
Uno tampak kaget mendengar apa yang barusan ibunya katakan. "Apa? Kak Zia hamil? Tapi bagaimana bisa?" celetuk Uno.
Arana melihat ke arah Uno yang berdiri di belakangnya. "Tentu saja Zia bisa hamil, kamu dan dia sudah melakukan sesuatu, Uno. Walaupun itu hal yang salah, tapi bayi ini tidak salah."
"Apa, Bu? Aku hamil?" Zia tampak senang dan melihat ke arah perutnya.
"Kita sebaiknya ke dokter dulu untuk memastikan semuanya. Uno, kamu sebaiknya tidak perlu masuk kuliah dulu, kamu ikut ibu ke rumah sakit untuk memastikan hal ini."
"Tapi, Bu. Kak Zia tidak mungkin hamil secepat itu. Bisa saja dia hanya masuk angin atau terkena sakit lambung makannya Kak Zia muntah-muntah."
"Kenapa? Kamu tidak berharap istri kamu hamil, Uno?" tanya Juna.
"Bukan begitu, Yah. Hanya saja ini--?" Uno benar-benar bingung. Kalau Kak Zia sampai hamil pasti rencananya untuk berpisah akan tertunda lagi, ini benar-benar tidak disangka oleh Uno, apa benar dia akan menjadi seorang ayah?
Juna menyuruh Uno mengantarkan ibunya dan Zia ke rumah sakit karena hari ini Juna ada urusan penting. Juna harus menjual salah satu saham bisnisnya karena penipuan yang di lakukan oleh Fabio.
Mau tidak mau akhirnya Uno mengantarkan ibu dan Kakaknya pergi ke rumah sakit. Di sana mereka masih menunggu untuk di panggil. Wajah Zia tampak berseri, bahkan tangannya tampak tidak lepas mengelus-elus perutnya.
"Kak, apa benar Kakak hamil? Lalu rencana kita bagaimana?"
"Uno, kamu kenapa jahat seperti itu? Kamu masih memikirkan tentang ingin berpisah denganku? Kamu akan menjadi seorang ayah, Uno."
Uno terdiam sejenak. "Tapi waktu itu kita hanya melakukan sekali, itupun aku tidak merasa melakukan apa-apa."
"Oh! Jadi sekarang kamu mau bilang jika aku sudah berbuat dengan orang lain? Kamu benar-benar ingin meninggalkan aku dan melepaskan tanggung jawab kamu ini? Uno, apa karena kamu masih sangat mencintainya?"
Zia dengan marah berdiri dari tempatnya. Arana yang melihat wajah Zia berubah marah seketika ikut berdiri dan mencoba menenangkan Zia.
__ADS_1
"Zia, Uno! Jangan membuat keributan di sini. Ini di tempat umum," ucap Arana pelan, tapi di tekankan.
Beberapa orang yang ada di sana melirik ke arah mereka. Zia kembali duduk di tempatnya.
"Kak, kenapa kamu menjadi berubah begini? Bukannya kamu yang membuat ide seperti itu? Kita tidak saling memiliki perasaan apa-apa. Perasaan kita hanya sebatas kakak dan adik, tapi kenapa sekarang--?"
"Cukup, Uno. Kita akan bicarakan masalah ini di rumah," ucap Arana.
Arana sebagai ibu juga bingung dengan masalah yang sedang dialami oleh kedua anaknya ini.
Zia di panggil oleh dokter dan mereka bertiga masuk ke ruangan dokter. Dokter wanita yang usianya sekitar lima puluh tahun itu menyuruh mereka duduk dan memberikan beberapa pertanyaa pada Zia.
"Kalau begitu saya akan memeriksa kamu, silakan berbaring di atas ranjang, dan nanti saya juga akan melakukan pemeriksaan darah dan tes kencing. Hasilnya akan muncul dalam beberapa menit."
Zia berbaring di atas ranjang dan dokter itu menyuruh perawat untuk mengambil darah. Dokter itu juga menyuruh zia melakukan tes kencing.
Setelah melakukan semua tes yang di suruh. Arana dan Zia kembali menunggu di ruang tunggu. Zia sangat khawatir, dia sampai memegangi tangan ibunya.
