Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Kekesalan Sabinna sama Devon


__ADS_3

Motor Devon sudah sampai di depan mansion besar kakek Bisma. Sabinna langsung turun dari motor Devon. Sabinna seolah tidak mau untuk berbicara sama Devon, dia sebenarnya masih gondok sama ciuman tadi yang di lakukan oleh Devon.


"Sabinna." Devon dengan cepat memegang lengan tangan Binna, saat Binna mau masuk ke dalam mansion.


"Ada apa?" Sabinna menoleh dengan muka kesalnya.


"Binna, aku harap kamu ingat ucapanku tadi, jangan menceritakan tentang kejadian tadi sama ibu kamu."


"Kenapa? kamu takut? takut kalau ibuku tau kelakuan asli dari calon menantu kesayangan yang ternyata bar-bar dan suka berkelahi?" Mata Binna memicing.


"Huft!" Devon menghela napasnya pelan. "Tadi aku sudah jelaskan maksudku, apa kamu lupa?" ucapnya datar.


"Iya," jawab Binna cepat. Binna melihat dahi Devon di sebelah kiri terdapat darah, dia tadi tidak melihat itu. "Dahi kamu sepertinya berdarah." Tunjuk Binna.


Devon memegang dahinya. "Oh ini. Tidak apa-apa, kamu tidak perlu mencemaskan keadaanku."


"Siapa yang cemas? jangan sok kepedean, Ya! dan satu lagi, ciuman kamu tadi tidak ada artinya apa-apa buatku," ucapnya lagi marah.


"Aku tidak peduli." Devon berjalan mendekat, Binna langsung mendelik dan dengan cepat menutup bibirnya dengan telapak tangannya, kayanya dia sudah belajar dari pengalaman, Huahahah!


"Kamu mau apa?" suara Binna tidak jelas.


Devon mendekat dan berbisik pada telinga Sabinna. "Aku tidak peduli jika ciumanku tidak berarti sama kamu, yang jelas, aku orang pertama yang sudah mencium kamu, Sabinna."


Devon menarik dirinya dan naik ke motornya, dia pergi dari sana. Binna yang berdiri di sana sangat kesal. "Ih ...!" Tangan Binna seolah ingin mengcakar-cakar wajah Devon dengan bar-barnya. "Awas kamu! Cowok menyebalkan, aku tidak akan menikah dengan kamu!" umpatnya kesal.


Binna masuk ke dalam mansionnya dengan muka kesal. Dia sampai tidak melihat Arana yang duduk di sofa ruang tamu, dan Binna melewatinya. "Binna, kamu kenapa? kenapa mukanya kesal begitu?" Tanya Arana.


"Ini semua gara-gara, ibu! kenapa ibu malah menyuruh si kutub utara menyebalkan itu menjemputku ke sekolah!"

__ADS_1


"Memangnya apa yang dia lakukan sama kamu, Binna?"


"Dia menciumku, Bu!" ucap Binna keceplosan. Muka Binna langsung tegang setelah mengatakan hal itu.


"A-apa? mencium, kamu? ci-cium bibir maksudnya?" Arana ingin memastikan. Binna lalu mengangguk perlahan. "Kok dia bisa sampai mencium kamu, Binna? apa yang terjadi?"


"Aku tidak mau pulang, aku membohongi dia kalau aku ada latihan menari, padahal aku tidak ada latihan menari, hanya saja aku tidak mau pulang sama dia. Katanya dia ingin membuatku lebih tenang, tapi tidak dengan menciumku. Ibu tidak tau calon menantu idaman ibu itu orangnya bar-bar. Dia juga tadi--." Binna menghentikan ucapanya, dia masih ingat pesan Devon, Binna juga bukan gadis yang jahat, Sih!


"Dia tadi kenapa?"


"Em ... dia tadi juga menggendongku supaya aku mau duduk di atas motornya dan membawaku pulang."


"Menggendong, kamu? kenapa dia mirip seperti Juna? kalau begitu aku tidak salah pilih calon menantu?"


"Apa? apa ibu bilang?" Tanya Binna tidak percaya dengan apa yang ibunya katakan.


"Enggak. Nanti biar ibu tegur Devon, jangan suka memaksa anak cantik ibu ini." Binna mengusap lembut kepala Binna. "Eh, tapi kalau kamu tidak dipaksa begini, mana mau pulang di jemput Devon. Kamu mau pulang sama siapa?"


