
Tommy tau jika sahabat sekaligus mantan bosnya ini sedang memiliki masalah yang berat.
“Juna.” Tommy menepuk pundak juna dan mencoba memberinya semangat. Apa kamu tidak mau menyelidiki masalah ini dulu, siapa tau memang mereka tidak melakukan apa-apa.”
“Menyelidiki bagaimana maksud kamu? Putriku tidak mungkinbmelepas sendiri bajunya dan bertingkah seolah-olah dia sedang dilecehkan oleh Uno, dan pemeriksaan dokter mengatakan jika Zia memang sudah tidak--.”
“Maaf, Juna, apa kamu tidak mau bertanya pada Dion? Apa yang di bilang Mara waktu itu bisa saja terjadi.”
“Jadi maksud kamu Zia telah berhubungan dengan Dion? Dan Dion yang tidak mau bertanggung jawab akhirnya mencari kambing hitam, yaitu Uno? Kenapa Uno? Dia tau jika Uno adalah adiknya.”
“Kalau itu aku tidak tau, Juna. Sudahlah! Jangan terlalu memikirkan hal itu, mungkin ini memang sudah jalannya seperti ini, dan
kebetulan saja Uno dan Zia bukan saudara kandung jadi mereka tidak melakukan
pernikahan sedarah. “
“Aku hanya kasihan dengan mereka berdua, mereka akan menikah tanpa cinta. Uno tidak mencintai Zia. Pun dengan Zia. Apa mereka bisa menjalani rumah tangga dengan baik kelak?”
“Cinta akan datang dengan sendiri nanti di antara mereka, Juna. Kamu tidak ingat dengan Binna dan Devon? Sekarang mereka malah terlihat saling mencintai.”
“Devon sudah lama mencintai Binna. Ya seperti aku dan Arana, kalau Uno dan Zia beda Tommy. Apalagi mereka terlibat dalam hubungan seperti itu, Zia juga sangat shock dengan kejadian itu.”
“Jika kita memikirkan terus, kita juga tidak akan menemukan jalannya. Biarkan saja semua berjalan seperti seharusnya. Kita doakan saja
semoga Uno dan Zia bisa melewati ini semua.”
“Apa aku salah jika aku memaksakan Uno menikah dengan Zia? Dia selalu bilang jika dia tidak minum pada saat itu? Tapi aku mencium sendiri bau minuman di mulutnya. Di dalam kamar itu juga hanya ada Zia dan Uno. Oh Tuhan! Kenapa masalah ini begitu sulit? Belum selesai masalah satunya, timbul lagi masalah baru.”
Tommy melihat aneh pada Juna. “Masalah satunya? Memangnya ada masalah apa lagi?”
Juna melihat pada Tommy. “Huft! Fabio ternyata berulah, Tom?”
“Maksud kamu?”
“Dia ternyata menyabotase proyek yang kita jalankan sama-sama, dia mengambil banyak keutungan dan pintarnya bukti kejahatan dia
__ADS_1
tidak ada sama sekali, jadi dia seolah tidak bersalah dalam hal ini.”
“Apa? Kamu serius?”
“Aku harus merelakan salah satu perusahaanku untuk dijadikan ganti rugi pada proyek itu.”
“Berengsek! Benar-benar orang yang tidak bisa di percaya. Apa kamu membutuhkan bantuanku, Juna? Aku siap membantu. Kamu tidak perlu menjual saham perusahan kamu padanya, aku akan membayarnya dan setelah itu jangan mau bekerja sama lagi dengannya. Dia licik! Benar-benar licik.”
“Tidak perlu, Tom. Aku masih bisa mengatasinya. Aku masih menyelidiki masalah ini, begitu aku dapat buktinya, aku akan menghancurkannya sampai pada akarnya.” Kedua rahang tegas Juna mengeras.
“Dia benar-benar sudah gila mencari masalah sama kamu.”
“Ini sudah malam, Tom, sebaiknya kamu tidur. Aku juga berharap bisa tidur malam ini. Oh ya satu lagi, jangan ceritakan masalah ini pada Arana, aku tidak mau kamu memberitahu Arana.”
