
Devon menghampiri Sabinna yang sedang mengiris buah untuk di makan. "Binna." Devon menarik pelan lengan tangan Binna, tapi malah tidak sengaja jarinya terkena pisau dan mengeluarkan darah sedikit.
"Auw! Sakit." Binna memegangi jarinya.
Devon yang tidak sengaja melukai tangan Sabinna, dengan cepat menarik tangan Sabinna dan mengisap darah yang ada di jari Sabinna.
Sabinna diam saja melihat hal itu. "Aku minta maaf sama kamu, Binna. Aku tidak sengaja."
Binna menarik tangannya dengan kesal, dan dia melihat ketus pada Kak Devon. "Kakak itu memang hanya bisa menyakiti aku."
"Aku tidak pernah ingin menyakiti kamu, Binna, aku mencintai kamu, dan berapa kali harus aku jelaskan tentang hal ini. Semua yang kamu lihat aku dan Karla itu hanya ketidaksengajaan. Dia tiba-tiba menciumku, dan aku tidak tau kenapa dia sampai bisa berada di kamar kamu."
"Dia sangat mencintai, Kak Devon, dan dia bilang aku sudah merebut Kak Devon dari dirinya."
Binna berjalan menuju koper bajunya dan dia mengeluarkan sesuatu di sana, sebuah amplop berwarna coklat dan Binna dengan kesal memberikan pada Kak Devon.
"Ini apa?"
"Buka sendiri, aku juga baru tau itu ada di dalam koperku."
Devon segera membuka amplop coklat berukuran sedang, di dalamnya ada beberapa foto keberadaan Devon dengan Karla yang terlihat akrab, bahkan mereka berfoto di dalam kamar di atas ranjang yang jika dilihat dari suasananya itu di kamar cewek. Ya! Itu kamar Karla.
Tidak hanya itu, ada foto Devon yang memeluk leher Devon dan Karla memakai baju yang sexy dan terbuka.
"Apa aku harus percaya dengan semua ucapan Kak Devon kalau Kakak tidak ada apa-apa dengan Karla. Foto-foto ini kalian memang cocok disebut pasangan kekasih." Binna seolah menahan agar air matanya tidak keluar.
"Foto itu tidak seperti yang kamu pikirkan, Binna, aku akui semua foto itu nyata, tapi bukan seperti yang ada di pikiran kamu."
Devon kemudian membaca kertas yang ada di amplop itu. Di sana di tulis jika Binna adalah orang yang sangat jahat karena menyakiti hati Karla, Binna sama sekali tidak punya perasaan. Binna harusnya sadar jika Devon sudah kenal lama dengan Devon, dan pasti tau jika ada perasaan di antara mereka, tapi kenapa dia tetap menerima perjodohan.
Devon meremas seolah ingin menghancurkan kertas itu. Dia tidak menyangka Karla bisa berbuat seperti ini, padahal dia tau Karla gadis yang seperti apa. Devon mencoba menghubungi Karla tapi tidak diangkat.
__ADS_1
"Brengsek! Di mana, dia?"
"Kakak menghubungi siapa? Apa Kakak merindukan kekasih Kakak itu?"
"Cukup, Binna! Aku dan Karla tidak ada hubungan apa-apa. Kenapa susah sekali menjelaskan semua ini sama kamu? Atau jangan-jangan kamu memang tidak mau mendengar penjelasan aku karena kamu memang ingin pernikahan kita segera berakhir, dan kamu membuat kejadian ini sebagai alasannya?"
"Aku sama sekali tidak ingin pernikahan ini berakhir. Aku sudah mulai mau membuka hati untuk Kak Devon. Kalau aku mau pernikahan ini berakhir. Dari awal aku tidak akan meneruskan semua ini."
"Binna." Devon mendekat ke arah Sabinna.
Binna memundurkan tubuhnya ke belakang. "Aku sedang tidak ingin membahas ini dulu, mama akan segera datang." Binna pergi dari dapur dan masuk ke dalam kamar mandi, dia ingin mencuci mukanya.
Pasti pada tau siapa yang sudah memasukkan foto dan surat itu.
