
Tommy semakin penasaran, sebenarnya apa yang sudah terjadi antara Mara dan calon suaminya waktu itu.
"Coba ceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan Mara. Asta?"
"Begini, Tom."
Tiba-tiba ponsel Asta berbunyi, Asta melihat ada nama Mara di sana Asta memberitahu jika Mata meneleponnya.
"Halo, Mara. Ada apa?"
"Asta kamu di mana? Apa kamu sudah mengurus semua dokumen penting milikku yang akan kita bawa ke Paris?"
"Aku belum menyiapkannya. Aku sedang ada urusan di luar."
"Urusan di luar? Urusan dengan siapa? Kekasih kamu?"
"Iya, aku sedang bersama kekasihku." Asta melihat ke arah Tommy.
Muka Tommy langsung berubah tidak enak. Tommy membuang mukanya pada Asta, dia menikmati teh hangatnya.
"Ya sudah kalau begitu. Nanti segera siapkan dokumen yang aku butuhkan."
"Pasti. Mara, apa kamu serius tidak ingin merayakan ulang tahun kamu di sini dengan Tommy? Kamu mau menghindari dia? Acara itu kan bisa kamu wakilkan aku saja."
"Aku ingin menanganinya sendiri, lagian aku ingin menikmati kesendirian aku di sana. Aku juga tidak mau merusak kebahagiaan Tommy dengan Tommy."
"Ya sudah, kalau begitu nanti kita bicara lagi."
Asta mematikan panggilannya. Tommy kembali melihat pada Asta. "Jadi kamu bukannya tidak ditanggapi, tapi karena Mara tau siapa kamu sebenarnya."
"Memangnya aku kenapa? Kamu kira aku suka dengan sesama jenis? Aku masih normal, aku tadi hanya berbohong sama dia."
"Ya sudah, lanjutkan saja apa yang tadi ingin kamu ceritakan tentang Mara?"
"Mara dulu memiliki calon suami, mereka saling mencintai. Bahhkan beberapa hari menjelang pernikahan mereka terjadi kecelakaan yang menyebabkan Mara harus menolong calon suaminya itu yang terjebak dalam kecelakaan."
"Kecelakaan?"
__ADS_1
"Iya, mereka berdua hendak pergi ke suatu tempat, tapi naas, terjadi kecelakaan mobil yang di kendarai calon suami Mara. Akhirnya Mara yang tidak memperdulikan dirinya ingin menyelamatkan calon suaminya. Menyebabkan Mara harus mengalami luka pada rahimnya sehingga rahimnya harus diangkat, dan Mara tidak akan mempunyai kesempatan untuk memiliki keturunan."
"Oh Tuhan! Saat mengetahui hal itu, calon suami Mara malah memutuskan membatalkan pernikahannya, bahkan orang tua pria itu menyuruh meninggalkan Mara karena mereka tidak akan pernah mendapatkan calon penerus jika putra satu-satunya menikah dengan Mara."
"Apa karena itu Mara tidak mau menerimaku?"
"Iya begitulan. Dia takut tidak bisa membahagiakan kamu karena tidak bisa memberi kamu keturunan."
"Kenapa Mara sampai berpikiran seperti itu? Aku mencintai dia apa adanya. Bahkan aku tidak akan menuntut dirinya untuk memberiku seorang anak. Kita sudah memiliki putri, yaitu, Diandra. Diandra sudah menganggap Mara seperti ibunya."
"Trauma dia terlalu dalam, Tom. Dia takut sekali dekat dengan seseorang karena hal itu.Maka dari itu, hidupnya dia gunakan hanya untuk bekerja dan bekerja. Namun, dia sudah jatuh cinta lagi dengan seseorang, yaitu, kamu."
Tommy terdiam sejenak, dia sangat mencintai Mara dan dia akan menerima keadaan Mara apa adanya.
"Asta, terima kasih kamu sudah menceritakan semua padaku. Sekarang aku tau apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan cinta Mara."
"Jadi kamu serius akan tetap mencintai Mara, Tom? Kamu tidak akan meninggalkannya setelah mengetahui keadaan Mara yang sesungguhnya?"
