
Dimitri masih duduk di sana dengan Devon dan wanita bernama Miranda. "Miranda, tolong obati juga luka pada Devon," perintah Dimitri.
"Tidak perlu! Aku bisa mengobati lukaku sendiri." Devon melihat malas pada Dimitri.
"Kalau tidak diobati, kalau kamu pulang ke rumah dan Binna melihat kamu begitu, bagaimana kamu menjelaskannya? Dia pasti khawatir sama kamu."
"Aku akan menjelaskan semuanya. Dimitri, aku mohon hentikan semua ini, aku tidak mau melihat kamu mati sia-sia karena masalah seorang wanita. Miranda, apa kamu benaran dijodohkan dengan pria itu? Tapi kalian sudah bertunangan."
"Aku tidak mencintainya, Devon. Aku mencintai Dimitri."
"Kamu gila, ya, Dimitri sudah punya istri dan anak, apa kamu tidak tau itu?"
"Aku tau, tapi Dimitri sudah tidak mencintainya."
"Dari mana kamu tau? Dulu Dimitri dan istrinya saling mencintai bahkan mereka seolah tidak pernah terpisahkan, tapi kenapa kamu malah seperti ini, bahkan dia sudah bersusah payah melahirkan anak kamu."
"Itu bukan bayiku, Devon," jawab Dimitri singkat.
"Apa? Apa maksud kamu?"
"Itu bukan bayiku. Anna sudah mengkhianati aku waktu itu. Di tidur dengan orang lain."
"Bagaimana kamu tau? Bukannya waktu itu kalian menikah karena dia mengandung anak kamu, dan kamu orang pertama yang mengambil hal berharga darinya."
Miranda hanya terdiam mendengar dua saudara itu saling berbicara. "Anna hamil dengan pria lain, aku baru tau jika bayi itu bukan anakku, karena beberapa bulan yang lalu dokter memvonis aku mandul, Devon," Dimitri berucap dengan bibir bergetar.
"Apa? Oh Tuhan! Jadi karena itu kamu berubah menjadi begini?"
"Aku benar-benar sakit hati di khianati oleh dia. Aku tidak bisa meninggalkannya, biar dia saja yang meninggalkan aku, makannya aku selingkuh dengan Miranda. Ternyata aku dan Miranda menemukan kebahagiaan. Miranda tidak pernah menuntutku memberinya keturunan jika suatu hari aku menikahinya. Dia akan mencintaiku dengan tulus."
"Iya, Devon, aku sangat mencintai Dimitri dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dia miliki."
"Apa kamu yakin, Miranda? Kalau Dimitri tidak mempunyai apa-apa, apa kamu masih mau sama Dimitri?"
Miranda mendekat ke arah Dimitri dan menciumnya. "Aku mau, karena memang aku mencintainya. Dimitri sangat baik, lembut, dan menghargaiku sebagai manusia. Walaupun aku tau aku salah. Awalnya aku menolak Dimitri karena dia sudah menikah, tapi setelah dia menceritakan semuanya, aku percaya padanya."
__ADS_1
"Tapi ini salah, Dimitri."
"Aku sudah bilang pada Anna agar memutuskan hubungan pernikahan kita, dan dia boleh kembali dengan pria yang menjadi ayah dari bayinya. Tapi dia tidak mau, karena pria itu tidak mau bertanggu jawab."
"Jadi Anna sebenarnya dari awal kalian pacaran dia sudah mengkhianati kamu?" Dimitri mengangguk.
Sebelumnya di rumah Sabinna, saat Devon barusan berangkat ke rumah Dimitri. Binna turun ke lantai bawah karena mengetahui jika suaminya tidak ada di rumah.
"Pergi ke mana dia? Kenapa dia buru-buru sekali? Apa kekasihnya yang menelepon tadi?" Binna duduk santai di atas sofa. Dia lebih memilih menonton televisi.
Tidak lama pintu apartemen Binna di ketuk oleh seseorang. "Binna! Ini aku Lila. Kamu di dalam, kan?"
"Lila? Ada apa dia ke sini?" Binna beranjak dari tempatnya dan membuka pintu.
"Halo pengantin baru!" Lila melihat dari atas sampai bawah. Wajah Binna tampak aneh melihat tingkah sahabatnya itu.