Tidak lama Binna keluar dari dalam kamar mandi dan melihat Devon berdiri di depan pintu. Devon menatap Sabinna. Sabinna melengos pergi dari sana. Binna menyiapkan beberapa masakan di atas meja makan.
Dari arah pintu, terdengar suara ketukan, Devon membuka dan itu ternyata mama Devon dan beberapa saudara dari mamanya datang ke sana.
"Ma, aku sudah memasak, tapi masakan biasa saja, ini aku baru belajar memasak dari ibuku, semoga Mama Tia menyukai masakan aku." Binna mengajak Mama Tia dan saudara lainnya duduk di meja makan. Sedangkan Devon hanya berdiri diam di sana.
"Pasti masakan kamu enak. Devon, kamu kenapa berdiri di sana? Ayo kita makan pagi bersama. Ini sarapan pagi pertama kamu dengan masakan buatan istri kamu."
"Ma, apa Karla masih ada di rumah?" Devon bertanya dengan tegas.
Seketika Tia menoleh ke arah Devon. "Karla tadi pagi-pagi sekali sudah terbang ke Belanda. Memangnya dia tidak menghubungi kamu?"
"Aku menghubungi ponselnya tapi tidak di jawab. Bagus kalau dia sudah pergi dari rumah. Aku harap dia tidak akan datang lagi."
"Kamu dan Karla ada apa, Devon? Apa Karla membuat masalah dengan kamu?" Tia melihat putranya kemudian melihat ke arah Sabinna, Sabinna hanya duduk diam.
"Tidak ada apa-apa, Ma."
__ADS_1
"Jangan membohongi mama, Devon. Pasti Karla membuat masalah sama kamu, apa sama Binna?" Tia curiga dengan semua ini.
"Binna, apa Karla membuat masalah sama kamu? Kamu jangan mengambil hati dengan apa yang di lakukan Karla sama Devon, mereka tidak ada apa-apa. Karla memang kadang bersikap berlebihan pada Devon, tapi Devon sama sekali tidak pernah ada perasaan apa-apa dengan Karla." Tangan mama Tia memegang Binna. Binna hanya tersenyum kecil
"Kita lanjutkan makannya saja ya, Ma," pinta Binna.
Mereka makan pagi bersama, Tia juga membawakan banyak sekali buah, kue, dan bahan makanan supaya bisa disimpan. Binna menghabiskan waktu bersaman dengan mama mertuanya dan saudara-saudara lainnya.
Di mansion kakek, Tommy sedang berada di dalam kamar Diandra. Tommy akan mengajak Diandra untuk cek kesehatan.
"Em ... iya, Yah." Diandra tampak bingung di sana.
Tommy yang melihat kebingungan Diandra tampak heran dengan putrinya itu. "Kamu kenapa bingung begitu, Sayang? Apa ada sesuatu yang kamu cari? Biar ayah bantu."
"Tidak ada, Yah."
"Ya sudah ayo turun ke bawah bersama ayah, kita sarapan, lalu kita pergi ke rumah sakit. Tante Mara sebentar lagi akan datang."
Diandra mengangguk dan kemudian keluar dari dalam kamar. Di luar kamar, mereka bertemu dengan Arana yang baru saja keluar dari dalam kamar Uno.
"Arana, ada apa kamu di sini?" tanya Tommy.
"Ini, Tom, aku sedang mencari Uno, tapi dia tidak ada di kamarnya, tadi aku tanya sama pelayan, Uno tadi tidak ada juga di ruang gym. Ke mana dia pagi-pagi begini?"
"Mungkin di jogging lari pagi di taman."
"Kalau jogging pasti aku tau. Aku tadi mencarinya karena mau minta tolong untuk membetulkan motor milikku yang mau aku pakai ke luar sebentar."
"Makannya, kamu minta motor baru sama Juna. Jangan motor itu terus kamu pakai, dan lagi ada mobil, kenapa tidak minta antar supir?"
"Ah kamu, aku suka pagi-pagi pergi naik motor, udaranya sangat segar, dan motor itu aku sayang sekali. Itu pemberian Juna saat aku mengidam waktu hamil Binna.
__ADS_1
Hayooo Uno di mana?