
Malam ini di tempat Binna tidak ada makan malam bersama. Binna memilih berada di dalam kamarnya tidak mau keluar ataupun makan malam. Kak Devon yang memilih di lantai bawah duduk dengan menyalahkan televisi.
Malam ini Kak Devon memutuskan untuk tidur di sofa ruang tamu. Sampai pagi menjelang. Binna turun ke lantai bawah, dia melihat suaminya tidur di atas sofa.
Binna tidak memasak hari ini, dia memesan makanan dari restoran yang ada lantai bawah apartemen mereka. Devon yang terbangun karena mendengar suara bel pintunya berbunyi.
"Binna, kamu kenapa memesan makana? Apa kamu tidak mau memasak seperti biasanya?"
"Aku tidak mau memasak," ucap Binna datar tanpa melihat ke arah suaminya. Binna sibuk menata makanan yang tadi barusan dia pesan.
"Kenapa?" Kak Devon bangkit dari sofa.
"Masakan aku tidak enak, kan? Aku tau itu."
"Kata siapa?"
"Ibuku kemarin mencoba masakan yang aku buat, dan rasanya sangat manis. Kenapa Kak Devon tidak mengatakannya? Aku juga tidak akan marah." Binna melengos.
"Binna." Devon memegang tangan Sabinna. "Aku tidak pernah protes dengan apa yang kamu lakukan selama hal itu baik, soal masakan itu, aku menyukai masakan kamu.
__ADS_1
Binna terdiam. "Jangan membuatku terlihat bodoh di mata Kak Devon. Aku tidak mau karena hal bodoh yang aku lakukan itu membuat Kak Devon memiliki alasan atas aku yang tidak becus menjadi istri.
"Bagiku kamu istri yang sangat baik Binna."
"Kalau baik, Kakak tidak akan memiliki hubungan dengan orang lain."
Binna berjalan pergi dari sana. Binna ini benar-benar cepat tersulut, dia merasa kurang segalanya, kekanak-kanakan, masak tidak bisa. Makannya suaminya memilih orang lain, Karla, dan entah siapa lagi wanita yang parfumnya ketinggalan di mobil suaminya.
Kak Devon harusnya sadar jika Binna memang masih sangat muda, dan harus belajar pelan-pelan, bukan malah dia membohonginya, dan memilih diam-diam dengan wanita lain.
Makan pagi kali ini Kak Devon tidak menghabiskan sarapannya. "Kak, aku mau hari ini menginap di rumah ibuku. Mungkin dengan begini, akan lebih baik, aku butuh waktu menenangkan diri."
Binna sangat senang, karena keinginanya akan bisa merayakan ulang tahun Lukas secara tidak langsung di permudah.
Siang ini Binna belajar memasak dengan ibunya untuk di bawa ke rumah sakit. Uno di jaga oleh Zia, sedangkan Diandra harus mengajar. Zia sangat senang bisa merawat Uno, dia bahkan mengambil alih menyuapi Uno, menyeka Uno. Dia bersikap seolah-olah kekasih Uno.
"Ibu pulang saja sama Binna. Aku bisa menjaga Uno di sini.
"Tidak apa-apa, Ibu akan menunggu ayah dan paman Tommy kamu datang."
__ADS_1
"Bu, Diandra apa nanti akan di jemput paman Tommy?" tanya Uno.
"Iya, dia akan dijemput oleh ayahnya, kamu tidak perlu khawatir Uno."
Zia memutar bola matanya jengah. "Kamu sebaiknya tidak dekat-dekat dengan Diandra dulu, Uno. Kakak tidak mau kamu kenapa-napa gara-gara dekat dengan dia. Setiap kamu dekat sama dia, ada saja masalah sama kamu."
"Itu, tidak benar, Kak. Kak Diandra tidak membawa hal buruk pada Kak Uno." Zia hanya melirik tajam pada Binna.
"Binna, tadi kamu bilang mau pergi dengan Lila untuk mencari sesuatu buat suami kamu. Kamu pergi saja sama Lila."
"Oh iya, Bu." Binna melihat jam tangannya dan menunjukkan pukul 7 tepat. "Aku pergi dulu."
Binna berbohong mengatakan pergi dengan Lila, dan dia juga menghubungi Lila jangan menerima telepon dari ibu dan suaminya. Lila ini benar-benar tidak habis pikir sama Binna.
'Binna mencari kado buat Devon? Apa parfum itu tidak membuat hubungan mereka memburuk?' Zia berdialog dari dalam hatinya.
Besok judulnya Bukan Malam Pertama
Kira-kira ada apa ya? Author tersenyum lebar
__ADS_1