Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Dia Menghilang part 2


__ADS_3

Binna hanya diam saja, dia masih saja melihat ke layar ponselnya, berharap Lukas yang menghubunginya karena dari tadi Binna sudah mengirim banyak pesan dan menelepon Lukas, mulai dari telepon whatsapp, sms, telepon biasa, sudah semua Binna lakukan, tapi tetap tidak ada balasan.


"Ih! kamu kenapa, Binna ...!" Suara Lila ditinggikan tepat di telingan Sabinna.


"Lila ...!" Binna berteriak kesal pada Lila. "Kenapa malah berteriak seperti itu?"


"Habisnya kamu diam saja, kamu ini kenapa? cerita sama aku, atau kita makan aja di kantin, aku traktir kamu." Tiba-tiba Lila menggandengan tangan Sabinna dan mengajak keluar dari kelasnya, Lila mengajak Binna ke kantin, mereka duduk di bangku panjang dan saling berhadapan. "Aku pesankan es lemon teh kesukaan kamu, ya."


Lila beranjak dari tempatnya, Binna malah terlihat malas. Tidak lama Lila datang dengan dua gelas minuman di tangannya. "Minum dulu, Binna, biar otak kamu tidak beku, setelah ini ceritakan sama aku, apa yang terjadi dengan kamu."


Binna akhirnya mau minum minumannya. "Lukas ke mana, ya Lil? kok dia kemarin tidak datang ke rumahku, dan sekarang dia tidak masuk sekolah, apalagi dia tidak menjawab semua panggilanku," ucap Binna sedih.


"Hah? Lukas tidak datang ke rumah kamu? apa mungkin dia sedang ada masalah, Binna? Tapi kalau ada masalah dia seharusnya menghubungi kamu atau mengirim pesan, jangan malah menghilang seperti ini."


"Itulah yang membuat aku bingung. Dia kenapa? kenapa tidak menghubungiku?"


"Apa mungkin dia tidak benar-benar serius sama kamu?"


"Apa maksud kamu, Lil? Binna melihat serius pada Lila.


"Mungkin, Lukas tidak benar-benar serius sama kamu, dia belum siapa bertemu sama kedua orang tua kamu, kayak kisah cintanya sepupu aku, dia sudah pacaran lama sama cowoknya, eh saat kedua orang tua sepupuku mau bertemu dengan cowok, cowoknya malah tidak datang, eh dia malah menghilang, dan hanya mengirim pesan jika dia belum siap bertemu dan serius dengan sepupuku, kasihan sepupuku."


Binna tercengang mendengar apa yang Lila ceritakan. "Berarti maksud kamu, Lukas memang hanya ingin main-main saja sama aku? dia tidak mau sampai mempunyai hubungan serius suatu hari nanti sama aku?"


Lila mengangguk-anggukan kepalanya perlahan. "Bisa jadi seperti itu, Lukas belum siapa harus bertemu dengan kedua orang tua kamu, karena kalau biasanya kita berpacaran dan sudah memperkenalkan pada orang tua masing-masing, itu berarti mereka siap untuk hubungan yang lebih serius."


Binna terdiam. "Kamu sudah siap memperkenalkan Lukas sama kedua orang tua kamu, itu berarti kamu serius, Lukasnya yang ternyata tidak."


"Apa benar Lukas masih takut mempunyai hubungan serius sama aku? padahal dia sangat perhatian dan sayang sama aku selama ini." Binna manyun.


"Kalian kan tidak pernah ada kata pacaran. Ya!/walaupun kalian berdua sudah kayak Romeo dan Juliet, tapi mungkij saja Lukas hanya ingin main-maim sama kamu." Lila dengan santai menyeruput minumannya.


Binna lagi-lagi terdia melihat ke arah Lila. "Lukas tidak mungkin sejahat itu sama aku, Lil."

__ADS_1


"Sudahlah! jangan terlalu memikirkan hal itu. Mungkin dia memang bukan jodoh kamu. Nanti pasti kamu mendapat orang yang lebih baik." Tangan Lila mengusap pelan pundak Binna.


"Aku saja tidak pulang hari ini, berharap Lukas datang menemuiku di sini, tapi sepertinya dia tidak akan datang." Binna tampak sangat sedih.


