jika aku dan Lukas tidak ada hubungan apa-apa. aku hanya berteman baik sama dia karena aku mencintai suamiku, dan soaln kemarin itu aku hanya bersikap baik dengannya, sekaligus aku kesal dengan Kak Devon." Binna cemberut.


"Oh! Kamu mencari pelarian dengan bersama cowok lain?"


"Tidak begitu, aku juga mau mengatakan hal sebenarnya sama Lukas tentang aku yang sudah menikah, tapi masih belum sempat, aku sedang mencari waktu yang tepat."


"Mencari waktu yang tepat? Kenapa harus mencari waktu yang tepat? Kenapa tidak bilang langsung saja?"


"Waktu itu Lukas ingin bertemu dengan kedua orang tuaku untuk meminta maaf karena waktu itu tidak datang ke rumahku, dia bilang mamanya sakit dan aku jadi tidak tega, tapi tadi dia menghubungiku, aku mengatakan ingin bertemu dengan dia dan nanti aku akan mengatakan semuanya sama Lukas."


"Jadi tadi dia menghubungi kamu?" Kedua alis Kak Devon langsung berkerut.


"Jangan marah dulu, dia mengkhawatirkan aku karena kemarin malam aku tiba-tiba menghilang, dia baik, Kak."


"Walaupun dia baik, kamu dan dia pernah punya perasaan, dan sekarang kamu adalah istirku."


"Iya, aku sadar, maka dari itu aku ingin bertemu dengannya untuk mengatakan semuanya pada Lukas, biar dia tidak terlalu berharap lagi sama aku."


"Baiklah! Kalau kamu akan bertemu dengannya, aku harus ikut. Kamu setuju?"


"Iya, aku setuju. Kakak sekarang sudah tidak marah, Kan?"


"Tidak marah bagaimana? Jujur saja aku masih marah, bahkan aku masih belum benar-benar percaya sepenuhnya jika kamu tidak menyimpan perasaan dengan Lukas."


"Aku, kan, sudah menjelaskan semua, bahkan mau mempertemukan Kakak dengan Lukas, apa lagi? Kakak mau aku melakukan apa lagi?" Binna melingkarkan kedua tangannya pada pinggang suaminya


"Terserah kamu mau membuktikan bagaimana caranya?" tanya Kak Devon santai.


Binna mengerucutkan bibirnya. "Kak Devon mau membalas ucapanku yang kapan hari, ya?"


"Aku tidak membalas, memang hal itu perlu pembuktian yang kuat agar aku percaya."


Binna diam sejenak. "Apa Kak Devon mau aku memakai baju aneh itu?" tanyanya lirih.


"Maksud kamu, Lingerie?" Binna mengangguk. "Memangnya kamu mau memakainya?" Binna mengangguk lagi. "Kamu tidak malu kalau aku melihatnya?"


"Kenapa harus malu? Kak Devon, kan, suamiku." Binna menunduk.


"Ya sudah, pakai sana," jawab suaminya cepat.


Binna menghela napasnya panjang. Ini semua ide Lila, dan idenya ini bagi Binna sangat memalukan, tapi bagaimana lagi, dia tidak mau kalau sampai rumah tangganya bertengkar terus.

__ADS_1


Binna melepaskan lingkaran tangannya dan berjalan perlahanh-lahan menuju lemari bajunya. Kak Devon masih berdiri di tempatnya memperhatikan Sabinna yang tampak ragu-ragu.


Binna sudah memegang baju itu, dia melihati baju yang baginya aneh itu. Kak Devon mendekat dan membalikkan tubuh Sabinna. Kak Devon mengambil lingerie itu dan membuangnya.


"Kenapa dibuang, Kak?"


"Kamu lebih cantik tanpa memakai itu." Tangan Kak Devon mulai membuka 3 kancing baju kaos atasan Sabinna, dan sekali hentakan, Binna di angkat oleh Kak Devon. Binna melingkarkan kedua kakinya pada pinggang Kak Devon. Sepasang suami istri itu saling berciuman.


Kak Devon membawa Binna ke atas ranjang tanpa melepaskan ciumannya. Pergulatan indah itu akhirnya terjadi, dan kali ini Binna dengan sadar melakukannya.


