
"Uno, kamu tidak bangun? Ini sudah pagi. Ayahku juga pasti mau ke sini untuk menyuruhku bersiap-siap."
"Nanti saja, aku masih ngantuk." Uno malah memeluk gulingnya, dan masih di balik selimut Diandra.
"Tapi kalau ayahku datang bagaimana?"
"Ini masih pagi sekali, Diandra. Ayah kamu tidak akan datang ke sini, aku benar-benar masih mengantuk karena semalaman aku terjaga untuk menjaga kamu."
Diandra yang bersandar di di atas ranjangnya melihat ke arah Uno. "Kamu kenapa semalam terjaga?
"Aku menghkawatirkan kamu, Sayang. Kau takut kamu merasakan sakit di badan kamu."
"Ya ampun, Uno! Kenapa kekhawatiran kamu melebihi ibu Arana dan ayahku?"
"Karena aku mencintai kamu." Uno berbicara masih dengan mode mata tertutup dan memeluk guling tidurnya erat.
Diandra memeluk kekasihnya itu, dan mencium dahi Uno. "Kenapa mencium keningku? Kenapa tidak mencium yang lainnya," celetuk Uno masih dengan mode mata tertutupnya.
Diandra tersenyum dan mendekat kembali hendak mencium bibir Uno, tapi Uno malah dengan cepat menarik Diandra dan mencium dengan lekat bibir Diandra.
"Uno! Kamu itu jahil sekali," gerutu Diandra kesal. "Cepat keluar dari kamarku, nanti ayahku datang bagaimana?"
"Nanti saja, tidak akan ketahuan, kamu tenang saja." Uno kembali malas-malasan dan memejamkan kedua matanya, dia malah menghirup aroma tubuh Diandra yang tertinggal di atas tempat tidur.
"Aku mandi dulu kalau begitu."
"Hem ...!"
Ini Uno kayaknya masih ngantuk sekali. Diandra masuk ke dalam kamar mandi. Beberapa menit kemudian, terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar Diandra.
"Diandra sayang, kamu sudah bangun?" Diandra yang barusan keluar dari kamar mandi sontak kaget dan dengan cepat merabah ranjangnya dan menepuk-tepuk tubuh Uno.
"Uno, ada ayahku."
"Hem ...!"
"Bukan hem, Uno! Ada ayahku di luar."
"Buka saja, aku masih ngantuk."
__ADS_1
"Ya Tuhan! Apa kamu mau ayahku melihat kamu di dalam kamarku?" Diandra menepuk jidatnya.
Uno yang baru sadar langsung berjingkat kaget. "Ayah kamu di luar?" tanyanya kaget. Diandra menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah kamu buka saja. Aku akan sembunyi."
Uno langsung berpindah ke bawah ranjang, Diandra yang merasa Uno sudah hilang entah ke mana membuka pintunya.
"Sayang, kamu lama sekali membuka pintu, apa kamu baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja, Yah. Tadi aku masih di kamar mandi. Ayah masuklah dulu."
Flashback off.
Tommy membawa Diandra turun dan Arana juga turun ke bawah. Di bawah ranjang, Uno yang mendengar suara tenang, dia perlahan-lahan keluar dari tempat persembunyiaannya.
"Huft! Pagi-pagi membuat orang spot jantung saja." Uno mengelus dadanya. "Sebaiknya aku cuci muka dulu, dan tiba-tiba kenapa ini kebelet, ya?" Uno masuk ke dalam kamar mandi Diandra, dan buang air kecil di sana, Uno juga mencuci mukanya.
Saat akan keluar, tidak sengaja Uno melihat ada sesuatu di gantung di sana. Uno tersenyum melihat pemandangan pagi ya menurutnya sangat indah. "Warna merah yang cantik. Secantik orangnya."
Ampun! Ini anaknya Juna, jangan traveling ke mana-mana ya, Uno. Tetap jadi anak yang baik kek bapaknya. Wkakakka.
Uno dengan cepat menoleh ke arah suara itu, dan ternyata itu adalah kakaknya, yaitu Zia. "Kak Zia, aku tadi sedang mencari Diandra di dalam kamarnya, tapi dia tidak ada."
