Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Kejadiann Tak Terduga


__ADS_3

Raut wajah Mara mengatakan jika yang dia tunggu ternyata tidak tau jika dia sedang di harapkan.


"Halo, Ma."


"Sayang, kamu sedang apa? Bagaimana acara fashion kamu?"


"Semua berjalan dengan baik. Terima kasih atas ucapannya, mama jaga diri di sana, mungkin aku seminggu lagi akan pulang."


"Kenapa lama sekali di sana? Apa ada hal yang mengganggu kmau di sini?"


"Tidak ada, Ma. Aku baik-baik saja, aku masih banyak pekerjaan di sini, jadi aku mungkin seminggu lagi akan kembali ke Indonesia."


"Ya sudah kalau begitu, kamu juga jaga diri kamu di sana. Oh ya! Apa Tommy sudah menghubungi kamu?"


Mara terdiam sejenak. "Mara, kamu masih di sana?" ulang mamanya.


"Oh Iya! Maksudku belum, Ma. Aku juga tidak menunggu ucapan dari dia, mungkin dia sudah lupa karena sibuk dengan kekasihnya, dan aku tidak mempermasalahkan hal itu."


"Ya mungkin besok Diandra akan menghubungi kamu."


"Iya. Ma, sudah dulu, aku mau turun ke restoran untuk makan malam dengan Asta. Kalau aku tidak turun sekarang, bisa-bisa dia malah menghabiskan minumannya dan aku harus mengantar di ke kamarnya karena terlalu banyak minum."


"Ya sudah! Sampaikan salam mama sama Asta."


"Tentu saja. Aku menyayangi mama."


"Mama juga sangat menyayangi kamu, Mara."

__ADS_1


Setelah mengakhiri panggilannya Mara merapikan lagi gaunya dan dia turun ke lantai bawah tepatnya di restoran mewah yang ada di hotel tempat dia menginap.


Seorang pelayan wanita datang menghampiri Mara yang barusan masuk ke dalam restoran itu, pelayan itu memberikan buket bungan mawar yang sangat cantik pada Mara. Ada note kecil di dalam buket bunga itu yang bertuliskan selamat ulang tahun untuk calon istriku.


"Apa-apaan ini Asta? Dasar! Dia kebanyakan minum mungkin, makannya jadi agak gila," Mara berdialog sendiri.


Mara melangkah lagi masuk lebih dalam ke arah meja yang sudah dia pesan. Mara tampak bingung karena dia tidak melihat ada Asta di sana. Mara celingukan melihat ke segala arah mencari Asta.


Tidak lama datang lagi pelayan yang tadi, sekarang dia membawa buket dari bermacam-macam bentuk permen lolipop. "Permen lollipop? Inikan permen kesukaanku?"


Mara mengambil ponselnya dan berusaha menghubungi Asta.Belum sampai tersambung pada Asta, tiba-tiba terdengar alunan musik piano dari arah depan Mara. Alunan musik dari lagu kesukaan Mara mengalun indah. Mara seketika mematikan ponselnya dan dia melihat ke arah siapa yang memainkan musik kesukaannya.


"Tommy? Kenapa dia bisa datang ke sini?"


Tommy menoleh ke arah Mara meskipun jari-jemarinya masih bergerak menekan tombol tuts piano.


"Asta! Kamu dari mana saja? Kenapa Tommy bisa ada di sini?"


"Kamu lihat saja," jawab Asta singkat.


Setelah selesai memainkan pianonya. Tommy berjalan menghampiri Mara yang duduk bersama dengan Asta.


"Mara, selamat ulang tahun." Tommy menarik tangan Mara dan dia mengajaknya berdiri.


"Tom, ada apa ini? Dan kamu? Kenapa kamu bisa di sini?"


"Aku ke sini karena aku ingin memberi sebuah kado terindah di hari istimewah kamu."

__ADS_1


"Kado? Apa bunga dan permen yang tadi? Jadi itu dari kamu?"


"Tidak hanya itu, aku juga ingin memberi kado untuk kamu satu lagi."


Tiba-tiba Tommy berjongkok dan tangannya merogoh saku jasnya. "Mara, maukah kamu menjadi istriku?" Tommy menunjukkan cincin bermata berlian yang sangat cantik pada Mara.


Seketika dada Mara bergemuruh hebat mendengar apa yang Tommy katakan. "Tom, apa yang kamu lakukan? Aku sudah pernah bilang jika aku tidak mencintai kamu, bahkan tidak ingin kamu dekat denganku."


"Aku sudah tau semua apa yang terjadi dengan kamu, Mara. Asta juga bukan kekasih kamu."


Mara seketika melihat ke arah Asta yang dari tadi fokus melihat mereka. "Astan!" gerutunya pelan.


"Aku juga ingin melihat kamu bahagia, Mara. Sebentar lagi aku akan menikah, tidak mungkin aku akan jalan sama kamu dan istriku, bisa-bisa aku di cap sebagai suami tidak tau diri."


"Mara, kenapa kamu tidak menceritakan hal sesungguhnya tentang masa lalu kamu. Aku mencintai kamu apa adanya, aku tidak peduli dengan segala kekurangan kamu. Aku tetap mencintai kamu. Hanya kamu yang bisa menjadi istri yang kuat dan ibu yang baik untuk Diandra."


"Tom, apa kamu yakin dengan semua ini? Kamu tidak akan menyesal nantinya?"


"Aku tidak akan menyesal. Aku juga tidak akan melihat kekurangan kamu. Kita bersama-sama akan membesarkan Diandra.


"Sudah! Kamu terima saja, Mara. Tommy memang pria yang serius dengan ucapannya. Dia juga sangat mencintai kamu."


Mara seketika mengambil cincin itu dan seketika memakainya.


Seketika wajah Tommy tampak sangat bahagia. Itu berarti cinta Tommy sudah di terima oleh Mara.


"Terima kasih, Tom," ucap Mara lirih.

__ADS_1


"Aku yang harusnya berterima kasih sama kamu, karena kamu mau menerima aku dan Diandra."


__ADS_2