Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Baju yang Aneh


__ADS_3

Binna diam saja tangannya di gandeng dan diajak Devon masuk ke toko baju. Saat ditanya salah satu pegawai di sana. Devon dengan cepatnya dan santainya, dia bilang ingin mencari baju tidur untuk calon istrinya.


Si pelayan toko itu langsung melihat Sabinna dengan tersenyum. Pun Binna juga langsung tersenyum pada pelayan toko itu.


"Mari saya antarkan ke bagian baju tidur untuk wanita," ucapnya sopan.


Binna dan Kak Devon berjalan menuju ke bagian pakaian tidur. Di sana terlihat banyak sekali model pakai tidur. Dan ada beberapa wanita di sana. Hanya Devon yang pria di sana.


"Kak, Kakak menunggu di depan saja, biar aku masuk sendiri. Apa Kakak tidak malu hanya cowok sendiri di sinim?" bisik Sabinna.


"Kenapa harus malu? Aku kan tidak mengintip mereka, aku mengantarkan calon istriku."


Binna mengerucutkan bibirnya. Binna ini sebenarnya malu karena di sana banyak baju tidur dengan model yang sexy juga. Dia malu sendiri dengan kak Devon.


"Baju yang seperti apa yang istri Anda inginkan?" tanya lagi si pelayan toko.


Devon mengedarkan pandangannya dan matanya terpatri oleh baju tidur dengan bentuk mini dress berbahan satin serta ada seperti rompi di bagian luarnya.


"Aku mau yang itu." Devon menunjuk ke arah manekin yang memakai baju yang Devon inginkan. Seketika mata Sabinna membelalak kaget.


"Kak, itu sexy sekali. Kenapa memlih baju seperti itu?" bisik Sabinna.


"Memangnya kenapa? Itu nanti, kan, dipakai hanya saat kamu mau tidur, dan hanya aku yang melihatnya."


"Aku tetap malu, kan ada yang melihat," gerutu Binna dengan bibir mengerucutnya.


"Kamu itu aneh, aku suami kamu, kenapa mesti malu?"


"Pokoknya malu," gerutu sekali lagi Sabinna. Devon hanya melihati calon istri kecilnya itu, bagaimanapun juga tidak bisa di pungkiri Binna memang usianya masih muda di bawahnya.


"Nanti aku ajari supaya kamu tidak malu denganku," bisik Devon. Binna diam dengan tetap bibir mengerucut.


Devon akhirnya yang memilihkan baju untuk Sabinna. Ada sekitar 7 baju tidur dia beli, ini berarti sehari sekali ganti, dan modelnya itu loh ...! Sexsay.


"Kak, sudah! Jangan milih lagi. Ini sudah banyak. Aku di rumah juga ada baju tidur yang masih bisa di pakai. Baju baby dollku banyak."

__ADS_1


"Itu nanti tidak usa di bawa. Pakai ini saja, baju itu baju untuk anak kecil, dan saat kamu sudah menikah, kamu sudah harus berubah menjadi lebih dewasa." Devon menatap lekat ke arah Sabinna.


"Kakak mau membahas lagi sifat kekanak-kanakan aku?"


"Aku tidak akan membahas itu, aku yakin kamu nanti bisa berubah dengan sendirinya kalau kamu sudah menjadi seorang istri."


Devon berjalan sendirian meninggalkan Sabinna. Dia mendekat ke arah si pelayan toko dan membisikkan sesuatu pada pelayan toko itu. Seketika Binna melihat pelayan toko itu melihat Sabinna dari kejauhan dan tersenyum tipis.


Binna yang merasa bingung mendekat ke arah kak Devon. "Kak Devon, Kakak mau beli apa lagi?"


"Gaun untuk kamu pakai di ulang tahun Lila. Kamu kan belum membeli gaun untuk acara itu."


"Gaun?" Binna melihat curiga, sepertinya bukan gaun yang di bisikkan pada pelayan toko itu. "Apa benar?"


"Iya, kalau ingin melihat kamu ikut saja sama pelayan toko itu," kata Kak Devon santai.


