Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Kencan Dadakan Part 2


__ADS_3

Kak Devon masih stay di atas motornya, dia malahan diam tidak menyalakan mesin motornya, Sabinna yang duduk di belakangnya menjadi heran.


"Kak, kenapa tidak jalan? Jangan membuat aku telat pergi ke tempat latihan aku!" serunya kesal.


"Aku tidak mau jalan kalau kamu tidak mau berpegangan padaku, lebih baik aku menunggu."


Sabinna terdiam, kali ini dia tidak mau kalah dengan si cowok kutub utara ini. "Aku sudah pegangan pada motor Kak Devon, jadi kakak tidak perlu khawatir," ucapnya tegas.


"Baiklah! Jangan salahkan aku jika nanti aku ngebut untuk dapat cepat sampai di tempat latihan kamu." Kak Devon terlihat kesal, niatnya hanya ingin Sabinna sudah tau seperti biasa naik motor dia harus berpegangan padanya, tapi dasar Binna.


Kak Devon menyalakan motornya, dan Binna yang wajahnya terlihat dari balik kaca spion yang di lihat Devon mulai memejamkan kedua matanya, dia sepertinya masih takut. Kak Devon yang melihatnya jadi tidak tega. Tangannya menjulur ke belakang dan menarik tangan Binna kemudian memaksa Binna memeluknya. "Jangan sok berani."


Binna terdiam dengan posisi memeluk Kak Devon. Akhirnya mereka berangkat ke tempat latihan Sabinna. Sesampai di sana Binna langsung turun, dia tidak peduli dengan kak Devon, Binna langsung masuk ke dalam tempat latihan dan berganti baju. Devon berjalan perlahan memasuki tempat latihan tari Binna.


"Binna kamu datang sama siapa? Diantar si kalem Lukas?" tanya salah satu teman Binna.


"Bukan, aku di antar supir baru ayahku!" ucap Binna seenaknya. Binna yang sudah bersiap dengan celana panjang ketat berwarna abu-abu dan baju model sabrina di salah satu sisinya, keluar dan melakukan pemanasan.


Kak Devon duduk bersandar di sofa di sana sambil matanya fokus memperhatikan calon istrinya itu meliuk-liukkan tubuhnya lentur dan beriraman. "Kenapa aku bisa sangat menyukai gadis ini? Aneh sekali?" kak Devon berdialog sendiri.


Tidak lama ponsel Devon berbunyi, dia melihat nama Karla pada layar ponselnya. "Halo."


"Hai, D, kamu kapan kembali ke Belanda? Aku tidak punya kamu lama-lama di Indonesia," suara gadis di seberang telepon itu manja.


"Aku lusa kembali ke Belanda, aku masih ada urusan penting di sini. Oh ya, bagaimana kabar ayah kamu? Apa ayah kamu sudah baikan?"

__ADS_1


"Ayah masih di rawat, dan aku masih gantian menjaga ayahku di sini dengan saudaraku. Aku beberapa hari ini menunggu kamu datang ke rumah sakit, tapi aku mendengar kamu sedang berada di Indonesia.


"Iya, aku masih ada uruasan di sini, mama dan ayahku sudah kembali ke Belanda hari ini."


Dari kejauhan Sabinna yang menari tiba-tiba melihat ke arah kak Devon yang ternyata masih asik berbicara lewat telepon dengan temannya. "Dia sedang bicara sama siapa? Kenapa dia tampak sangat senanga begitu? Lihat saja, dia sampai tersenyum begitu?" Sabinna memperhatikan dengan kedua alisnya hampir menyatu.


Hampir 2 jam akhirnya latihan itu selesai, Binna terlihat sangat senang, dari raut wajahnya dia tidak tampak capek sama sekali. Binna masuk ke dalam ruang ganti dan berganti baju, kemudian dia melihat sekitar tempat latihan ternyata sudah sepi. Binna baru berjalan keluar dan menemui Kak Devon yang duduk menunggu di sana.