Tommy terkekeh. Juna yang melihatnya tampak bingung, ini temannya kenapa? Kesambet apa malam-malam begini?
“Aku tidak perlu bilang pada Arana, dia sudah tau sendiri.” Kedua mata Tommy memberi isyarat jika ada Arana berdiri dari tadi di sana dan sepertinya mendengarkan semua ucapan Juna.
“Arana.” Juna terkekeh.
kamu masih main rahasia-rahasiaan sama aku?”
“Aku bukannya main rahasia sama kamu, hanya saja aku tidak mau kamu terlalu memikirkan hal ini, masalah Uno dan Zia saja sudah tiap hari
membuat kamu tiap malam menangis, apalagi jika tau masalah ini.”
“Kamu pikir aku tidak memperhatikan kamu? Kamu tidak ada di sampingku saat aku terbangun tengah malam membuat aku tau kamu sedang tidak bisa tidur. Fabio orang dari masa lalu kita yang memang dari dulu tidak pernah sadar. Kenapa kamu tidak bicara padaku tentang kerja sama dengannya?”
“Ceritanya panjang, Sayang. Lebih baik kita tidur saja. Ini sudah malam.” Juna mengecup mesra bibir Arana.
“Kalian ini selalu saja memberiku contoh yang tidak patut,” celetuk Tommy.
“Makannya cepat menikah lagi.”
“Lihat saja jika aku nanti sudah menikah dengan Mara. Aku bahkan akan bercinta di depan kalian,” ucapnya asal sambil berlalu pergi meninggalkan Juna dan Arana.
__ADS_1
Juna dan Arana seketika tertawa mendengar perkataan Tommy, mereka lalu pergi ke kamarnya.
Di dalam kamar Uno, ternyata lampu kamar Uno masih menyalah terang. Uno masih belum tidur, bahkan di dalam ada Binna dan suaminya yang sedang membahas masalah yang terjadi antara Uno dan Zia. Binna sedang bersandar
pada tubuh kakaknya di atas ranjang, sedangkan suaminya Devon malah duduk di
depan ranjang mereka dengan bersedekap.
“Kak, apa benar kalau kak Zia itu bukan kakak kandung kita?”
“Aku sendiri tidak tau pasti, yang jelas itu yang di katakan oleh ibu dan ayah sama kita.” Uno memutar-putra rambut adiknya.
Binna mengangkat kepalanya dan badannya melihat ke arah Uno. “Tapi kita ini saudara kandung benaran, kan?”
“Sepertinya tidak, habis kamu selalu membuat kita selalu bertengkar.”
“Enak saja!” Binna memukul dada kakaknya dengan bantal. “Kamu itu yang usil.” Binna kembali bersandar pada dada Uno. “Nasib hubungan kamu dan Diandra bagaimana kalau begini? Aku kasihan melihat kak Diandra.”
“Aku benar-benar tidak percaya akan ada masalah seperti ini, Binna. Aku berharap ini sebuah mimpi buruk dan segera berakhir. Aku tidak mau sampai menikah dengan kak Zia yang dari kecil sudah aku anggap kakakku sendiri.”
“Aku juga tidak setuju kalau Kak Uno menikah dengan Kak Zia, walaupun dia bukan kakak kandungku.”
“Tapi jika dilihat dari kejadian yang terjadi, sepertinya kamu memang harus menikah dengan kak Zia, Uno. Ayah Juna pasti akan marah besar, takutnya jika Zia hamil,” jelas Devon.
“Tapi aku tidak melakukan apa-apa, Devon.”
“Coba kita cari tau saja dari rekaman CCTV di hotel milik ayah.”
"Untuk apa?" tanya Uno.
"Haduh! Kenapa punya Kakak satu, tapi tidak pinter. Kita cari sesuatu mungkin ada yang mencurigakan. Kakak benaran tidak minum, kan?"
"Minum dari mana? Di sana bahkan tidak di sediakan minuman. Apalagi ada Ibu, ibu tidak akan membiarkan ada minuman di sana."
"Iya juga sih." Binna kembali berpikir. Kenapa dia juga curiga sama kakaknya Zia itu.
__ADS_1