"Buat apa ibu melakukan itu? apa kamu berpikir ibu akan menyuruh Devon menjemput kamu supaya bisa lebih dekat dengan kamu? Ibu itu tau, Binna. Ibu tidak suka merepotkan orang lain kalau memang tidak sangat membutuhkan


"Tadi ini, Devon kebetulan datang ke rumah, soalnya mamanya tante Tia mengirimkan kamu makana kesukaan kamu. Martabak ayam, tante Tia sendiri yang buatkan, dan kebetulan tadi supir kita mendadak dapat telepon dari keluarganya yang sakit dan izin pulang."


"Lalu? aku besok ke sekolah bagaimana? bareng sama ayah atau kakak Uno? lalu pulangnya?" Tanya Binna.


"Nanti ibu akan menghubungi Devon, siapa tau dia bisa mengantar jemput kamu," celetuk Arana.


"Tidak mau! aku tidak mau pokoknya! aku mendingan naik mobil online tiap hari dari pada aku harus bertemu dengan kak Devon!"


"Jangan terlalu membenci seseorang, nanti jatuh cinta setengah mati kayak ibu sama ayah kamu, Loh!" celetuk Binna sekali lagi.

__ADS_1


"Tidak akan!" Binna beranjak dari tempat duduknya.


"Lalu itu jaket siapa kamu pakai?" Tanya Arana cepat.


Sabinna melihat ke arah tubuhnya yang ternyata masih memakai jaket milik Devon. Binna segera melepasnya dengan kesal dan melemparkan ke atas sofanya.


"Binna!" Seru Arana melihat kelakuan putrinya. "Jangan seperti, kembalikan dengan baik kepada orangnya, ada maksud baik dari orang yang meminjamkan jaket itu sama kamu."


Binna ingat Devon menyuruh Binna menggunakan jaketnya karena tidak mau sampai Binna masuk angin nanti. "Iya," jawab Binna malas." Binna kembali dan membawa jaket itu ke dalam kamarnya.


Arana tersenyum melihatnya. Di dalam kamar Sabinna langsung melempar jaket Devon ke lantai dan dia dengan kesalnya menginjak-injak jaket itu. "Ih ...! biarin, aku injak-injak saja jaket kamu, aku kesal sama kamu! kenapa mencuri ciuman pertamaku? kenapa bukan Lukas yang menciumnya?"


Saat Binna masih menginjak jaket Devon, dia mendengarkan bunyi benda seperti retak. Binna menghentika gerakannya dia memeriksa benda apa yang retak itu. "Ini apa?" Binna merogoh sakut jaket milik Devon, dan Binna menemukan semua gelang berwarna silver, dan sekarang gelang itu patah.


"Gelang ini punya siapa? ini seperti gelang cewek, apa kak Devon mempunyai kekasih dan ingin memberikan gelang ini sama cewek itu?" Binna berpikir sejenak.


"Tapi dia bilang tidak mempunyai kekasih, lalu ini untuk siapa? apa dia diam-diam suka memakai benda-benda cewek." Wkakaka! author tampol ya kamu, Binna. Devon itu cowok asli.


"Sebaiknya aku masukkan saja, sebenarnya sayang sekali, gelang ini benar-benar indah." Binna masih memandangi gelang itu, dia menyukai bentuknya. "Ah! aku masukkan lagi saja, aku pura-pura tidak tau saja." Binna memasukkan lagi gelang itu, membersihkan jaket Devon dan menaruhnya di hanggar.


Sabinna mengambil baju gantinya, dia mau membersihkan diri dan turun untuk makan siang dengan ibunya.


Di perusahaanya, Juna sedang berbicara denga Tommy, Tommy mengatakan jika sebentar lagi dia akan datang, karena pekerjaanya di sini sudah beres, dan putrinya Diandra baru saja memenangkan lomba bermain piano, dan dia juga diundang oleh salah satu rumah musik terbesar yang ada Indonesia untuk mengajarkan anak-anak di sana bermain piano.


"Sampaikan salam sayangku pada Diandra, Tommy. Aku akan menyambut dengan bahagia kedatangan kamu dan Diandra."


"Terima kasih, Juna."


"Lalu, bagaimana kabar kamu dan Mara?" Tanya Juna, dan Tommy langsung terdiam.

__ADS_1


Nah loh! ada apa ini?


__ADS_2