
MC centil itu memberikan beberapa pertanyaan yang gampang, mulai dari makanan kesukaan, ukuran sepatu, hobi, dan terakhir nama pacar masing-masing.
"Kakakku lagi dekat dengan cowok baik, tampan, dan mapan bernama Dion."
"Dion? Apa orangnya ada di sini?"
"Sepertinya dia belum datang," jawab Uno.
"Belum datang?" MC itu melihat ke arah Zia. "Dia terlambat atau kalian ada masalah?" tanyanya sekali lagi.
"Dia sedang sibuk. Mungkin agak telat datangnya," jawab Zia.
"Kalau begitu, kamu tau siapa kekasih adik kamu saat ini? Dan apakah dia ada di sini?"
"Kekasih adikku?" Zia berpikir sejenak.
"Sepertinya ini kakaknya tidak tau." MC centil itu tersenyum manja.
"Aku tidak tau siapa kekasih adikku, tapi yang jelas ada gadis di sini yang sangat mencintainya melebihi dirinya sendiri, bahkan cintanya sangat tulus tidak pernah dia berpikir untuk berpaling mencintai Uno." Sorot mata Zia menatap pada Uno yang tersenyum miring pada kakaknya."
"Iya, dan segera aku akan menikahi dia saat aku lulus kuliah nanti."
Juna yang mendengar hal itu melihat ke arah Arana yang fokus memperhatikan permainan itu. "Sayang, apa kamu tau siapa gadis yang membuat putraku benaran jatuh cinta? Bahkan dia ingin menikahi gadis itu?"
"Aku tidak tau. Nanti biar Uno sendiri yang mengatakannya sama kamu." Arana mencubit hidung Juna.
"Hem ... sepertinya ibu anak ini ada rahasia yang sedang di sembunyikan dariku." Juna menatap curiga pada Arana.
"Kamu nanti juga tau, Sayang." Sekarang tangan wanita yang masih cantik itu memeluk Juna.
Pesta kembali di mulai. Uno sedang asik bersama Diandra, sedangkan Arana dan Juna sedang sibuk bersama rekan kerja Juna yang juga di undang dalam acara itu. Di sana juga ada mamanya Mara yang diundang oleh Arana.
"Uno, apa kakak bisa pinjam ponsel kamu?" Raut wajah Zia tampak cemas.
"Ada apa, Kak? Kenapa Kakak mukanya seperti itu?"
"Baterai ponsel kakak menipis, kakak mau menghubungi Dion, tadi dia mengirim pesan pada kakak."
"Kak Dion kenapa?"
"Kakak pinjam ponsel kamu."
__ADS_1
"Ini, Kak." Uno menyerahkan ponselnya dan membawanya pergi dari sana.
"Uno, ada apa dengan Kak Zia?" tanya Diandra.
"Aku tidak tau, sepertinya Kak Zia sedang ada masalah dengan Kak Dion."
"Ada masalah? Pantas saja Kak Dion tidak datang ke sini. Kasihan sekali kalau mereka ada masalah."
"Diandra, aku akan ke tempat Kak Zia dulu, aku mau bertanya, ada masalah apa dia dengan Kak Dion.
"Iya, Uno."
Uno berjalan pergi untuk mencari di mana keberadaan kakaknya. Tidak lama Uno melihat kak Zia sepertinya sedang bicara dengan seseorang menggunakan ponselnya dan menangis.
"Kak Zia, Kakak baik-baik saja?" Jujur saja Uno tidak pernah melihat kakaknya menangis begitu.
"Uno, ini aku kembalikan ponsel kamu, aku tidak jadi meminjamnya. Dion sudah menghubungiku." Zia mengusap air matanya.
"Kalian ada masalah apa?"
"Uno, aku mau ke kamarku dulu di atas, tolong jangan bicara apa-apa pada siapapun di sini. Aku tidak mau kedua orang tua kita tau, terutama Ibu."
"Kak!" Uno memangil kakaknya yang malah berlari pergi dari sana dengan menghapus air matanya. "Sebenaranya ada apa? Apa mereka ada masalah? Apa lebih baik aku bertanya pada Kak Dion?" Uni berdialaog sendiri.
Di sana Juna menyewa beberapa kamar untuk keluarganya yang mungkin ini berganti baju atau apapun. Terutama Zia yang membawa barang-barangnya ke sana. Dia ingin tampil sempurna dalam acara itu.