"Kita tunggu saja hasilnya, Zia."
Uno berdiri dengan gelisah menunggu hasilnya keluar, dia berharap jika kakaknya tidak mungkin hamil, dengan begitu dia akan bisa menceraikan kakaknya. Mengakhiri semua drama rumah tangga yang tidak dia harapkan.
Tidak lama mereka bertiga kembali ke dalam ruangan dokter. "Bagaimana, Dok. Apa saya hamil?" tanya Zia yang seolah penasaran.
"Iya, selamat kamu akan menjadi seorang ibu, Zia?"
Wajah Zia tampak senang sekali. Zia tersenyum pada Ibunya dan Uno.
__ADS_1
"Apa?" Uno tampak sangat terkejut sampai kakinya tidak bisa menopang tubuhnya sendiri. Dia berpegangan pada ranjang di sebelahnya.
Perasaan Arana antara bahagia dan tidak, apalagi saat melihat wajah putranya yang sangat shock mendengar berita itu.
Mereka meninggalkan rumah sakit. Senyum di bibir Zia tidak memudar sama sekali. Dia sangat ... sangat senang sekali akhirnya berita bahagia yang dia tunggu akhirnya datang. Dengan begini Uno tidak akan punya cara untuk berpisah dengannya, Uno akan menjadi milik Zia untuk selamanya.
"Bu, aku merasa tidak enak badan."
"Itu hal biasa dialami oleh wanita yang sedang hamil dan dalam beberapa bulan ke depan kamu pasti akan mengalami hal yang membuat kamu tidak nyaman, misalnya muntah-muntah, tidak enak badan, dan tidak enak makan."
"Aku yakin aku akan bisa kuat untuk mengatasi semua itu, Bu. Ini karena aku menyayangi bayi dalam perutku."
"Bu, apa Ibu bisa menemani Kak Zia di rumah. Aku harus ke kampus untuk menyekesaikan skripsiku." Uno sengaja ingin menenangkan dirinya.
"Uno, aku tau kamu pasti tidak menyukai hal ini, tapi bagaimanapin juga ini adalah anak kamu, anak kita, Uno." Uno tidak bisa berkata apa-apa. "Baiklah! Kalau kamu memang tidak bisa menerima bayi ini. Kita tetap akan berpisah dan aku akan membesarkan sendiri bayi ini."
Zia keluar dari dalam mobil dengan marah dan saat dia melangkah beberapa langkah tiba-tiba Zia jatuh pingsan. Arana yang melihatnya tampak terkejut.
"Zia! Uno, tolong Zia." Arana berlari kecil mendekat ke arah Zia. Pun dengan Uno, dia segera menggendong Zia dan membawanya masuk ke dalam rumah, Uno membaringkan tubuh Zia di atas ranjang dan Arana segera meminta Uno mengambilkan minyak mint untuk membuat Zia supaya tersadar.
"Kak, Kak Zia bangun." Uno duduk di sebelah kakaknya dan menepuk pelan pipi kakaknya.
"Uno, ibu tau kamu tidak akan bisa menerima semua ini? Tapi mulailah berpikirann terbuka, Zia sedang mengandung anak kamu, apa kamu mau terjadi apa-apa pada bayi yang tidak berdosa ini?"
"Bu, aku tidak bermaksud membuat bayi dalam perut Kak Zia kenapa-napa. Aku hanya belum bisa menerima semua ini, hal ini begitu cepat dan membuat aku tidak bisa berpikir dengan baik."
Zia sebenarnya mendengar semua percakapan antara ibu dan anak itu. Dalam hatinya dia merasa sangat senang, dia akan membuat Uno tidak bisa berbuat apapun kecuali harus menurut untuk mau bertanggung jawab.
__ADS_1
"Uno, bersikaplah baik kepada kakak kamu sekarang, jangan membuat kakak kamu berpikiran terlalu berat karena hal itu bisa berpengaruh pada janin di dalam perutnya.
"Jadi maksud Ibu aku harus melupakan Diandra? Melupakan keinginanku untuk bisa. berpisah dengan Kak Zia?" Uno seolah tidak percaya. Mimpinya bersama Diandra benar-benar akan dia kubur dalam-dalam.