Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Rencana apa lagi?


__ADS_3

Zia melihat ke arah  ibunya dan bergantian ke arah ayahnya, dia ingin tau maksud perkataan


Binna. Arana kemudian menjelaskan bahwa mereka diundang oleh keluarga pamannya


Tommy untuk datang ke Kanada bulan depan karena paman mereka akan melangsungkan


acara pernikahan dengan tante Mara.


“Ayah sudah bilang pada paman Tommy jika kamu dengan Zia tidak dapat ikut datang ke sana karena keadaan Zia yang sedang hamil dan paman Tommy memakhlumi hal itu.”


Raut wajah Uno seolah terlihat sedih dan kecewa, dia ingin sekali bisa datang ke sana karena dia sangat ingin bertemu dengan Diandra.


“Aku mau ikut ke sana, Bu. Boleh?” tanya Zia langsung.


“Apa? Kamu mau ikut pergi ke sana? Apa kamu yakin?” tanya Arana ingin memastikan.


“Iya, Bu, aku ingin ikut ke sana, nanti aku akan


berkonsultasi dengan dokter kandunganku jadi Ibu tidak perlu khawatir tentang kesehatanku.”


“Zia, kalau dokter tidak mengizinkan kamu tidak boleh memaksa ikut ke sana,” lanjut Uno.


“Aku ingin sekali ikut ke sana karena aku ingin membalas budi pada paman Tommy dan Tante Mara yang sangat baik dengan keluarga kita,


apalagi mereka berdua juga sudah membantu acara pernikahanku waktu itu. Apalagi ada Uno yang nanti bisa menjagaku.” Zia tersenyum pada Uno dan Uno membalasnya dengan tersenyum kecil.


“Ya sudah kalau begitu nanti saat mendekati keberangkatan kita ke Kanada, kita akan menemui dokter spesialis kandungan kamu.”


“Iya, Bu.” Zia melihat ke arah Uno yang tampak termenung, dalam hati Zia berkata jika dia ingin sekali datang ke Kanada bukan karena dia


ingin membuat Uno bahagia bisa bertemu dengan Diandra, melainkan dia ingin


memperlihatkan pada Diandra bahwa dia dan Uno sekarang adalaha pasangan suami


istri yang bahagia dan mereka akan segera memilki bayi, jadi Diandra harus


berpikiran seribu kali jika dia masih mengharapkan Uno bersamanya.


“Arana aku pergi dulu.” Juna mengecup dahi istrinya dan Binna juga berpamitan akan berangkat ke kampus di antar oleh suaminya. Di meja makan hanya tinggal Uno dengan Kak Zia.

__ADS_1


“Kak, apa tidak apa-apa kalau kakak  berangkat ke Kanada?” tanya Uno.


“Tentu saja aku tidak apa-apa, kamu jangan khawatir, anak kita akan kuat sekuat ayahnya.” Zia mnegusap lembut pipi Uno.


“Jujur saja aku sebenarnya juga ingin ke sana, tapi jika keadaan kakak tidak memungkinkan aku tidak akan memaksa.”


“Kamu ingin bertemu Diandra, Ya? Kakak tau hal itu Uno. Kamu nanti bisa bertemu dengannya.” Zia mencoba memberi senyum palsunya.


“Jujur saja aku sangat merindukan Diandra, Kak, tapi aku tidak mau ayah dan Ibu tau, mereka pasti akan memarahiku.”


“Hanya kakak yang tau akan kamu Uno. Maaf  beberapa hari yang lalu kakak sikapnya agak


berubah sama kamu, mungkin ini bawaan bayi kita.” Enak saja, bayi yang di buat kambing hitam. Author tampol ini Zia.


“Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu, Kak.”


“Hati-hati ya, Uno. Ayah hati-hati.” Zia mencoba bersikap manja pada Uno dengan mengusap-usap perutnya seolah bayinya juga mengucapkan selamat jalan pada ayahnya. So manis pokoknya.


Uno hanya tersenyum kecil dan pergi dari sana. Zia tampak senang, dia akan ikut ke Kanada dan bisa membuat Diandra menderita melihat kebahagiaan dirinya dengan Uno.