"Tentu saja tidak, Asta. Mara wanita yang hebat dan sangat baik. Hanya itu yang aku butuhkan dari dirinya."
Asta tiba-tiba memeluk Tommy dengan erat. "Kamu memang pria yang dijodohkan dengan Mara, Tom."
"Lalu apa kamu akan menemui Mara setelah ini, Tom?"
"Asta, apa kamu mau membantuku sekali lagi?"
"Bantu apa? Soal Mara? Tentu saja aku mau membantu kamu."
"Asta dengarkan aku." Tommy mengatakan rencananya pada Mara. Wajah Asta seketika terlihat tersenyum bahagia.
Malam harinya, Kak Devon datang ke sana untuk menjemput Sabinna. Arana menyuruh mereka untuk makan malam sama-sama di rumah.
Tidak lama Diandra datang dijemput oleh Uno. Zia yang melihatnya tampak tidak suka
"Kamu dari mana saja Uno? Bukannya kamu belum sembuh? Kamu jangan kelayapan ke mana-mana."
"Aku tidak kelayapan, Kak. Aku hanya menjemput Diandra dan tadi kita mampir sebentar ke toko kue, Diandra ingin membelikan kue untuk camilan kita di rumah." Uno menunjukkan box kuenya."
__ADS_1
"Apa kue itu pantas jika di bandingkan dengan kesehatan kamu, Uno? Kamu harus memikirkan hal itu. Kamu tidak kasihan Ibu dan Ayah cemas saat melihat kamu seperti waktu itu. Diandra bisa di jemput supir atau ayahnya."
"Kakak kenapa sih? Jangan bicara seolah menyudutkan Diandra, dia itu tidak pernah bermaksud menyakiti aku. Aku sendiri yang ingin menjemput dia."
"Kak, aku minta maaf sama Kak dan kalian semua jika aku sudah membuat kalian cemas tentang kesehatan Uno. Lain kali aku tidak akan membuat kalian cemas lagi."
"Diandra, tidak ada yang menyalahkan kamu. Maafkan Zia, dia hanya khawatir saja. Sudah kita makan bersama dulu."
"Kenapa Kak Zia seperti itu sama Kak Diandra? dia seolah rival kak Zia saja," gerutu Binna pelan pada suaminya.
"Sudah, Binna. Kamu juga kenapa sepertinya sebal sama kakak kamu itu?"
"Dia terlihat jahat."
"Binna, ayo makan. Ambilkan makanan untuk suami kamu."
"Iya, Bu." Binna menyudahi gibahnya dengan kak Devon mereka makan bersama di meja makan, di meja makan hanya Juna dan Tommy yang belum datang, mereka tadi menghubungi jika akan pulang terlambat.
"Kak, Zia. Aku mau tanya. Bolehkan?" tanya Binna
"Mau tanya apa, Binna?"
"Kak, aku tadi pagi melihat Kak Zia sedang berbicara dengan seorang pria yang usianya seusia ayah. Dia siapa, Kak?"
Zia langsung terdiam dan melihat seriuas pada Binna. "Kamu seperti mata-mata saja, kamu suka mengikuti, Kak?"
"Siapa yang mengikuti Kakak? Aku dan Kak Devon tidak sengaja melihat kalian berbicara di pinggir jalan."
"Dia orang yang aku mintai tolong untuk mengurus acara pesta ulang tahunku."
"Tapi kok penampilannya begitu? Tidak mencerminkan seperti orang EO. Lagian kenapa juga kalian bertemunya dia pinggir jalan begitu?"
"Kita janjian sebentar di sana karena dia ingin menyerahkan contoh beberapa dekorasi acara itu, dan soal penampilannya itu kamu jangan menilah seseorang dari penampilan luarnya. Belum tentu orang itu buruk karena penampilannya buruk, dan ada orang dengan penampilan baik, tapi sifatnya buruk."
"Apa benar dia orang EO? Aku tetap tidak yakin." Binna malah kekeh.
"Kamu lihat saja nanti acara pesta ulang tahunku. Kalau kamu mau datang."
__ADS_1
"Kak--."
Kak Devon langsung memegang tangan Sabinna, Kak Devon berharap supaya Sabinna tidak meneruskan kata-katanya.