"Ini kamar Kak Zia." Uno melihat pintu kamarnya kakaknya yang tidal tertutup rapat. Uno masuk dan melihat kamar kakaknya yang berantakan, sepertinya kakaknya habis mengamuk dan membuangi beberapa barang di sana.
Terdengar suara tangis kakaknya. Uno segera masuk dan dia melihat kakaknya duduk di bawah dengan menekuk lututnya menangis di bawah ranjang.
"Kak Zia, Kakak kenapa? Sebenarnya apa yang terjadi?"
Zia tanpa bicara dia memeluk adiknya dengan erat. "Aku mencintaimu, sangat mencintaimu, tapi kenapa kamu mau menikah dengan orang lain. Apa kurangnya aku, aku bahkan lebih baik dari dia," Zia berceloteh tidak karuan
"Kak, Kakak kenapa? Apa maksud ucapan Kakak?" Uno menarik tubuh Kakaknya dan melihat wajah kakaknya yang sembab.
"Dia akan menikah dengan wanita lain, apa yang kurang dariku?"
"Kak Dion maksud kakak?"
Zia bangkit dari tempatnya dan dia berjalan menuju ke arah meja, dan tidak tau dia seperti menaruh sesuatu pada tangannya. "Dia harus menjadi milikku."
__ADS_1
***
Di acara pesta, Arana mencari di mana keberadaan Zia. Arana bertanya pada Diandra yang terlihat sendirian.
"Diandra apa kamu tau di mana Zia?"
"Em ... sebenarnya? Tadi Kak Zia sedang ada masalah, Ibu," Diandra berkata agak sedikit takut.
"Masalah, masalah apa?" Arana tampak cemas.
"Tidak tau, dia tadi meminjam ponsel Uno dan ingin menggunakannya untuk menghubungi kak Dion. Uno yang melihat kak Zia terlihat cemas segera menemui kakaknya."
"Aku akan coba menghubungi Zia." Arana mencoba menghubungi Zia, tapi ponselnya mati. Dia kemudian mencoba menghubungi ponsel Uno, siapa tau Uno sedang bersama Zia.
"Halo, Bu," suara Zia yang tampak menangis menjawab panggilan Arana.
"Zia, ka-kamu kenapa?"
"Bu, aku--." Terdengar suara tangisan Zia yang semakin menjadi.
"Zia kamu kenapa?" Arana semakin cemas dan kaget.
"Bu, aku ada di dalam kamar, aku mohon ibu jangan beritahu siapa-siapa. Aku takut, Bu," suara Zia tergengar getir.
"Baik, ibu akan ke sana kamu tunggu Ibu ya, Zia?"
"Ada apa, Ibu Arana?" Diandra ikut khawatir mendengar percakapan Arana dan Zia.
"Diandra, ibu tidak tau, Ibu akan menemui Zia di kamarnya."
"Aku ikut, Bu."
Dua wanita itu berjalan bersama menuju kamar Zia. Jantung Arana berdetak sangat keras, dia sangat takut jika anak-anaknya ada masalah. Saat pintu lift di buka, Arana segera menggandeng Diandra menuju kamar Zia. Arana mengetuk pintu kamar Zia. Namun, tidak ada yang membukanya.
Arana menggunakan id cardnya untuk membuka pintu, dan saat pintu di buka. Kedua mata Arana membelalak tidak percaya dengan apa yang ada di depannya. Semua barang berantakan, dan yang paling membuat Arana shock melihat tubuh Zia hanya di balut selimut hotel dan duduk menangis di bawah ranjang, sedangkan Uno tidur di atas ranjang dengan tubuh polosnya dan bagian bawahnya hanya di tutupi selimut.
"Zia, a-apa yang terjadi dengan kalian?" Air mata Arana tanpa terasa menetes perlahan. "Zia apa yang terjadi?" suara Arana meninggi.
"Bu, ada apa?" Diandra mencoba meraba-raba mencari keberadaan Arana.
"Zia, Katakan apa yang terjadi, kamu jangan diam saja?" Arana duduk di samping Zia, bahkan dia dengan mata marahnya yang ada buliran air mata menggoyang-goyangkan tubuh Zia.
__ADS_1
Author mau tamatin cerita ini, ya. Doain bisa akhir bulan ini tamat.
"