"Sudah jangan di pikirkan. Oh, ya, Binna! ceritakan saja bagaimana wajah cowok yang akan di jodohkan sama kamu itu, aku lupa mau bertanya tentang hal ini sama kamu, kemarin kan aku tidak masuk, bagaimana dia?".


"Dia jelek, gendut, item, meyebalkan," cerocos Binna dengan nada kesal.


"Hah?!" Lila melongo. "Masak sejelek itu? apa ibu kamu tidak salah memilihkan jodoh buat kamu?" Lila melihat Sabinna aneh.


"Iya, baru pertama bertemu saja dia sudah membuat aku terluka."


"Terluka bagaimana?"


"Dia seperti es dikutub utara, benar-benar menyebalkan, aku masih bicara sama dia, dia seolah-olah tidak peduli jika aku menolak perjodohan ini, sampai akhirnya aku berlari mengejarnya, dan aku terjatuh."


"Lalu? dia diam saja? tidak menolong kamu?" Muka Lila serius bertanya pada Binna.


Mata Lila membelalak tidak percaya. "So sweet banget, sih Binna! berarti dia cowok yang bertanggung jawab sama kamu. Kenapa kamu tidak sama dia saja?" Lila reflek menepuk pundak Sabinna.


"Sakit, Lila!" Binna mengusap pundaknya yang di pukul sama Lila. "Aku tidak mau sama dia! aku masih berharap Lukas menjelaskan semua sama aku, aku mau tau tentang perasaan Lukas sebenarnya sama aku, kenapa dia selalu bersikap baik dan perhatian kalau dia tidak mencintaiku." Binna menundukkan kepalanya pada meja di depannya.


"Huft! kenapa malah memikirkan Lukas lagi."


"Selamat siang," sapa seseorang yang berdiri tepat di belakang Sabinna.


"Si-siang." Lila terperanga melihat sosok pria yang ada di depannya. "Ka-kamu siapa?" Tanya Lila terbata. Lila sebenarnya terpesona melihat pria di depannya yang menurutnya sangat tampan itu.


"Aku sedang mencari Sabinna," ucapnya tegas.


"Sa-Sabinna?" Lila melihat ke arah Sabinna yang sepertinya tidak sadar kalau ada seseorang yang ada di belakangnya, di pikirannya hanya mikiran Lukas terus. "Bi-Bina, ada yang mencari kamu." Tangan Lila menggoyang-goyangkan tubuh Sabinna.


"Ada apa, Lila?" Tanya Binna kesal.

__ADS_1


"Itu ada yang mencari kamu." Telunjuk tangan Lila menunjuk pada pria yang ada di belakang Sabinna.


Sabinna menoleh, dan dia sangat kaget melihat sosok pria yang ada di depannya. "Kak Devon!" serunya.


"Aku mau menjemputmu, Binna," ucapnya datar.


"A-apa? menjemput? memangnya siapa yang menyuruh Kak Devon menjemputku? lagian aku sudah ada supir yang mengantar jemput aku!" serunya sekali lagi kesal.


"Binna, dia siapa?" Tanya Lila yang dari tadi mendengarkan percakapan Sabinna dengan Devon.


"Dia pria si es kutub utara itu!"


"Ah ...!" Lila sampai terkejut, bahkan mulutnya sampai menganga. "Jadi dia calon suami kamu? dia seperti pangeran tampan, kamu bodoh sekali tidak mau sama dia!" celetuk Lila.


"Lila!" Binna melihat kesal sama Lila. Lila lalu nyengir pada Binna.


"Aku sudah meminta izin sama ibu kamu untuk menjemput kamu."


"Apa maksud kamu?" Tanya Binna heran.


Tidak lama ponsel Binna berdering dan ternyata Arana yang menghubunginya, Arana mengatakan supaya Binna pulang sama Devon, nanti di rumah, Arana akan menjelaskan alasannya.


"Ayo sekarang kita pulang, Binna."


"Tidak mau! aku masih ada latihan menari hari ini, kamu pulang saja, nanti aku bisa pulang sama Lila." Binna melihat aneh pada Lila seolah memberi isyarat.


'Menari? bukannya hari ini Binna tidak ada latihan menari,' ucap Lila dalam hati.


Waduh bakalan rame ini. Wkakaka!


Ini si cowok es kutub utara, buka es puter ya.


__ADS_1


__ADS_2