"Kak, ayo cepat kita pergi dari sini. Aku sudah selesai latihannya." Binna menarik tangan Kak Devon membawanya ke tempat parkir motornya.


"Kamu kenapa? Kenapa terlihat buru-buru?" Kak Devon dan Sabinna berjalan agak cepat ke tempat motor mereka.


"Aku tidak mau teman-temanku ada yang melihat aku sama kak Devon, pasti mereka bertanya-tanya nantinya." Binna mengerucutkan bibirnya.


"Apa? supir?" Kak Devon memberikan tatapan tajam pada Sabinna.


Binna seketika bingung dan terkejut, dia tidak menyangka kalau temannya Miranda masih ada di sana. "Jangan lupa ya, Binna. Bye!" Gadis itu pergi dari sana sambil terkekeh.


"Kamu mengatakan pada teman kamu kalau aku supir kamu?"


"Dia suka banyak tanya, tadi dia bertanya aku datang sama siapa? Aku bilang saja sama supir baru aku, kalau aku bilang sama teman cowok atau saudaraku dia pasti akan bertanya lebih jauh, aku malas, dia itu ratu gosip di sekolahku. Sudahlah, Kak! Tidak perlu membahas ini."


"Apa kamu malu mengatakan jika aku calon suami kamu?"


"Aku tidak mau sampai mereka atau teman-teman aku tau jika aku dijodohkan sama kakak, aku seolah menjadi gadis yang hidup di zaman dulu, dapat suaminya dari hasil perjodohan."

__ADS_1


"Apa salahnya?"


Binna memutar bola matanya jengah, dia memakai jaket dan mengambil helm dari tangan kak Devon dengan kasar. "Ayo, sekarang kita mau ke mana!"


"Kita akan makan siang dulu, kamu pasti lapar setelah tadi menggerakkan tubuh kamu seperti itu." Devon memakai helmnya dan naik ke atas motor, Devon sangat terkejut, tiba-tiba tangan Sabinna memeluknya dari belakang, tanpa di minta paksa oleh Devon. Tertarik senyum di sudut bibir cowok dengan tatapan yang bisa meluluhkan hati author itu. Wkakakak!


Mereka sampai di sebuah mall yang besar, dan Devon dengan cepat menggandeng tangan Sabinna saat berjalan masuk ke dalam mall. Sabinna yang tangannya tiba-tiba di gandeng sangat terkejut, dia mencoba menarik tangannya samar, hanya saja gandengan tangan Devon lebih kuat, akhirnya dia membiarkan saja tangannya di pegang oleh cowok itu.


"Kamu mau makan apa, Binna?" Tanya Devon yang sudah duduk dengan Sabinna di restoran dan mereka saling berhadapan.


"Terserah kakak saja," jawab Sabinna malas.


"Ya sudah aku pesankan kamu saja. Mas, aku pesan dua bistik daging dan satu capuccino dingin dan satu lagi jus jambu merah," ucap Devon pada pelayan restoran di sana.


Binna langsung menoleh ke arah Kak Devon yang sekarang duduk bersandar pada kursinya sambil tangannya dilipat ke depan menatap Sabinna dengan sorot mata indahnya.


'Kenapa kak Devon tau sekali minuman kesukaan aku? Aku tadi ingin memesan makanan dan minuman itu, tapi membayangkan makan bersama dia saja aku sudah kenyang.'


Mereka berdua saling diam tanpa ada pembicaraan. Sampai makanan mereka datang. Mereka makan siang bersama, ternyata Binna sangat menyukai bistik daging di sana, dia makan dengan lahapnya, Devon yang memperhatikannya tersenyum samar.


"Binna, kamu ingin konsep pernikahan yang bagaimana, nanti untuk pernikahan kita?" celetuk Devon di sela-sela makan siang mereka.


"Uhuk ... uhuk ...!" Binna langsung kaget sampai terbatuk mendengar pertanyaan dari Devon.


Binna terkejut ... Tapi Devon ini memang harus gerak cepat sebelum si kalem bernama Lukas datang. Besok masih kencan ya.

__ADS_1


__ADS_2