Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Keadaan Uno


__ADS_3

Arana menegur Zia agar tidak bersikap seperti itu pada Diandra. Zia tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh Arana. Mereka sampai di rumah dan Zia langsung masuk ke dalam rumah tidak mau menunggu ibunya.


"Diandra, mau ibu antarkan ke kamar kamu?"


"Ibu Arana, aku minta maaf atas apa yang sudah aku lakukan sama Uno, tapi memang aku tidak pernah berharap membuat Uno seperti ini."


Arana memegang tangan Diandra, wanita cantik itu mencoba menenangkan Diandra supaya tidak merasa bersalah padanya.


"Kamu tidak perlu memikirkan hal itu. Ibu tau ini semua sudah takdir. Ya sudah! Sekarang kamu ke kamar kamu dan tidur, Ya?" Diandra mengangguk.


Di apartemen Binna pun malam ini tampak dingin, Binna tidur di atas ranjang, dan Devon juga di atas ranjang, tapi mereka saling berjauhan. Binna masih memikirkan keadaan kakaknya, sedangkan Uno tidak mau membuat keributan dulu dengan Binna. Sebenarnya Devon ingin bertanya tentang cowok yang bersama dengan Binna. Namun, sekali lagi dia mengurungkan niatnya. Devon merasa percaya bahwa Binna tidak akan selingkuh dengan pria lain.


Pagi hari Binna sudah bangun, dia mandi lebih pagi agar tidak bertemu di kamar mandi dengan kak Devon. Setelah itu di turun ke bawah untuk membuatkan sarapan untuk dirinya dan suaminya. Hari ini Binna membuatkan sup ayam dan beberapa lauk pauk lainnya.


"Hari ini Kak Devon akan ke kantor, dan aku akan minta di antar saja ke rumah sakit untuk menemani ibunya.


Binna mencari ponselnya dan dia ingat jika ponselnya masih berada di dalam kamar tidurnya. Binna naik ke kamarnya, dan saat membuka pintu dia melihat kak Devon baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Mereka berdua saling melihat sekilas, Kak Devon membuka laci di dekat ranjangnya.


Binna segera mengambil ponselnya, dan saat akan keluar Devon menghalangi jalannya. " Kak Devon mau apa?"


Devon memberikan sesuatu pada Sabinna. Sabinna melihat apa yang suaminya berikan. "Tiket ke Barcelona? Honeymoon?" Binna membelalak melihat tulisan besar yang ada di tiket itu.


"Iya, seminggu lagi kita akan pergi untuk berbulan madu. Kamu sangat menginginkan bisa pergi ke barcelona, Kan?"


Binna mengkerutkan alisnya tanda dia tidak menyukai hal itu. "Aku tidak mau berbulan madu. Apa Kak Devon tidak melihat keadaan kakak aku sekarang, apa etis jika kita malah berbulan madu?"


"Itu masih seminggu lagi, Binna, dan nanti kalau keadaan kakak kamu sudah baikkan. Aku bukan orang yang tidak punya perasaan."

__ADS_1


"Tapi walaupun kakakku sembuh, aku tetap tidak mau berbulan madu."


Devon menarik tangan Binna dan mendekatkan tubuh Sabinna. "Kenapa? Apa karena kamu takut jika kita berbulan madu kamu tidak bisa bertemu dengan cowok teman lama kamu itu?"


"Maaf ya, Kak Devon. Aku tidak seperti Kakak. Jika aku mengatakan berteman, itu batas kita memang hanya berteman. Aku tidak mau berbulan madu, karena aku tidak mau jauh dari kedua orang tuaku, aku takut kak Devon menyakitiku di sana nantinya. Di pernikahan kita saja Kak Devon berani menyakitiku seperti itu, apalagi pergi jauh ke Barcelona.


Binna pergi dengan marah dari kamarnya. Binna duduk di meja makan, dan menyiapkam bekal yang akan di bawa untuk ibunya ke rumah sakit. Kak Devon turun dan duduk di sana. Binna mengambilkan sarapan untuk suaminya.


