Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Sifat Kekanak-Kanakan


__ADS_3

Uno pergi ke kampusnya, walaupun sebenarnya ini hari libur, dia ingin memantau pekerjaan teman-teman lainnya. Zia pun tidak mau melewatkan hal ini, dia akan mengikuti ke mana Uno pergi.


"Uno, kalau kegiatan kamu sudah selesai, kita pergi jalan-jalan. Apa kamu mau?"


Uno berpikir sebentar, sebenarnya dia ingin pergi menemui Diandra, dia kangen dengan kekasihnya itu, tapi dia bingung alasan apa yang akan dia berikan pada kakaknya. "Em ... aku tidak tau jam berapa akan selesai. Aku takut kalau Kakak bosan untuk menungguhku nanti."


"Tidak apa-apa. Aku akan menunggu kamu nantinya." Zia ini tidak akan menyerah.


Uno menghela napasnya pelan. Dia kembali melakukan pekerjaannya dan Zia pergi ke ruang dosen di mana dia ingin membicarakan tentang skripsinya.


Di rumah, Binna sedang merengek pada Arana karena dia sangat bosan liburan di rumah. "Bu, kita jalan-jalan keluar, yuk!" rengeknya.


"Keluar ke mana? Ibu di rumah masih ada pekerjaan banyak."


"Aku mau membelikan kado buat Lila, Bu. Lila besok ulang tahun, dan aku belum membelikan dia kado. Besok aku membawa apa?"


"Iya, ya. Lalu kamu mau membelikan Lila apa?"


"Tidak tau." Binna menggedikkan bahunya. " Lila itu suka semua barang, tidak hanya itu, dia juga suka semua makanan."


Tidak lama seorang pelayan memberitahu jika ada tamu di depan. Arana sempat bingung, siapa yang datang ke rumahnya, dia tidak sedang menunggu seseorang.


"Bu, bagaimana? Kita pergi mencari kado buat Lila," ini Binna masih merengek saja.


"Ibu mau melihat dulu siapa yang datang, Binna." Arana berjalan menuju ruang tamu, dia ingin tau siapa yang datang ke rumahnya.


Tidak lama Arana datang dengan seseorang di sampingnya. "Binna, masalah kamu terjawab. Kamu bisa pergi mencari kado dengan calon suami kamu.


"Kak Devon!" Binna kaget melihat Devon ada di sana.


"Aku ke sini ingin mengajak kamu mencari kado buat Lila," ucap Devon, dan ternyata keinginanya itu mirip sekali dengan keingan Binna.


"Kalian kok niatnya sama begini?" tanya Arana dengan wajah curiganya.


"Aku ingat kalau besok ulang tahun Lila, dan aku tau Lila adalah sahabat baik calon istriku, jadi aku juga harus peduli dengan teman baik Binna, Tante."

__ADS_1


"Wah! Kamu memang pria yang baik. Itu benar, bagaimanapun Lila dan Binna memang sahabatan dari dulu, dan tante senang kamu juga berbuat pada teman-teman Binna."


"Dia memang suka berbuat baik sama semua gadis," ucap Binna sinis melihat kak Devon.


"Kamu itu kenapa sih, Binna? Kenapa malah sinis begitu? Devon itu kan sudah berbuat baik."


"Iya, baik." Binna melirik kesal.


"Ya sudah, sepertinya ada yang ingin kalian bicarakan. Sebaiknya kalian pergi saja, katanya mau mencari kado buat Lila?"


"Aku pergi sama Ibu saja."


"Ibu tidak bisa, Binna. Kamu sama Devon saja."


Binna terdiam. Arana memaksa agar Binna segera berganti baju dan pergi dengan Devon. Mau tidak mau, Binna akhirnya pergi.


"Tante, kami permisi dulu." Devon dan Binna masuk ke dalam mobil, di mobil Binna diam saja. Devon mendekat hendak melakukan sesuatu pada Binna.


"Kak Devon mau apa?" Binna memundurkan dirinya ke belakang.


"Tidak perlu! Aku bisa melakukannya sendiri." Binna memasang sendiri sabuk pengamannya.


"Benar kata ibu kamu, ada yang perlu kita bicarakan, jujue saja aku tidak suka sifat kekanakan kamu yang marah tidak jelas seperti ini, apalagi di depan ibu kamu."