Pelayan toko itu mengajak Sabinna masuk ke bagian dalam toko itu lagi.Dan ... lagi-lagi mata Sabinna di kejutkan dengan pemandangan indah di dalam toko itu, banyak manekin dan baju di gantung dengan model yang bahkan tidak ada bahannya.


"Ini gaun apa?" celetuk Binna.


"Apa?! Li-lingerin. Memangnya ini bisa disebut baju?" Binna memperhatikan salah satu manekin dengan lingerin berwarna hitam model tali-tali banyak di bagian belakang.


"Lingerin ini sudah menjadi pilihanku," tiba-tiba ada suara seorang wanita cantik dengan tinggi semampai dan body goalsnya.


"Oh maaf, saya cuma melihat tidak mau membeli ini."


"Tapi kalau kamu mau, model seperti ini tidak apa-apa, aku akan memilih yang lainnya."


Binna agak bingung. "Tidak kok, Kak. Aku tidak mau model ini," jawab Binna cepat.


Wanita itu mengusap pundak Sabinna dan tersenyum manis. "Kamu ke sini sama siapa?"


"Aku sama calon suamiku, dia masih ada di luar, Kak." Devon memang di luar ruangan itu, entah apa yang dia cari, dia tidak masuk ke dalam karena nanti pasti Sabinna merengek tidak karuan melihat model gaun yang dia maksud.


"Oh, calon suami. Apa kamu ingin membeli lingerin ini untuk malam pertama kalian?"

__ADS_1


Mata Binna langsung mengerjap beberapa kali. "Em ... itu ...?" Binna bingung.


"Tidak masalah, malahan bagus, jika kamu memakai lingerin ini untuk menyenangkan suami kamu, karena itu juga sebagian tugas dari istri, dan aku yakin rumah tangga kamu nantinya bisa harmonis. Aku sudah membuktikannya. Setiap malam aku memakai lingerin ini, jadi stok di rumahku banyak baju seperti ini."


"Kakak tiap malam memakai baju aneh ini?" Alis Binna mengkerut.


"Itu bukan baju aneh. Malahan baju seperti itu bisa membuat rumah tangga kamu bahagia, dan aku yakin dia akan setia sama kamu. Serta jangan lupa disertai komunikasi yang baik. Kalau kalian sedang bertengkar, lebih baik di dalam kamar saja, pertengkaran kalian akan sangat manis." Wanita itu tersenyum manis.


Binna hanya melongo mendengar penjelasan wanita itu. Tidak lama Devon masuk ke sana. Binna agak kaget.


"Binna, apa sudah ada yang kamu pilih?"


"Pilih apanya, Kak?"


"Ini calon suami kamu? Tampan sekali, kalian berdua cocok. Semoga pernikahan kalian berjalan dengan lancar." Setelah mengatakan itu wanita itu berjalan pergi dari sana.


"Dia siapa, Binna?"


Binna menggedikkan bahunya. "Tidak tau, dia tadi mengira aku mau membeli baju ini. Baju ini ternyata sudah dia pesan duluan, tentu saja aku bilang aku tidak mau membeli baju ini, bahkan semua baju yang ada di sini."


Devon melihat baju di manekin itu. "Pilihannya bagus sekali," celetuknya. "Apa kamu mau model seperti ini?"


"Kak Devon! Ternyata pikiran Kakak mesum."


"Binna, aku bukan pria mesum, aku berpikiran seperti itu hanya dengan calon istriku, tidak dengan gadis lainnya."


"Aku tidak mau membeli baju itu, sudah! Kita pulang saja." Binna berjalan pergi dari sana. Kak Devon mengikuti dari belakang.


"Ku kenapa?" Devon memegang tangan Binna.


"Kakak itu keterlaluan, kenapa menyuruhku membeli baju seperti itu?"


"Apa yang salah, Binna? Itu wajar digunakan oleh seorang istri untuk menyenangkan suaminya. Jangan bilang kamu malu lagi denganku jika nanti aku sudah menjadi suami kamu, karena itu akan terdengar aneh.


'kenapa ucapan kak Devon ini mirip dengan wanita cantik tadi? Memangnya harus memakai baju itu buat menyenangkan seorang suami?'

__ADS_1


"


__ADS_2