
Arana membuat kesepakatan dengan Zia jika dia tidak akan bicara apa-apa dulu dengan Juna, dia akan membiarkan Zia yang berbicara sendiri pada Juna, dan nanti Dion juga akan di bawa untuk menemui Juna.
"Sayang, apa kamu benar tidak membutuhkan bantuan ibu untuk acara kamu?"
"Tidak usah, Bu. Semua bisa aku sendiri. Lagian aku tidak mau merepotkan Ibu, Ibu duduk manis saja dan semua acaraku akan berjalan dengan lancar."
Arana akhirnya percaya saja, karena memang putri sulungnya itu gadis yang pandai dan dia mandiri.
"Sayang, bagaimana kabar kamu?"
"Aku baik-baik saja, Yah. Ayah sendiri bagaimana dengan tante Mara? Apa kalian bertemu dan kalian bersama lagi?
"Ayah akan memberitahu kamu berita bahagia, Sayang."
"Berita bahagia? Berita bahagia apa? Tentang hubungan tante Mara dan ayah?"
"Iya, ayah baru saja merayakan hari ulang tahun tante Mara, dan ayah tadi melamar Tante Mara, Sayang."
"Apa? Lalu, ayah di terima?"
"Tentu saja, ayah diterima oleh Tante Mara. Ayah akan menikah dengan tante Mara setelah urusannya di sini sudah selasai."
"Yeah!" teriak Diandra kegirangan. "Ayah serius, Kan? Ayah tidak berbohong sama aku?" Diandra seolah tidak percaya.
"Tentu saja ayah tidak berbohong. Tadi ayah melamarnya dan ayah ingin dia menjadi istri sekaligus ibu buat kamu. Kamu sangat menyayanginya bukan?"
"Iya, aku ingin tante Mara bisa menjadi Ibu aku yah."
"Ya sudah, kamu nanti jangan lupa menghubunginya, kamu belum mengucapkan selamat ulang tahun pada calon ibu kamu, kan?"
"Kan ayah yang menyuruhku untuk tidak menghubungi tante Mara, sesuai rencana kita."
"Iya. Besok kamu hubungi tante Mara, sekarang ayah mau istirahat sebentar."
"Aku sayang ayah."
"Ayah juga sayang kamu." Mereka mengakhiri panggilan teleponnya.
Ini Tommy di sana sekitar jam 4, sedangkan di Indonesia jam 10 an. Diandra berjalan meraba-raba mencari keberadaan Ibu Arana, dia ingin sekali memberitahu berita bahagia yang barusan dia dapatakan dari ayahnya.
__ADS_1
"Diandra, kamu ini ada apa? Kenapa mukanha tampak senang sekali begitu?"
Arana yang barusan turun dari kamar Zia melihat Diandra tampak bahagia.
"Ibu Arana, aku senang sekali."
"Senang karena apa?"
"Tadi ayahku menghubungiku dan bilang jika ayah sudah melamar tante Mara di Paris, dan ibu tau? Tante Mara menerimanya."
"Benarkah? Bukannya Mara bilang dia ingin ayah kamu untuk menjauhinya, tapi sekarang kenapa jadi berubah?"
"Mungkin tante Mara punya alasan sendiri mengenai hal itu. Nanti saat pulang aku akan menanyakan pada ayah."
"Sebentar lagi di sini kita akan banyak mendengar berita bahagia. Ayah kamu dan Mara, nanti Zia dan Dion, setelah itu kamu dan Uno."
Wajah Diandra merona malu. "Aku senang sekali mendengar kalau Kak Zia juga akan bersama dengan Kak Dion."
Zia melihat Diandra dan Ibunya sedang berbicara, dan tampak wajah Diandra sangat bahagia. "Ibu, kalian sedang bicara apa? Kenapa kalian terlihat sangat behagia?"
"Kami barusan mendengar kabar jika paman kamu Tommy sudah melamar tante Mara. Diandra sebentar lagi akan memiliki seorang ibu."
"Iya, Kak. Aku sangat bahagia, aku akan memiliki seorang Ibu yang aku impikan sejak dulu."
'Bahagialah kamu sekarang Diandra karena sebentar lagi kamu akan aku buat menangis darah.' Zia menatap Diandra dengan tatapan sinis, tapi ada senyuman.