"Kekanakan? Aku tidak kekanakan! Kak Devon yang menyebalkan. Aku kesal, kenapa Ibu harus menjodohkan aku dengan pria yang pura-pura bersih dan baik."


"Pasti tentang ucapan Karla?" Binna diam saja. "Kita akan pergi ke rumahku kalau begitu."


"Untuk apa?"


"Supaya kamu bisa bicara dengan Karla dan ssmua bisa jelas. Aku tidak mau kamu salah paham lagi sama aku."


"Aku tidak mau. Kakak niat ya mau memamerkan kemesraan kalian nantinya?" ucap Binna kesal.


"Ya sudah, kita ke apartemenku, aku akan menjelaskan semuanya." Binna mendelikkan matanya. Devon menjalankan mobilnya.

__ADS_1


Binna tidak mau merengek di dalam mobil, dia takut malah nanti bahaya di jalan, dan dia juga tidak mau dikatai kekanak-kanakan lagi.


"Ayo turun, Binna." Binna besidekap dan diam di tempatnya. "Binna, kita sudah sampai, jadi ayo kita turun."


"Aku tidak mau turun! Kita pulang saja, dan tidak perlu membeli kado buat Lila. Aku mungkin juga tidak jadi datang ke pesta ulang tahun Lila," ucapnya tegas tanpa menoleh pada Kak Devon.


Devon turun dari mobilnya, dan dia berjalan menuju pintu mobil Binna. Devon membuka pintu mobilnya, dan tanpa basa basi lagi dia melepas sabuk pengamannya. Devon dengan cepat menggendong Sabinna dan berjalan masuk ke dalam lift menuju apartemennya. Kebetulan di sana masih jarang penghuninya. Di sepanjang perjalanan Binna berusaha berontak dan minta turun, tapi Devon tidak memperdulikannya.


Sesampai di dalam apartemen, Binna segera di turunkan oleh Devon. "Aku sudah bilang, aku tidak mau ke sini! Kak Devon jangan suka memaksaku, aku bukan istri Kak Devon!" Binna sangat marah dengan Devon kali ini.


Binna mau pergi, tapi sekali lagi Devon bisa menahannya. "Jangan kekanak-kanakan, Binna. Kita akan segera menikah, cobalah bersikap dewasa sedikit," ucap Devon tegas.


"Dewasa yang seperti apa yang Kak Devon maksud? Tidur dengan Kakak tanpa status?"


"Binna, Karla dan aku hanya berteman, dan kamu jangan langsung berpikiran buruk tentang apa yang dikatakan oleh Karla."


"Tapi yang dikatakan dia benar, Kan? Kakak sering seranjang dengan dia? Kakak menjijikan!"


"Walaupun kita tidur, kita tidak berbuat apa-apa, dia sudah seperti saudara denganku dan keluargaku. Aku bahkan tidak pernah berbuat apa-apa dengannya walaupun kehidupan di sana kita bebas. Kamu kenapa marah seperti ini? Apa kamu cemburu?"


Binna terdiam sejenak. "Aku tidak cemburu, aku bahkan tidak peduli, kalau Kak Devon bukan calon suamiku, aku tidak mau menikah dengan pria yang tidak baik. Apalagi suka dengan pergaulan bebas seperti itu."


"Aku bukan pria yang suka dengan pergaulan bebas. Percayalah padaku, dan jangan mencoba mencari masalah yang tidak penting seperti ini, Binna. Kita akan menikah. Sekali lagi bersikaplah lebih dewasa."


"Aku sudah bersikap dewasa, memangnya Kakak kira aku anak kecil?"


"Oh ya? Tunjukkan mana sikap dewasa kamu, berciuman saja kamu tidak bisa," ejek Devon. "Kamu malah suka marah-marah dan ngambek.


"Memangnya dewasa harus bisa berciuman?"


"Tentu saja, Karla saja pandai berciuman." Ini Devon malah memancing masalah lagi.


Binna meliriknya kesal. "Berarti Kakak pernah berciuman dengannya?"


"Aku kan sudah bilang, kalau aku tidak pernah berhubungan lebih dengan Karla. Hanya saja dia selalu menceritakan pengalamannya dengan semua kekasihnya bahkan hal yang sangat sensitif."

__ADS_1


Binna tanpa berkata tiba-tiba mencium Kak Devon dengan lekat.


__ADS_2