Binna yang sudah sampai di kampusnya langsung pergi ke lantai atas kelasnya setelah berpamitan pada Kak Devon. Binna, naik dengan wajah yang agak sedih memikirkan sindiran yang tadi di lontarkan oleh kakaknya.


bertabrakan tepat di anak tangga, Binna yang hampir jatuh dengan cepat tangannya di pegang oleh seseorang dan tubuhnya ditarik mendekat hingga Binna dipeluk oleh orang itu.


“Lukas.” Binna kaget melihat pria yang menabrak bahkan memeluknya adalah Lukas.


“Kamu kalau jalan di anak tangga harus hati-hati, Binna, di sini sangat berbahaya kalau sampai jatuh.”


“Maaf, Lukas, tadi aku sedang melamun jadi tidak fokus.” Binna melepaskan pelukan Lukas.


“Kamu sedang melamun? Apa ada masalah sama suami kamu?”


“Em ... bukan sama suamiku, tapi orang lain. Sudahlah! Aku mau ke dalam kelas dulu. Lukas, terima kasih ya!” Seru Binna sambil berjalan pergi dari sana.


Lukas tersenyum kecil, dia lalu berjalan mengikuti Sabinna masuk ke dalam kelasnya. Di dalam Binna duduk sendirian karena Lila ternyata belum datang . Lukas berjalan mendekat ke bangku Sabinna dan dia menarik


bagkunya mendekat ke arah bangku Sabinna.


“Apa kamu baik-baik saja, Binna?”

__ADS_1


“Aku baik-baik saja, Lukas, aku tidak apa-apa.”


“Tapi kenapa aku merasa kamu sedang memikirkan sesuatu, aku mengenal kamu Binna. Katakan saja, aku akan akan mendengarkan semua curhatan


kamu, bagaimanapun juga aku sahabat kamu, kan?”


Binna melihat ke arah Lukas yang sedang menatapnya. Binna ragu-ragu apa harus mencritakan hal tentang dia yang ingin memiliki anak sekarang?


“Aku hanya ribut kecil dengan kakakku Lukas, tidak ada masalah yang serius.”


“Binna, kamu jangan merasa canggung denganku, walaupun kamu dan aku bukan seperti dulu lagi, tapi aku senang bisa bersahabat dengan kamu.”


“Iya, kamu memang dari dulu teman dan sahabat yang baik.”


Tidak lama Lila datang dan melihat Binna duduk berdua dengan Lukas dengan jarak yang berdekatan, saat Lila mau menuju bangku Binna, ternyata dosen mereka sudah masuk ke dalam kelas dan memulaia pelajaran hari ini.


Saat jam istirahat Binna yang masih sibuk dengan pekerjaanya di hampiri oleh Lila, dan Lila duduk di depan Binna.


“Eh, kamu tadi dengan Lukas bicara apa? Kenapa kalian berdekatak begitu?”


“Kenapa? Kamu cemburu sekarang karena mau mendekati Lukas?” sindir Binna sambil melirik ke arah Lila.


“Lah! Siapa yang cemburu? Aku itu hanya mau mengingatkan kamu, kamu itu meskipun sudah saling jujur dengan status kamu, kamu jangan


dekat-dekat seperti itu sama Lukas, tidak enak nanti kalau Kak Devon tau, bisa-bisa dia cemburu.”


“Kak Devon tidak akan cemburu, dia percaya denganku, lagian aku tidak akan mungkin memilki perasaan apa-apa lagi dengan Lukas. Dia tadi hanya ingin mengetahui aku kenapa karena saat tadi masuk kuliah aku tidak


sengaja hampir jatuh di anak tangga dan dia menolongku.”


“Kamu ceroboh sekali, kamu itu sedang mikir apa?”


“Aku kesal sama Kakakku Zia. Dia sedang hamil dan seolah-olah menyindirku karena aku yang menikah lebih dulu, tapi belum hamil.”


“Apa? Kakak kamu sudah hamil?” Lila tampak terkejut.


“Iya dan dia terlihat sangat senang sekali berkata kehamilannya itu.”


“Kok cepat sekali?” Lila berpikir. “Apa itu anaknya kakak kamu Uno?” celetuk Lila. Wkakaka ini anak asal aja ngomongnya.

__ADS_1


__ADS_2