"Kamu ini kenapa? Ayo masuk." Binna berjalan malas masuk dan kembali membaringkan tubuhnya di atas sofa. "Kamu ada apa ke sini?"
"Wow! Apartemen kamu bagus sekali," Lila takjub melihat apartemen Binna. "Kalian tinggal hanya berdua di sini? Pasti menyenangkan, kalian bisa melakukan semuanya tanpa ada yang mengganggu. Lalu malam pertama kalian bagaimana? Mana kamar kamu, aku mau melihat bentuknya."
"Aku ke sini karena aku kangen sama kamu, dan aku penasaran sama apartemen kamu. Memangnya tidak boleh aku ke sini?" Lila duduk di samping Binna!
"Boleh, saja, tapi kalau kangen, kan, tidak mungkin, kemarin kita juga baru ketemu."
"Eh iya, ceritakan malam pertama kamu dengan Kak Devon. Apa malam pertama itu menyenangkan? Apa kamu tidak takut?"
Binna melirik pada Lila. "Kamu kenapa tanya-tanya hal pribadi begitu? Kamu masih kecil, aku tidak mau membuat pikiran kamu memikirkan yang tidak-tidak."
"Enak saja masih kecil, aku itu sudah lulus SMA, dan kalau ketemu jodohku, aku mau menikah saja."
"Kamu tidak mau kuliah?"
"Kalau aku sudah menemukan pangeran seperti kak Devon, aku tidak perlu susah-susah kuliah. Eh kamu memangnya mau kuliah?"
"Aku mau kuliah, tapi aku belum bilang sama Kak Devon. Aku tidak yakin kalau di bolehin."
__ADS_1
"Coba saja bilang, kalau boleh nanti aku mau deh kuliah sama kamu. Kita bisa satu kampus lagi."
"Kenapa kamu ngikutin aku mulu, sih?"
"Memangnya kenapa? Aku kan senang dekat-dekat kamu, apalagi pas ujian. Wkakakaka!" Lila malah tertawa dengan lebarnya.
"Dasar! Lil, kita keluar yuk? Bosan aku di rumah, aku mau jalan-jalan."
"Lah! Memangnya kamu boleh keluar sama suami kamu? Eh, iya, suami kamu di mana? Aki kok gak lihat?" Lila celingukan.
"Gak tau," jawab Binna ketus.
"Kamu kenapa? Apa ada masalah sama suami kamu?" Binna hanya terdiam. "Kalau ada masalah itu di selesaikan dengan baik, apalagi kalian baru menikah."
"Aku gak mau membahas tentang kak Devon. Aku malas!" Binna berbaring di atas sofa."
"Kalian kenapa, sih? Memangnya apa yang kak Devon lakukan? Kenapa kamu sampai marah seperti itu?"
"Sudah aku bilang, aku malas membahas tentang cowok gak setia itu." Binna cemberut.
"Tidak setia? Maksud kamu? Ayo, Binna, kamu cerita sama aku. Ayo!" Tangan Lila malah menggoyang-goyangkan tubuh Sabinna dengan kencang.
Binna yang kesal langsung bangun dan duduk dengan meneku mukanya. Ini temannya kenapa dia jadi yang heboh begini?"
Binna menceritakan semuanya pada Lila. Mulut gadis manis, tapi agak tambun ini sampai melongo mendengar cerita Sabinna.
"Kamu serius, kalau suami kamu itu selingkuh? Tapi aku lihat kalau kak Devon itu sangat cinta sama kamu. Mungkin cewek itu yang terlalu terobsesi sama kamu, dan rencana dia berhasil membuat kamu marah begini."
"Rencana apanya? Kak Devon itu benaran kepergok sama aku. Dia itu aslinya suka sama Karla, hanya saja dia menurut saja di jodohkan sama aku."
"Sepertinya tidak begitu. Kak Devon, kan, sering mengatakan dia mencintai kamu, dan aku rasa dia tulus mengatakan hal itu."
Binna melirik pada Lila. "Aku salah telah bercerita sama kamu. Kamu, kan, sahabatnya kak Devon, bukan sahabat aku." Binna beranjak dari tempat duduknya."
"Binna! Kamu mau ke mana?"
__ADS_1
"Ganti baju, aku mau jalan-jalan!" teriak gadis itu saat menaiki anak tangga menuju kamarnya.