"Kak, aku mau ikut Kakak nanti berangkat ke kantor. Aku mau pergi ke rumah sakit menemani ibuku di sana."


"Ya sudah, nanti aku antar kamu, dan nanti pulangnya kamu harus menungguku. Jangan ke mana-mana!"


"Iya." Binna hanya melirik pada Kak Devon yang tengah menikmati sarapan paginya. Binna sedikit senang melihat Kak Devon menikmati masakan buatan Sabinna.


Setelah selesai makan, mereka pergi menuju ke rumah sakit.


Sampai di rumah, Zia bertemu dengan Diandra yang sedang menyiram tanaman di taman. "Diandra, kamu kenapa sih tidak pulang saja ke Kanada? Kamu sadar gak, sih? Sejak kamu datang ke rumah ini, Uno banyak sekali mendapat masalah."


Diandra terdiam mendengar ucapan Kak Zia. Diandra juga bingung, ini kenapa kak Zia berubah menjadi begini?


"Aku tidak membawa masalah pada Uno, Kak. Kenapa Kak Zia bicara seperti itu. Aku minta maaf jika membuat Uno seperti ini, ini sama sekali bukan keinginan aku."


"Aku itu sangat menyayangi adikku, dan aku benaran membenci orang yang membuat hidup adikku menderita." Zia langsung berjalan masuk ke dalam rumah.


Perasaan Diandra sangat tidak karuan saat ini. Apa dia memang pembawa hal buruk pada Uno?


"Diandra kamu memikirkan apa? Kenapa kamu diam saja."

__ADS_1


Diandra agak kaget ada ibu Arana di sana. Dia langsung pura-pura tersenyum pada Aranan. "Aku sedang tidak mikirin apa-apa, Ibu Arana."


"Ya sudah! Kalau begitu kamu siap-siap, katanya mau ikut ke rumah sakit. Semoga saja hari ini kita bisa melihat perubahan besar dari keadaan Uno."


"Iya, Bu. Aku berharap Uno bisa secepatnya sadar dan bisa berkumpul lagi bersama dengan kita." Arana dan Diandra pergi ke dalam dan bersiap-siap.


Beberapa menit kemudian Arana dan Diandra sampai di rumah sakit. Mereka bertemu dengan Juna dan Tommy yang sedang duduk berdua di bangku rumah sakit.


"Sayang, bagaimana? Apa ada perkembangan dengan keadaan Uno?"


"Dia masih belum sadar, Arana, tapi kata dokter keadaan Uno masih stabil. Dia tidak apa-apa. Kita tunggu saja sampai dia sadar."


"Ayah Juna, apa kita sudah boleh menemui Uno di dalam?" tanya Diandra.


"Kita tunggu dokternya dulu, ya, Diandra."


"Juna, Tommy, sebaiknya kalian pulang dulu. Sudah semalaman kalian di sini. Pasti sangat lelah. Biar aku dan Zia yang menunggu."


"Iya, Juna, sebaiknya kamu juga harus beristirahat. Semalaman aku lihat kamu berdiri di depan kaca itu melihati putramu."


Tidak lama Binna dan Devon datang, Binna memeluk Ibu dan Ayahnya. Juna dan Tommy akhirnya pulang, dan hanya mereka bertiga, karena Zia akan ke kampus di antar oleh Devon.


Hari ini Diandra libur tidak mengajar musik. Jadi mereka bertiga berkumpul di sana untuk menjaga Uno.


"Ibu sudah makan? Ini aku bawakan makanan, aku tadi memasaknya sendiri." Binna membuka bekal yang tadi dia siapkan.


"Kamu memasak sendiri? Lalu suami kamu berkomentar apa tentang masakan kamu?"

__ADS_1


"Kak Devon gak bilang apa-apa, dia malah menghabiskan sarapannya. Masakan aku pasti enak, karena ibu yang mengajarinya." Binna melihat Diandra berdiri di depan cermin besar, di mana Diandra bisa melihat keadaan Uno dari luar.


__ADS_2