Arana sekali lagi agak kager melihat tatapan putrinya itu.
***
Hari yang di tunggu Zia pun datang, semua sudah tampil cantik di ballroom hotel di mana Zia akan merayakan pesta kelulusannya. Arana agak sedih karena Binna dan Devon tidak dapat hadir, tidak hanya itu. Tommy dan Mara juga tidak bisa hadir karena mereka masih akan kembali ke beberapa hari lagi.
"Kamu cantik sekali dengan gaun berwarna hitam itu," bisik Uno pada telinga Diandra.
"Benarkah? Sayang sekali aku tidak bisa tau wajah kekasihku yang banyak di sukai para gadis."
"Kamu bayangkan saja aku seperti pangeran berkuda putih dan siap menjemput kamu."
"Huft! Kamu lupa? Aku dari kecil tidak bisa melihat, aku mana mungkin bisa membayangkan seorang pangeran. Aku melihat pangeran di televisi saja tidak pernah."
__ADS_1
"Maaf," ucapnya pelan. "Diandra, aku sudah tidak sabar menunggu bisa menikahi kamu."
"Sabar dulu, kita menunggu kak Zia dan Kak Dion menikah dulu, lalu ayahku."
"Masih lama lagi? Kita duluan saja, lalu aku ingin mengajak kamu pergi dari sini. Hanya kita berdua." Tangan Uno malah menelungsup ke dalam sela gaun Diandra yang bagian belakangnya ada lubang tipis, tapi agak panjang.
"Uno!" Diandra agak meliukkan punggungnya agar Uno tidak melakukan hal itu, Diandra tidak mau kalau sampai ada orang yang melihat sikap Uno yang nakal itu.
Mereka tidak sadar jika dari tadi kedua mata Zia selalu memperhatikan gerak gerik mereka. Raut wajah Zia penuh dengan kebencian melihat ke arah Uno yang mesra dengan Diandra.
Acara akhirnya di mulai, semua yang hadir di sana tampak senang dan terhibur dengan sambutan MC acara itu yang sangat humoris bisa menciptakan suasana yang menyenangkan.
"Zia, cem-ceman kamu mana? Kenapa dia tidak datang ke sini? Atau jangan bilang jika kamu tidak punya cem-ceman ya?" tanya MC cowok yang berbicara dengan logat genitnya.
"Hah? Cem-ceman? Apa itu?" Zia tampak tidak mengerti maksud MC itu.
"Aduh! Kamu tidak tau bahasa anak sekarang ya? Cem-ceman itu sama dengan pacar, kekasih. Apa kamu belum punya kekasih? Tidak mungkin cewek cantik, kaya, pandai seperti kamu tidak punya kekasih."
"Kakakku punya kekasih, hanya saja dia belum datang. Mungkin kuda putihnya mogok di jalan," Uno tiba-tiba menjawab.
Seketika kedua mata MC itu melihat pada Uno. "Wow! Tampan sekali. Apa kamu adiknya Zia?" tanya pria itu manja pada Uno.
Muka Uno langsung berubah aneh. "Mampus dah! Kenapa dia jadi melihatiku begitu," gerutu Uno, dia malah bersembunyi di belakang Diandra.
"Hei! Kenapa malah bersembunyi?" MC itu menghampiri Uno dan menarik tangan Uno ke tengah-tengah acara. "Pakai sembunyi di belakang gadis cantik itu, memang dia pacar kamu?"
"Kalau memang iya kenapa?"
"Tidak cocok, kamu cocoknya sama aku," celetuknya. Seketika semua yang di acara pesta itu tertawa.
Uno langsung mendekat ke arah Kakaknya, dia sembunyi di belakang kakaknya Zia. "Kak, tolong selamatkan aku." Perasaan Zia seolah tampak senang karena Uno seolah memeluknya.
Ini cari majalah ini Uno. Eh salah, masalah!
"Kalian benaran kakak adik? Kenapa tidak mirip, malah kalian terlihat seperti kekasih saja."
"Enak saja! Dia kakakku."
"Ya sudah, kita lakukan permainan saja. Jika kalian kakak adik kalian akan bisa cocok menjawab pertanyaan aku. Mau tidak?"
__ADS_1
"Boleh," jawab Zia cepat.