"Pelan-pelan, ya, Kak? Rasa sakit waktu itu masih terasa."


"Aku tidak akan membuat kamu berteriak kesakitan, aku akan membuat kamu berteriak menikmatinya," ucap Kak Devon.


Hari ini mereka melakukan malam pertama yang sebenarnya. Binna merasa sudah terbiasa akhirnya, dia tidak takut lagi sama sekali. Seperti biasa suaminya itu walaupun diluar terlihat keras dan bar-bar, tapi dia sangat lembut jika melakukan hal seperti ini.


Tidak lama terdengar napas naik turun mereka yang saling bergantian. "Kak, apa sekarang Kak Devon sudah percaya jika aku benar mencintai Kakak?" tanya Binna yang posisinya di atas pangkuan suaminya.


"Sebenarnya dari tadi aku percaya sama kamu, hanya saja aku ingin menggoda kamu saja, aku bisa melihat cinta untukku di mata kamu."


"Jadi, Kakak hanya pura-pura dan menginginkan hal ini?" Binna cemberut.


Cup ...


"Aku malas dengan Kak Devon." Binna mau beranjak dari tubuh Kak Devon, tapi dengan cepat Kak Devon kembali menarik tubuh istrinya agar tidak pergi.


"Kamu mau ke mana? Ada yang ingin aku tanyakan sama kamu?"


"Tanya apa?"


"Tentang rencana bulan madu kita. Apa kamu mau pergi berbulan madu?"


"Iya, aku mau. Kita akan berbulan madu ke tempat yang sudah Kakak pesan."


"Ya sudah, nanti setelah kakak kamu sudah pulih dan boleh pulang, kita akan meminta izin pada kedua orang tua kamu juga."


"Iya, Kak. Kak, apa aku boleh meminta sesuatu?"


"Minta apa?"


"Apa aku boleh kuliah? Aku ingin kuliah seperti kedua kakakku."


"Tentu saja boleh, kamu mau kuliah di mana?"

__ADS_1


"Aku mau kuliah di kampus Kak Uno saja. Di sana kampusnya bagus dan ada jurusan yang aku inginkan."


"Baiklah, tapi ada syaratnya."


"Apa syaratnya?"


"Berangkat dan pulang kuliah, aku yang menjemput kamu?"


"Iya."


"Kamu juga tidak boleh menyembunyikan identitas kamu kalau kamu sudah menikah denganku."


"Iya."


"Ya sudah! Kita lakukan lagi malam pertama kita."


"I--." Binna tidak meneruskan kata-katanya. "Lagi?" tanya Binna tidak percaya.


"Iya, memangnya kenapa? Tidak sakit, kan?"


"Kakak ini sengaja mau membuat aku hamil secepatnya?"


"Memangnya kenapa kalau kamu hamil?"


"Aku, kan, mau kuliah. Kan, tidak lucu aku yang baru masuk kuliah dengan perut besar?"


"Ya sudah tidak usah kuliah," jawab Kak Devon santai.


"Kok begitu? Kakak ini niat mengizinkan aku kuliah apa tidak, sih, sebenarnya?"


"Aku mengizinkan, tapi aku juga menginginkan kita memiliki bayi yang lucu."


"Aku juga tidak apa-apa kalau hamil, tapi jangan secepat itu."


"Apa kamu tidak usah kuliah, aku saja yang mengajari kamu di rumah, begini-begini aku mahasiswa yang terpilih di tempat kuliahku di Belanda. Nanti aku bisa ajari kamu semuanya, termasuk hal ini."


Binna tau apa yang dimaksud oleh suaminya "Tidak mau, aku mau kuliah saja."


"Iya-iya kuliah, tapi syarat yang terakhir kamu harus lakukan dulu."


"Tidak mau ... Auw! Tidak mau, Kak ...!" Suaminya itu malah menggulat Binna, mereka saling bercanda di atas ranjang.


"Kalau tidak mau, tidak usah kuliah." Kak Devon mengunci tubuh Sabinna tepat di bawahnya.

__ADS_1


"Dasar egois!"


__ADS_2