"Diandra ada di bawah dengan ayahnya. Mereka sedang sarapan pagi, malahan ibu menyuruh aku mencari kamu, ternyata kamu ada di sini, kata ibu tadi kamu tidak ada di kamar kamu."
"Aku habis dari lantai atas berolahraga di balkon paling atas. Ya sudah, aku mandi dulu, Kak. Aku juga mau ke kampus." Uno segera masuk ke dalam kamarnya sendiri.
Zia yang melihatnya menggenggam erat kepalan tangannya. "Aku sudah tau semuanya, Uno. Kamu tidak perlu berbohong padaku. Lihat saja, kekasih yang paling kamu cintai itu akan aku singkirkan seperti aku menyingkirkan gadis agresif bernama Cerry itu."
Dia Zia. Dia lebih kejam dari musuh Arana dan Juna dulu.
Mereka semua berkumpul di meja makan, Arana tampak kaget melihat putranya baru turun dari anak tangga sudah dengan pakaian lengkapnya mau berangkat kuliah.
"Uno, kamu itu menghilang ke mana? Ibu tadi mencari kamu, tapi kamu tidak ada."
"Aku ada di balkon lantai atas untuk yoga."
"Apa? Yoga? Kenapa di lantai atas? Biasanya di tempat gym?"
__ADS_1
"ingin ganti suasana, Bu. Memangnya ada apa ibu mencariku?"
"Ibu mau minta tolong kamu memperbaiki motor ibu. Kamu kan jago dalam hal itu?"
"Nanti saja pulang kuliah, aku akan melihatnya." Uno melihat ke arah Diandra, Uno tersenyum. Akakaka! Sepertinya ada yang di bayangkan oleh Uno.
Tidak lama Mara datang dan mereka bertiga berpamitan akan pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaan Diandra.
"Paman, semoga hasilnya baik-baik semua," celetuk Uno.
Tommy menoleh dan tersenyum pada Uno. Kemudian mereka berangkat, Uno juga izin ke kampusnya, Zia masih di rumah menunggu Dion
"Zia, nanti ayah mau bicara sama kamu."
"Iya, Yah." Juna pun akhirnya berangkat ke kantor, tinggal Zia dan Arana yang ada di meja makan."
"Zia, kamu sudah berapa lama mengenal, Dion?"
"Baru saja, Bu. Memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa, Ibu hanya bertanya, dan kamu tetap harus berhati-hati dengan orang yang baru kamu kenal, kamu harus tau siapa dia. Apalagi kamu baru saja mengenalnya, ibu dan ayah khawatir sama kamu, Sayang. Kamu juga seorang anak perempuan."
"Ibu tenang saja, aku bisa menjaga diriku dengan baik. Jadi kalian tidak perlu khawatir."
"Ibu percaya sama kamu, Nak." Arana beranjak dari tempatnya dan mengambili beberapa piring makanan yang kotor, dan saat di samping Zia--.
"Bu, apa benar aku anak dari mantan kekasih ayah, Juna?"
Arana langsung meletakkan sendok dan garpu yang tadi di pegangnya. Dia melihat ke arah Zia yang duduk santai menghabiskan makanannya.
"Zia, sebenarnya, ceritanya panjang. Nanti ayah kamu akan menjelaskan semuanya." Arana mencoba tersenyum.
"Kenapa Ibu masih mau mengasuh dan membesarkan aku? Padahal aku anak dari mantan kekasih ayah. Apa itu tidak menyiksa batin Ibu?"
"Ibu sama sekali tidak merasa tersiksa, Zia. Ibu menyayangi kamu seperti Uno dan Binna."
Arana segera merapikan piring-piring itu dan masuk ke dalam dapur, ada beberapa pelayan juga membantu, tapi Arana ini selama dia bisa, dia akan melakukan pekerjaan rumah.
"Sebenarnya kamu bukan merasa tersiksa, ibu. Kamu hanya merasa bersalah saja sudah merebut ayah Juna dari tangan Ibuku, sampai dia akhirnya bertemu dengan seorang pria yang berengsek itu." Tatap Zia tajam. "Kenapa orang-orang itu jahat sekali pada Ibuku?"
__ADS_1